Sidang Korupsi Nyaris Dikorup


 Ada Markus di sidang korupsi. Diungkap Ketua Majelis Hakim, Muhammad Damis, di sidang korupsi Bansos, dengan terdakwa eks Mensos Juliari Batubara, Senin (31/5/21). Markus-nya mengaku disuruh hakim, minta suap ke terdakwa.

Itu diungkap Muhammad Damis di awal sidang. Beberapa saat setelah sidang dibuka untuk umum.

“Jadi, dari awal saya sampaikan, bahwa bagi saya yang beragama Islam, penyuap dan pemberi suap, di hari kiamat tempatnya hanya di neraka," tegas Damis.

Suatu pembukaan yang tidak biasa. Aneh dan mengejutkan penonton sidang.

Ternyata, ya… itu tadi. Ada Markus. Hakim Damis menyebutnya, makelar perkara. Yang di kalangan wartawan bidang hukum, disebut Markus (Makelar Kasus).

Damis menegaskan, ia (dan anggota majelis hakim) tidak pernah meminta sesuatu, baik ke penasihat hukum terdakwa, maupun jaksa penuntut umum. 

Tapi, hakim mnegindikasikan, ada pihak-pihak yang berusaha 'bermain' dalam perkara ini. Mengatas-namakan hakim, meminta suap ke terdakwa

"Saya ingatkan sekali lagi, bahwa tidak ada dalam majelis ini, meminta-minta sesuatu kepada pihak-pihak yang berperkara," tegasnya.

Luar biasa ‘kotor’. Di sidang yang jadi perhatian rakyat Indonesia itu, masih ada yang berani jadi Markus. Berani kotor.

Mendengar itu, terdakwa Juliari Batubara dan penasihat hukumnya, Maqdir Ismail, hanya manggut-manggut. Mungkin tanda: Paham.

Baru-lah sidang dimulai. Dengan pemeriksaan saksi-saksi.

Ternyata, materi sidang lebih seru lagi. Dari korupsi, sampai foya foya dengan isteri muda. Banyak rahasia memalukan, terungkap di sidang tersebut.

Awalnya, sidang berjalan biasa saja. Menjemukan. Saksi-saksi yang dihadirkan, antara lain, para eks pejabat Kemensos juga, yang dulunya bekerjasama dengan Mensos Juliari. 

Mereka: dua mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kemensos, Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono. Yang juga terdakwa dalam kasus tersebut, tapi diadili secara terpisah.

Penasihat hukum Juliari, Maqdir Ismail, menyatakan, akan mendalami aliran uang suap (dari dana Bansos) yang didakwakan kepada kliennya. Sedangkan, menurutnya, penerima suap (Rp32,48 miliar) itu adalah Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono. Yang mengaku, disuruh Juliari.

Maqdir menyatakan, ada upaya pihak-pihak yang sengaja membuang kesalahan, lalu diarahkan kepada kliennya. Yakni, pencatutan nama. Atau mengaku-aku disuruh. Mirip di pembukaan sidang tadi: Markus.

Maqdir mengatakan: "Ada kesengajaan MJS (Matheus Joko Santoso) dan AW (Adi Wahyono) mencatut nama JPB (Juliari Peter Batubara) untuk meminta uang kepada vendor.” 

Dilanjut: “Di BAP (Berita Acara Pemeriksaan - polisi) mereka mengatakan, uang yang mereka terima, untuk kepentingan JPB.” 

Lantas: “Dipastikan, keterangan kedua saksi ini, bukan keterangan saksi, yang dalam literatur, disebut saksi mahkota. Bukan. Melainkan, keterangan saksi durhaka," kata Maqdir.

‘Mahkota’ dan ‘durhaka’. Diksi pilihan Maqdir kedengaran lucu, tapi itu serius.

Dilanjut: "Keterangan yang mereka (MJS dan AW) sampaikan adalah keterangan saksi jahat. Karena, apa yang mereka sampaikan adalah bentuk  upaya mereka untuk melibatkan orang lain, sebab dengan begitu mereka berharap mendapat keringanan hukuman."

Akhirnya, Maqdir mengungkap soal isteri muda.

"Khusus terhadap MJS, bukan orang yang layak dipercaya. Karena dengan serakah menggunakan jarahannya, yang dikatakan seolah-olah untuk kepentingan JPB, telah ia gunakan bersenang-senang dengan Daning Saraswati,” ungkapnya.

Daning Saraswati, dilanjut Maqdir: “Yang dikatakan oleh HVS (Harry Van Sidabukke, dalam kasus itu, sudah divonis 4 tahun penjara) sesuai pengakuan MJS, sebagai istri mudanya," papar Maqdir.

Lalu, rentetan Daning Saraswati, panjang. Maqdir menyebut, Matheus Joko menggunakan uang fee (korupsi) yang ditarik dari vendor untuk kepentingan modal Daning Saraswati sebesar Rp3 miliar.

"Uang itu juga digunakan untuk membeli rumah bersama Daning, beli mobil untuk Daning 2 unit dan untuk dirinya sendiri 1 unit," tegas Maqdir.

"MJS membawa semua uang yang ia minta dari vendor, ke rumahnya bersama Daning Saraswati di Komplek Yara E5-7 Jakarta Gardenia City, Cakung, Jakarta Timur. Tentu saja, ada uang yang ia bawa pulang keBandung, rumah istri tuanya," ungkapnya.

Ungkapan lengkap. Sampai lokasi komplek, dan nomor rumahnya.

Begitulah. Kejahatan manusia, terungkap di pesidangan. Di gerombolan pelaku, terjadi perang sengit. Gigit-menggigit. 

Di uraian Maqdir itu, Matheus Joko Santoso menggigit Juliari Batubara. Berharap, keringanan hukuman. Sebaliknya, uraian tersebut suatu gigitan keras terhadap Matheus Joko. 

Bagaimana hasilnya? Terserah hakim. Yang nyaris saja digigit Markus. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.