Jangan Mudik, Sayang...

 

Viral video, pemudik dihadang tank. Di pintu Jakarta, Jalan Narogong, Bogor. Segera, Kapendam Jaya, Kolonel Arh Herwin BS klarifikasi: "Bohong. Yang benar, TNI latihan." Sejak Kamis (6/5/21). Kebetulan, tepat di larangan mudik 6 - 17 Mei 2021.

Memang tidak rasional, pemudik dihadang tank. Lebay. Tapi di era medsos, now, warganet suka mem-plesetkan informasi. Jadi-lah hoaks.

Yang benar, pemudik mirip tikus. Aparat mirip kucing. Mereka main kucing-tikusan. Agar pemudik lolos dari penyekatan petugas. 

Bagaimana caranya? "Mereka jalan kaki," kata Eni (40) penjaga warung di Pantura kepada wartawan, Jumat (7/5/21). “Jalan kaki, sampai dekat penjagaan petugas. Terus, mereka lanjut naik angkot,” tambahnya.

Meski Eni lulusan SMP, tapi ia suka kepo. Tanya-tanya, menyelidik pengunjung warung. Kayak periset. Kebetulan, warung dia dekat pos penyekat pemudik.

Hasil ‘riset’ Eni, ada dua ‘teknik’ pemudik jalan kaki. 1) Mengendap. 2) Ndesani (mirip orang desa).

Nomor satu: Pemudik mencari tahu titik penjagaan (pos penyekatan pemudik). Setelah tahu, ia naik angkot, turun sebelum pos penjagaan. Lalu jalan kaki, melewati pos. Bisa sendirian, bisa sekeluarga. Tapi pencar.

Nomor dua, terkait nomor satu: Pakaian ala kadarnya, mirip orang desa. Dan, tidak membawa banggelan (tas besar). Karena, pemudik identik dengan baju baru dan banggelan.

Lolos-lah mereka. Sluman-slumun-slonong. Jalan menjauhi pos jaga. “Terus, mereka naik angkot lagi. Nyambung-nyambung sampai Jawa,” kata Eni.

Sudah-lah.... Mudik itu rindu kampung. Bukan hanya pada orang Jawa. Melainkan universal. Di negara-negara Barat disebut homesickness.

Psikoanalis Inggris, Prof John Bowlby (1907 - 1990) dalam bukunya, Attachments and Disadvantages (New York, 1969) memaparkan 4 tahapan psikologi manusia tentang kedekatan. Sejak bayi, sampai akhir masa kanak-kanak. 

Itulah dasar homesickness. Terkait masa bayi.

Homesickness, kerinduan manusia terhadap ortu, saudara, kerabat, sahabat. Juga, suasana alam di sekitar orang-orang terdekat itu. Di istilah tersebut ada kata ‘sick’. Berarti ‘menyakitkan’ (jika tidak kesampaian). Sakit psikologis.

Prof Bowlby menganalisis homesickness dari ilmu kesehatan mental. Intinya, obat homesickness adalah ketemu ‘orang-orang zaman dulu’. Di masa lalu. Terutama ortu.

Karena manusia suka mengundur waktu. Flashback. Dengan ketemu 'orang dulu', seolah mengundur waktu. Sejenak saja. Walau si 'orang dulu', pun sudah menua.

Jauh setelah Prof Bowlby meninggal, kehidupan sudah modern. Di zaman now, bisa saja tidak ketemu fisik. Ada video call. Zoom meet. Bicara tatap muka, saling melihat wajah. 

Tapi ada faktor yang kurang: Suasana alam sekitar. Dalam imajinasi ‘masa lalu’. 

Itu sebabnya, pemudik yang ketemu keluarga di kampung, suka berkata begini: “Wuih… tegalan ngarep omah, wis dadi pabrik, yo...” Dan, terbersit secercah pilu.

Film “Brooklyn” (2015) ilustrasi mudik yang indah. Film disutradarai John Crowley, diproduseri Finola Dwyer dan Amanda Pose. Boxoffice di Amerika tahun itu. 

Film, setting waktu 1951. Di Irlandia. Gadis cantik Eilis Lacey (22) di Desa Enniscorthy, County Wexford, Irlandia. Tinggal bersama ibunya (Jane Brennan) dan kakaknya, Rose (Fiona Glascott). 

Eilis bekerja, hanya di akhir pekan, di toko milik Miss Kelly yang judes. Dijuluki "Kelly yang mbencekno”. Eilis jadi bowring.

Rose, kakak Eilis, menulis surat kepada Pastur Flood (asal Irlandia) yang mukim di Brooklyn, Amerika. Minta tolong, mengkondisikan agar Eilis pergi ke Amerika demi masa depan lebih baik. 

Pastor menyanggupi. Eilis berangkat. Naik kapal. Itulah pertama dia meninggalkan rumah. Meninggalkan negeri.

Dibantu Pastor, Eilis tinggal di sebuah kos, khusus wanita, di Brooklyn. Dapat kerja, penjaga toserba.

Surat-suratan Eilis dengan kakaknya, lancar. Diselipkan foto-foto. Maka, homesickness menyergap. Eilis jadi rindu kampung.

Penulis cerita mengurai begitu indah. Mencengkeram kalbu. Salah satu keunikan manusia: Ingin pergi, tapi juga ingin pulang. Kontradiksi dalam kesatuan. Bertolak-belakang tapi menyatu.

Lalu pacaran. Eilis ketemu Tony Fiorello di suatu pesta. Pemuda Amerika yang agresif. Flamboyan sekaligus romantis.

Mereka saling jatuh cinta. Pada pandangan pertama. Cieee...

Segalanya jadi indah. Homesickness pun sirna. Pergi jauh. Berganti bunga-bunga cinta.

Saat asmara membara, datang-lah kabar duka. Dari Irlandia. Pastur Flood, tergesa mendatangi kosan Eilis, memberitahu: Rose baru saja meninggal. Mak jleb... syedih.

Langsung, Eilis menemui Tony, hendak pamitan. 

Di sinilah perasaan penonton diaduk. Asmara ceria - duka nelangsa - homesickness muncul lagi.

Tony tak bisa ikut ke Irlandia. Ada kerjaan. Ia mengusulkan, baiknya mereka menikah dulu, sebelum Eilis berangkat. Cukup, di depan pastur. Biar sah. Mengikat.

Ditimbang-timbang, Eilis menolak. Alasannya: Nanti saja, bila kukembali, ke sini lagi.

Konflik batin mereka bergulat. Tony pikir: "Bakal ilang cewek ayu ini." Pikir Eilis: "Iya, kalo aku balik sini, lha... kalo nggak?"

Masa depan memang tidak pernah pasti. Di ketidak-pastian itu, mereka berpisah. 

Usai pemakaman Rose, Eilis di simpang-jalan. Antara desa yang indah, dengan Brooklyn yang gemerlap. Antara nyaman di 'home', atau bertualang di 'sick'.

Tak kan lupa, pada Tony. Yang Eilis bayangkan, Tony sedang memandang langit. Biru cerah di Brooklyn. Bintang-gemintang di Irlandia. Tapi, langit yang sama. Bernaung di langit yang sama.

Eilis, langsung dapat kerjaan. Bidang pembukuan, menggantikan almarhumah Rose.

Di kantor, ada Jim Farrell, sarjana yang mapan. Agak tua, single. Sopan sedikit congkak, khas Eropa. Tapi mapan. Eilis terpikat. Farrell pun mendekat. Pedekate, maksudnya.

Di desa (Eropa 1951), pedekate-an begitu, cepat tersebar. Kerabat - sahabat Eilis mendukung, agar jadian. Berharap, Eilis jangan balik Amerika.

Tapi, muncul perusak suasana. Miss Kelly yang mbencekno. Menyebar isu, bahwa Eilis sebenarnya sudah menikah dengan pemuda Amerika. Bahkan punya anak. Ditinggal di Amerika.

Sebab, (oh... ternyata) Miss Mbencekno suka pada Farrell. Sebaliknya, Farrell ogah.

Pacaran Eilis - Farrell, tergoyang. Galau. Walau, Farrell kemudian menegaskan: "Apa pun, ai lope yu."

Eilis mikir. Keras. Akhirnya ia sujud ke haribaan ibunda. Nangis... Mohon pamit, berangkat ke Brooklyn. Naik kapal lagi.... Bawa banggelan lagi.

Di langit yang sama, kami bernaung. Tapi, kalau tidak di ranjang yang sama, rasanya kurang gaung.

Brooklyn (2015) menggambarkan, homesickness memang menyakitkan. Meremas sanubari. Tapi, lebih menyakitkan lagi, jika ketularan Corona. Menggencet paru.

Mangkanya, jangan mudik. Ada Cak Tony, loh. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.