Divaksin, Mati Lagi

 

Sejuta tervaksin selamat, tak cukup. Dua kematian terlalu banyak. Trio Fauqi Firdaus (22) warga Jakarta meninggal, Rabu (5/5/21) sehari setelah divaksin. Disusul, guru SMPN Baubau, Sulawesi Tenggara, La Hinu (58) meninggal Kamis (20/5/21) enam jam setelah divaksin.

Dua kasus itu belum valid, kematian akibat vaksinasi. Belum diteliti. Mereka sudah dimakamkan. Tidak dibedah forensik. Sedangkan, penyebab kematian hanya diketahui dari bedah forensik.

Seumpama dibedah, pun berbahaya. Gambling keras. Karena, seandainya terbukti benar akibat vaksin, bisa mengacaukan Indonesia, bahkan dunia. Orang pasti takut divaksin.

Sebaliknya, dibuat ‘mengambang’ begini, bisa bergulir jadi rumor liar. Empuk, digoreng di medsos. Mang-galau-kan juga.

Ya sudah… dibiarkan saja. Anggap-lah tidak ada.

Soal, Trio Fauqi Anda sudah tahu. Ia divaksin AstraZeneca (belum diungkap batch-nya) Selasa (4/5/21) di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Sekitar 21 jam kemudian ia meninggal.

Soal, La Hinu, diceritakan anak sulungnya, Rahmat Hidayat (35). Hinu guru Kewarganegaraan di SMPN 1 Baubau. “Bapak saya punya riwayat diabetes. Sudah 20 tahun. Masih rutin kontrol,” kata Rahmat ke wartawan, Sabtu (22/5/21).

"Sebelum divaksin, Bapak sehat. Kami sudah pesan, Bapak tidak bisa divaksinasi, karena diabetes itu," katanya.

Kamis (20/5/21) pukul 07.30 Hinu berangkat kerja, mengajar. Perjalanan ke sekolah hanya lima menit.

Tahu-tahu, Hinu pulang lebih cepat dari biasa. Pukul 11.30 sudah tiba di rumah. Dalam kondisi limbung. Katanya, habis divaksin di sekolah. Keluarga panik.

Sekitar sejam kemudian, Hinu sudah dibawa keluarga ke RS Siloam Baubau. Tak lama kemudian, 13.30 Hinu pingsan. Tak lama beikutnya, meninggal. Jika dihitung, titik meninggalnya ini, enam jam pasca vaksin.

Pihak keluarga waktu itu belum mencari tahu, bagaimana prosesnya Hinu divaksin. Mestinya, Hinu menolak divaksin.

Setelah pemakaman, keluarga baru tahu, Hinu sudah menyatakan, menolak divaksin. Tapi dipaksa (secara halus).

"Tim vaksin dari Puskesmas Wolio,” ujar Rahmat. Hinu sudah menolak. Tapi, tim menyatakan, diabetes tidak masalah divaksin. Sebelumnya, juga ada pengidap diabetes divaksin, gak ada masalah.

Hinu masih membantah, bahwa hari itu adalah jadwal ia kontrol gula darah. Yang rencananya akan ia lakukan seusai mengajar. 

Tapi, begitu-lah. Divaksin. Pusing, limbung, Hinu pulang.

Lebih miris lagi, dokter langganan Hinu, dr Lukman, adalah Jubir Satgas Covid-19 Baubau. Artinya, dr Lukman tahu riwayat medis Hinu. Tapi, pelaksana vaksinasi, kan petugas garis depan. Tidak mungkin tanya-tanya dulu ke pak Jubir.

Setelah Hinu meninggal, beredar isu bahwa Hinu meninggal karena asma. “Bohong itu. Entah siapa penyebarnya. Bapak saya tidak pernah asma,” ujar Rahmat.

Dari surat bukti vaksinasi, Hinu divaksin CoronaVac. Nomor batch 24002721. Yang dua hari lalu dinyatakan pemerintah ditarik dari peredaran adalah AstraZeneca, batch CTMAV547. 

Dua kematian, terlalu banyak. Dikutip dari kemkes.go.id, sasaran vaksinasi Indonesia 181.554.465 penduduk berumur di atas 18 tahun. Agar terjadi kekebalan kelompok (herd immunity).

Vaksinasi dimulai 13 Januari 2021. Hingga Sabtu (22/5/21) sudah 14.815.666 orang (36,40% dari sasaran) divaksin tahap pertama. Termasuk Trio Fauqi dan La Hinu.

Sedangkan, vaksin tahap kedua sudah diberikan kepada 9.825.499 orang (24,16%).

Berdasar PerMenkes No. 84 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19, disebutkan, ada kelompok prioritas vaksinasi. Pertama, tenaga medis, Polri, TNI, petugas publik. sedangkan guru seperti Hinu, masuk kelompok ke tiga.

Di Hongkong, juga dua orang mati, setelah divaksin.

Dikutip dari CNBC, 9 Maret 2021, tervaksin yang mati pertama, seorang pria lansia, tanpa riwayat penyakit kronis. Disuntik pertengahan Februari 2021, meninggal dua pekan kemudian.

Kedua, wanita usia 55 meninggal 3 Maret 2021, sehari setelah disuntik. Kedua jenazah diotopsi otoritas setempat. Hasilnya belum diumumkan.

Seumpama, hasil otopsi menyebutkan, kematian akibat vaksin, pastinya bakal heboh. Orang bakal ngeri, divaksin. Dampaknya, Corona terus menggila.

Sekadar iliustrasi, dikutip dari Reuters, Sabtu (22/5/21) kondisi di India sangat parah. Jumlah tewas akibat Corona pada pekan lalu, rerata 4.077 orang per hari. 

Mayat gelimpangan di jalanan. Makam penuh, tempat pembakaran jenazah, antre. Saking kewalahan, mayat dibuang begitu saja. Gelimpangan.

Malah, ratusan mayat mengapung di Sungai Gangga. Yang selama ini disucikan warga sana.

Divaksin bisa mati, dibiarkan kena Corona, mati juga. Ya… mending divaksin. Probabilitas kematiannya kecil. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.