Boikot Indomaret, Proletar vs Borju

 

Boikot Indomaret,” kata Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Pastinya, nyeberang ke Alfamart. Sebab, periset AC Nielsen, per Maret 2019: Pangsa ritel Indonesia 87,4 persen milik dua raksasa itu. Arti boikot, laba ritel pindah (sementara) dari taipan, ke taipan. Gak seru.

Gak seru karena, akar masalahnya lemah. Awalnya, sopir Indomaret Jakarta bernama Anwar Bessy alias Ambon, protes pada 2020. 

Penyebabnya, pada jelang lebaran tahun lalu itu ia terima THR, tapi katanya, tak mestinya. Ia terima sebulan gaji. Mestinya dua bulan.

Marah, ia protes. Merusak dinding toko Indomaret (berbahan gypsum), hingga jebol. Ia dipolisikan. Perkaranya kini diproses di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Anwar Bessy dikenakan tahanan rumah, tapi masih dipekerjakan Indomaret. Karena diproses sidang, ia diskors sampai putusan pengadilan.

Presiden KSPI, Said Iqbal menilai, itu pelanggaran serius oleh manajemen PT Indomarco Prismatama.

"Serikat buruh berpendapat, manajemen membayar THR 2020 tidak sesuai UU No 13 Tahun 2003 dan PP No 78 Tahun 2015," katanya.

Iqbal merinci, dari karyawan Indomaret ia ketahui, masa kerja tujuh tahun ke atas, besaran THR dua kali gaji. Sedangkan, Anwar Bessy karyawan lebih dari tujuh tahun, dapat satu kali gaji. Karena pendemi 2020.

Maka, menurutnya, pihak Indomaret melanggar hukum. “Penggelapan upah buruh, bentuk THR,’ katanya.

Perusakan properti kantor oleh Anwar Bessy, menurut Iqbal, tidak seberapa. “Sekitar 20 Cm gypsum rusak, akibat tindakan spontan Anwar Bessy yang marah,” katanya.

Ia perkirakan, nilai kerusakan gypsum Rp 50 ribu. “Tidak sebanding dengan kekayaan pemilik Indomaret. Bahkan ada informasi, dinding gypsum kini sudah tidak dipakai,” ujarnya.

Dari pernyataan Iqbal, ada dua hal: Indomaret membayar THR sebulan gaji, melanggar perjanjian kerja. Juga, kerusakan gypsum Rp 50 ribu, tak sebanding dengan kekayaan bos Indomaret.

Meski lemah secara hukum, dibela Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Ia meminta, konflik itu tidak dibawa ke ranah pidana, tetapi cukup dilakukan ganti rugi. Maksudnya, Anwar Bessy mengganti kerusakan gypsum, saja.

Sedangkan, Iqbal menyerukan boikot Indomaret. Artinya, buruh anggotanya, tidak membeli di Indomaret. “Mulai pekan ini,” ujarnya.

KSPI juga akan membawa ke sidang ILO (International Labour Organization) di Jenewa, Swiss, Juni 2021. “Supaya mendapat dukungan luas,” katanya.

Sejak zaman kuda gigit besi (maksudnya: delman), buruh selalu berkonflik lawan juragan. Mungkin sampai hari kiamat.

Filsuf Jerman, Karl Heinrich Marx (1818 - 1883) tokoh pertama, perumus teori konflik proletariat (buruh) versus borjuasi (majikan). Teori itu relevan hingga kini.

Dalam bukunya “The Communist Manifesto" (1848) dan “Das Kapital” (1867) Marx menyebut: 

Bahwa di masyarakat selalu terjadi konflik. Disebut Teori Konflik. Intinya, masyarakat (di mana pun dan kapan pun) selalu berkonflik. Akibat persaingan memperebutkan sumber daya yang terbatas.

Gampangnya, bumi menyediakan, katakanlah maksimal100 makanan. Sedangkan, jumlah penghuninya terus bertambah. Maka, berebut.

Menurut Teori Konflik, orang kaya pasti berkuasa. Mereka menggengam (harta) dengan segala cara. Kalau perlu, menekan orang miskin.

Premis dasarnya, bahwa individu dan kelompok, baik kaya atau miskin, bekerja memaksimalkan kekayaan dan kekuasaan mereka sendiri. Pertandingan bakal dimenangkan si kaya. So pasti. Hanya orang kaya bodoh yang kalah melawan si miskin.

Dari situlah terbentuk kelas: Kaya dan miskin. Si miskin berupaya mengambil harta si kaya (dengan cara bekerja). Si kaya memberikan (sebagai gaji) kepada si miskin. 

Saking kasarnya ulasan Marx, sampai semua buku karyanya dilarang beredar di Indonesia pada zaman Orde Baru. Kata orang Jawa: Saru. Walaupun, itulah kenyataan dunia.

Marx berteori, kelompok borju jumlahnya sedikit (minoritas). di semua pertandingan, jumlah pemenang pasti sedikit. Kecuali, pesertanya cuma satu-dua orang. 

Kelompok minoritas borju, akan menggunakan pengaruhnya, segala kekuatan untuk menindas proletar. Karena proletar selalu berusaha minta lebih. 

Sudah diberi THR satu, minta dua. Sudah diberi dua, minta: Dua, plus cuti. Sudah diberi dua dan cuti, minta jaminan kesehatan. Sudah diberi itu semua, masih utang karena anaknya sakit.

Di posisi sebaliknya, tentu borju tidak diam. Dengan segala cara, menekan, kalau perlu menindas. Supaya, permintaat proletar tidak terus naik. Dan - ini yang penting - diikuti seluruh buruh. Akibatnya bisnis bisa bangkrut.

Di kasus Indomaret, jelas masuk teori konflik. Pada sisi proletar tampak lemah. Karena, sudah diberi THR, masih juga merusak properti tempat kerja. 

Sedangkan, perbandingan nilai kerusakan (akibat ngamuk) dikomparasi dengan harta kekayaan borju, tidak relevan. Tidak ada hubungan kausalitas. 

Beda, misalnya, kerusakan properti akibat tidak sengaja. Ini bisa dihitung nilai. Tapi, akibat perlawanan, jika dibiarkan, bisa menimbulkan preseden buruk. 

Maka, lembaga buruh mengobarkan boikot, tetap akan dikalkulasi publik. Antara kesalahan pegawai, dengan kebutuhan orang berbelanja. 

Proletar memang harus melawan borju. Karena, hanya perlawanan yang mereka punya. Tapi, mestinya perlawanan yang lebih berbobot daripada sekadar itu. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.