Bilang Cinta, Tapi Membunuh

 

Tiga kekejaman pria ke pasangannya, diberitakan kemarin. Kusnaedi Jaelani (60) tusuk mati isteri, Imas Mulyani (40) di Cianjur. Cewek F (20) digorok kencannya, Heru (28) di Kendal. Cowok hajar tunangan di Pasuruan. Mudahnya bilang cinta, mudahnya aniaya.

Dimulai dari pasangan tua dulu. Kusnaedi tusuk isteri, kena rusuk kiri, kehabisan darah, tewas di tempat, Senin (24/5/21) dini hari. Di Kampung Pasir Waru, Kecamatan Haurwangi, Cianjur, Jawa Barat.

Kusneadi pengangguran sejak muda. Isterinya, Imas PNS bidan. Mereka beranak dua. Imas buka praktik kebidanan di sebelah rumah. Mereka sudah pisah rumah setahun.

“Penyebab pisah, karena Kusnaedi malas kerja,” kata Ahmad Saputra (51), paman korban, kepada pers di lokasi kejadian, Selasa (25/5/21). “Isteri gugat cerai, suami tak terima.”

Senin, pagi buta, mendadak Kusnaedi muncul mendatangi Imas yang praktik. Tanpa bicara, ia menusuk isterinya. Satu tusukan belati, masuk ke rusuk kiri Imas. Tusukan dicabut, darah menyembur.

Imas roboh, Kusnaedi lari. Karena lokasi tempat praktik bidan, ada beberapa perawat wanita, langsung menolong Imas. 

Tapi, darah bukan mengucur, melainkan terus menyembur. Imas tewas beberapa menit kemudian.

Kusnaedi dikejar warga. Ternyata ia menyerahkan diri ke Mapolsek Bojongpicung.

Kapolres Cianjur, AKBP Moch Rifai mengatakan, pelaku sedang diperiksa. "Diamankan di Polsek Bojongpicung,” ujarnya. Bisa dikenakan pasal 340 KUHP, pembunuhan berencana. Ancaman hukuman mati.

Pindah ke Kendal, Jawa Tengah. "Saya kenal Heru 6 bulan. Kami janjian ketemu Minggu (23/5/21) malam di Alfamart, Sumberejo," ujar cewek F kepada wartawan di RSUD Kendal, Selasa (25/5/2021).

F bawa motor. Heru nyeker. Ketemu di Alfa. Heru pinjam HP F untuk, katanya, beli HP via online. Setelah pencet-pencet HP, kata Heru lagi, dapat. Tapi barang harus diambil di Kecamatan Boja.

Berangkat-lah mereka. Heru nyetir, F dibonceng. Ternyata arah motor ke Kecamatan Limbangan, masuk hotel. Kata Heru, barang akan dikirim ke situ pukul 00.00. F menurut saja.

"Di kamar, saya main HP. Heru ngajak hubungan badan. Saya tolak. Dia maksa, saya tolak. Dia diam saja. Terus ngajak pulang," cerita F.

Perjalanan tiba di depan sebuah masjid di Desa Kertosari, Kecamatan Singorojo, Heru menghentikan motor. Menganjurkan F melepaskan perhiasan dan HP, disimpan di bagasi motor. 

“Katanya, akan melewati hutan. Takut dibegal,” kata F. Dia ikuti saja. Lalu melaju lagi.

Tiba di kawasan hutan, sekitar pukul 01.00 Senin (24/5/21) motor berhenti lagi. Heru kencing pinggir jalan. F menunggu dudukdi motor.

Heru balik ke motor, membekap F. Langsung menggorok F, yang berontak melawan. Gorokan kena, menyerempet leher, darah menyembur. F jatuh terlempar. “Saya diam menahan sakit, pura-pura mati,” kata F. 

Heru kabur membawa motor. F ditolong warga dilarikan ke RS.

Kasat Reskrim Polres Kendal, AKP Tri Agung Suryomicho, mengatakan polisi mengejar pelaku. "Kami sudah kantongi identitasnya," ujarnya.

Di Pasuruan, Jatim, beredar video durasi 30 detik, dari CCTV cowok menghajar cewek. Ternyata itu di rumah makan cepat saji di Jalan Sudirman, Pasuruan.

Karyawan rumah makan tersebut kepada wartawan membenarkan, penganiayaan itu terjadi Minggu (23/5/21) pukul 22.30. "Mereka tunangan. Cowokya marah, mengira si cewek selingkuh," ujar si karyawan.

Tiga kasus itu mirip. Agresi pria ke pasangannya. Dua bermotif harta, satu cemburu. Tapi ketiganya terkait asmara.

Prof Dr Christin L. Munsch, guru besar sosiologi University of Connecticut, Amerika, menulis buku "Uang, Maskulinitas, dan Perselingkuhan Perkawinan".

Itu hasil riset di Amerika 2001 - 2011. Terhadap 1.000 pasangan (suami-isteri dan bukan) usia 18 sampai 32 tahun. Dipublikasikan American Sociological Review, Februari 2012. Dinyatakan bahwa:

Individu yang berpenghasilan lebih kecil (dibanding pasangan), atau tidak berpenghasilan sama sekali, ternyata cenderung selingkuh. 

Artinya, jika wanita berpenghasilan lebih kecil banding pasangan, cenderung selingkuh. Begitu pula sebaliknya. 

Ia mengatakan: “Dari perspektif rasional, kami berpikir: Mengapa saya mengigit tangan orang yang memberi saya makan?” Pernyataan khas Barat, yang mungkin membayangkan anjing peliharaan, tidak mungkin menggigit majikan.

Penelitian Munsch mengukur perbandingan penghasilan antar individu di pasangan. Penghasilan keduanya digabungkan, jadi 100 persen.

Ditemukan, jika pria berkontribusi 70 persen ke atas (berarti wanita 30 persen), maka kecil kemungkinan selingkuh. Diyakini tidak selingkuh. Itulah (70%) titik equilibrium.

Kalau pria berkontribusi di bawah 70 persen, maka kemungkinan selingkuh. Kemungkinan selingkuh 30 persen. Angka yang cukup besar.

Sebaliknya, jika wanita berkontribusi 70 persen ke atas, juga kecil kemungkinan selingkuh. Tapi, kalau di bawah 70 persen, apalagi sampai nol (ibu rumah tangga murni) ada kemungkinan selingkuh. Hanya 4 persen.

Intinya, semakin rendah kontribusi keuangan untuk hidup bersama, semakin tinggi kemungkinan selingkuh. 

Hasil riset ini mengejutkan Prof Munsch. Seolah un-logic.

Tapi, hasil riset itu juga menemukan jawaban atas keheranan Munsch. Begini:

Munsch: “Baik pria, maupun wanita, membenci ketidaksetaraan dalam hubungan mereka.” Artinya, pria-wanita sama-sama menuntut kesetaraan dalam kontribusi keuangan bersama.

Siapa yang berkontribusi kecil (apalagi nol), merasa jadi pecundang. Akibatnya frustrasi. Akhirnya (kemungkinan) selingkuh.

Hasil riset Prof Munsch itu, sama sekali tidak bisa diterapkan di Indonesia. Karena, kondisi sosiologis di sini kebalikan dengan di Amerika pada saat penelitian itu (2001 - 2011).

Buktinya, tiga kasus di atas. Kusnaedi pengangguran, diceraikan, malah membunuh isterinya. Tentu, maunya bergantung makan pada isteri. Heru, malah maunya meniduri, sambil merampok F.

Jadi, kualitas moral pria Indonesia lebih rendah dibanding Amerika (atas dasar riset Prof Munsch). Adagiumnya: “Kalau bisa morotin, mengapa harus memberi?” (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.