Radikalisme di Pelni?

 

Kapal Pelni

Radikalisme–terorisme masih ramai di Jakarta, Jumat (9/4/2021). Direksi PT Pelni membatalkan ceramah Ramadhan, lalu mencopot pejabatnya penggelar acara itu. Kali ini bukan latah ‘musim teroris’, kayaknya serius - ciyus.

Radikalisme-terorisme di Indonesia, unik. Timbul – tenggelam. Setiap bom meledak, timbul. Ramai orang bicara terorisme. Kemudian tenggelam. Baru-lah timbul, kalau ada bom lagi.

Juga, muncul pertanyaan: Apa definisi radikalisme? Apa kaitan dengan terorisme? Masak, radikal berarti teroris?

Ketua Umum PBNU. KH Said Aqil Siradj: “Radikalisme selangkah sebelum terorisme. Orang radikal, selangkah lagi jadi teroris,” katanya di Webinar “Mencegah Radikalisme & Terorisme”, Selasa (30/3/2021). Itu ‘masih hangat’ bom bunuhdiri di Makassar, Minggu (28/3/2021) pagi.

Said Aqil: "Mohon maaf, saya mengatakan bukan PKI, bahaya laten kita, tapi radikalisme, terorisme. Yang selalu mengancam kita sekarang ini.”

Audience mendengarkan, manggut-manggut. Manthuk-manthuk. Di rumah masing-masing (karena Webinar). Esoknya, Rabu (31/3/2021) sore, Zakiah Aini serang Mabes Polri, ditembak mati.

Mungkin, karena tenggang waktu berdekatan, antara bom Makassar dengan penyerangan Mabes Polri, sehingga topik terorisme trending agak lama.

Mundur jauh, Sabtu (17/11/2018) Badan Intelijen Negara (BIN) merilis temuan. Ada 100 masjid di Jakarta, gabungan milik kementerian, lembaga, dan BUMN, diteliti. Hasilnya, 41 terpapar paham radikal.

Pengumuman BIN itu bukan latah. Karena, bom bunuhdiri di tiga gereja di Surabaya, terjadi Minggu pagi, 13 Mei 2018. Atau tenggang 6 bulan dengan riset BIN itu. Tidak terlalu latah, tepatnya.

Staf Khusus Kepala BIN, Arief Tugiman, dalam diskusi (juga) 'Peran Ormas-ormas Islam dalam NKRI' di Jakarta, Sabtu (17/11/2018) mengatakan, begini:

"Berdasarkan pemetaan dari kita, dari 100 masjid di kementerian, lembaga, dan BUMN, ada 43 masjid yang terindikasi terpapar paham radikal. Yaitu 11 masjid di kementerian, 11 masjid di lembaga, dan 21 masjid di BUMN.” Berarti, 43 persen.

Juga, tujuh perguruan tinggi negeri (PTN) disebut BIN terpapar paham radikalisme. BIN juga memaparkan prosentase provinsi yang terpapar radikalisme.

Temuan BIN itu diberitakan luas. Di media massa dan medsos. Ramai. Semua pembacanya manggut-manggut di rumah masing-masing. Manthuk-manthuk.

Eee… baru Jumat (9/4/2021) kemarin Direksi PT Pelni, dalam pernyataan sikap mengakui, ada pejabat di perusahaan BUMN itu yang diduga radikal. Atau, setelah 2 tahun empat bulan, pasca temuan BIN terkait itu. Atau, BIN terbukti benar, sekian tahun kemudian.

Di Pelni, ceritanya, akan menggelar ceramah Ramadhan. Setiap Kamis di Ramadhan, esok. Ceramah online. Dai berganti-ganti. Flyer sudah dibikin, disebar ke berbagai media, terutama medsos. Berikut nama Dai dan topiknya:

Firanda Andirja akan membawakan topik “Bekal Fikih Puasa”. Rizal Yuliar Putrananda, topik “Cerdas Beramal di Bulan Ramadhan”. Syafiq Riza Basalamah, topik “Agar Ramadhan Tahun Ini Lebih Berarti”. Subhan Bawazier, topik “Ramadhan Bukan untuk Bersantai’.

Yang juga akan tampil: Ketua Bidang Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Cholis Nafis, topik “Ada Apa dengan Ramadhan?”. 

Tahu-tahu, petinggi PT Pelni membatalkan rangkaian acara tersebut. Karena, acara itu tidak seizin direksi, tapi mengatasnamakan PT Pelni. Tepatnya, digelar Badan Kerohanian Islam (Bakis) Pelni, para karyawan Pelni. Tapi, itu ceramah umum online.

Komisaris Independen PT Pelni (Persero) Kristia Dede Budiyarto kepada wartawan, Jumat (9/4/2021) mengatakan, dewan direksi Pelni belum memberi izin pembicara acara itu. Sehingga dibatalkan.

Pembatalan ini diumumkan luas, media massa dan medsos. Karena sudah banyak peserta yang mendaftar.

PT Pelni (Persero) menyatakan, mencopot pejabat yang bikin acara, yang mengatasnamakan perusahaan tanpa izin direksi. Pejabat yang dicopot (tidak diumumkan nama) dibebas-tugaskan dari Vice President, dan dipindagkan ke bagian lain.

Komisaris Dede Budhyarto mengatakan, pencopotan itu dilakukan sebagai pelajaran kepada seluruh BUMN, agar tidak segan memecat pegawai yang terlibat radikalisme.

Dede Budhyarto: "Pejabat yang terkait dengan kepanitiaan acara tersebut telah dicopot. Ini pelajaran sekaligus warning (peringatan) kepada seluruh BUMN, jangan segan-segan mencopot ataupun memecat pegawainya yang terlibat radikalisme. Jangan beri ruang sedikit pun, berangus," ujarnya lewat akun Twitter @kangdede78, dikutip pada Jumat (9/4).

Dari pernyataan Dede terakhir itu, baru-lah diketahui, bahwa pihak Pelni menduga, pejabat Pelni perancang ceramah tersebut, terkait radikalisme. Tampak jelas, dari rangkaian kalimatnya: “…. Jangan segan-segan memecat…”

Artinya, penelitian BIN (dulu) baru terbukti satu kasus ini. Setelah 2 tahun, 4 bulan. Jelasnya: Memang ada.

Itu pun, diungkap pihak Pelni di ‘musim terorisme’ sekarang. Di saat Polda Metro Jaya menangkap dua teroris lagi, di Jakarta, Jumat (9/4/2021).

Mungkin, setelah ini tenggelam lagi. Dan, Pembaca (tulisan ini) manggut-manggut, di rumah masing-masing. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.