Mudik Kena Corona, Beranikah?

 

“Sudah dua kali Lebaran dilarang mudik,” gerutu banyak orang. Gegara Corona. Maka, ketika Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin akan membantu santri mudik, publik langsung heboh. Empat kepala daerah di Pulau Jawa menanggapi beda-beda.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil kepada wartawan, menyatakan, menunggu arahan dari pusat terkait dispensasi mudik bagi santri. 

"Pesantren kita menunggu petunjuk. Karena wacana dari wapres belum resmi. Juklak ke daerah belum disampaikan. Jadi, kita tunggu aja," ujar Ridwan Kamil kepada wartawan di Gedung Sate, Bandung, Senin (26/4/2021).

Sedangkan, penyekatan mencegah pemudik di Jabar telah dilakukan sejak akhir pekan lalu. Gubernur menyebut sekitar 300 kendaraan telah diputar balikkan oleh kepolisian setelah memasuki gerbang Tol Pasteur, Bandung.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo tidak akan memberikan dispensasi mudik bagi santri, seperti permintaan Wapres Ma'ruf Amin.

"Nggak, nggak ada pengecualian-pengecualian," kata Ganjar ke wartawan usai melantik Bupati Grobogan di gedung Gradhika Bakti Praja, Semarang, Senin (26/4/2021).

Ia menegaskan, larangan mudik berlaku sama bagi siapa saja. Seandainya ada kelompok diberi dispensasi mudik, maka kelompok lain bakal menuntut juga. "Semua diperlakukan sama. Problemnya pada kumpulan massa, bukan kelompok" tegasnya.

Gubernur Banten, Wahidin Halim, setuju dispensasi mudik khusus santri yang diutarakan Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Santri masih anak-anak. Perlu bertemu keluarga saat Lebaran. “Masak, anak kecil enggak boleh pulang?" kata Wahidin kepada wartawan di Serang, Banten, Senin (26/4/2021).

Tapi, pihak pengurus pesantren harus bisa menjamin mereka sehat saat kembali ke Banten, pasca mudik. Paling tidak mereka bisa mudik sebelum 6 Mei 2021.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyiapkan surat jalan/pengantar, kepada santri mudik. Menurutnya, ada dispensasi, karena sudah tidak ada kegiatan di pesantren saat libur Idul Fitri 2021.

"Juga bagi pekerja migran yang telah habis masa kontraknya. Mau tidak mau mereka harus kembali ke Tanah Air," ujar Khofifah via Instagramnya @khofifah.ip Sabtu (24/4/2021).

Sedangkan, Pengurus Nahdhatul Ulama (NU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak sepakat dengan dispensasi, santri boleh mudik. "Santri atau bukan, harus ikut aturan pemerintah, jangan mudik" ujar Wakil Ketua PWNU DIY Fahmi Akbar Idris kepada pers, Senin (26/4/2021).

Menurutnya, mbauan larangan mudik Lebaran 2021 berlaku bagi semua warga negara Indonesia. "Santri juga warga negara, kok," ujarnya.

Larangan mudik, rawan diprotes. Relawan Covid yang juga selegram top, dr Tirta, dalam bincang dengan presenter Rosianna Silalahi di Youtube, baru-baru ini, yakin bahwa Presiden Jokowi tidak bakal berani melarang mudik. “Saya yakin,” ujar Tirta. Ternyata, Presiden Jokowi melarang mudik.

Mudik, fenomena budaya. Sejarawan JJ Rizal, menyebut, kata 'mudik' berasal dari 'udik'. Artinya 'desa atau kampung'. Mereka yang jauh dari kampung, akan kembali ke kampung pada waktu-waktu tertentu.

"Jadi orang yang pergi jauh, merantau, akan kembali ke kampung halamannya. Entah untuk tradisi Lebaran atau keperluan lainnya," jelas JJ Rizal kepada pers, jelang mudik tahun lalu. 

Soal sejarahnya, Rizal tidak bisa memastikan, sejak kapan terjadi. Hingga kini belum ada literatur tentag mudik. "Konon, sudah berabad-abad. Tapi belum ada rujukannya," ujarnya.

Sebaliknya, Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno mengungkapkan, mudik sudah sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam.   

"Awalnya, mudik tidak diketahui kapan. Tetapi ada yang menyebutkan sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam, " Silverio kepada pers, jelang mudik tahun lalu.

Dulu, wilayah kekuasaan Majapahit hingga ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Pihak kerajaan menempatkan pejabatnya di berbagai wilayah itu. 

Suatu ketika, pejabat itu akan balik ke pusat kerajaan untuk menghadap Raja. Sekalian, mengunjungi kampung halamannya. Itu mirip mudik. "Begitu juga pejabat Mataram Islam yang berjaga di daerah kekuasaan. Mereka balik menghadap Raja pada Idul Fitri," katanya.

Istilah ‘mudik’ populer sejak tahun 1970-an. Entah, siapa pencetusnya. Penafsiran artinya saja beda-beda. Kalau Sejarawan JJ Rizal menyebut: Pulang ke udik. Silverio mengatakan, mudik dari kata “mulih disik”. Bahasa Jawa: Pulang dulu. Nanti balik lagi.

Persoalan sebenarnya bukan debat budaya. Juga bukan kontroversi dispensasi mudik untuk santri. Melainkan, soal penyebaran Corona. Ketua Satgas Penanganan Corona, Doni Monardo, melarang warga mudik.

"Karena, manusia perantara membawa virus Covid dari satu daerah ke daerah lainnya," kata Doni dalam keterangan di situs BNPB, Senin (25/4/2021).

"Setiap hari, penularan Covid-19 masih terjadi. Di Indonesia, Covid-19 rata-rata memakan 4 nyawa manusia setiap jamnya," demikian bunyi keterangannya.

Berarti, setiap 15 menit, satu orang Indonesia meninggal karena Corona. Luar biasa dahsyat.

Apakah data dari Ketua Satgas Corona ini menakutkan calon pemudik? Belum tentu. Masyarakat kita sangat ‘keras kepala’. Paling, calon pemudik berpikir begini: “Ah… yang mati, karena sudah saatnya.” (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.