Gampang Bilang Cinta, Lalu Membunuh

 

Isteri bunuh suami, suami bunuh isteri. Gegara cemburu. Kusrini (30) membunuh Budiantoro (38), bos wajan di Bantul, Yogya. Sedangkan, Jony Pranot (27) bunuh Putri Irma Camelia (26) di Surabaya. Terjadi pekan lalu (pekan III April 21). Mudahnya bilang cinta, lalu menikah. Entengnya, membunuh kekasih hati. Mengapa?

Jawaban, bisa menyitir ratusan teori cinta. Cinta tragedi.

Kriminolog Universitas Gloucestershire (Inggris) Dr Jane Monckton Smith melakukan riset 372 pembunuhan suami-isteri di Inggris, dilanjut 30.000 pembunuhan serupa se-dunia, di 2017. Hasil riset dipublikasi BBC. Pembunuhnya, 81 persen suami. 

Sebenarnya, tanpa riset pun komposisi itu bisa terkira-kira. Lelaki lebih tega. Kalau pun wanita membunuh suami, minta bantuan lelaki juga. Selingkuhannya (kebanyakan).

Contoh, pembunuhan bos pabrik wajan di Bantul. Kusrini selingkuh dengan berondong Nur Kholis (22). Yang karyawan pabrik wajan milik Budiantoro. Yang juga masih keponakan Budiantoro. Selingkuh sampai lengket.

Lama-lama ketahuan, Budiantoro marah. Mengancam membunuh isterinya, juga Nur Kholis. Kusrini-Nur Kholis takut. Saat gelar perkara di Polres Bantul, Kamis (22/4/21) Nur Kholis kepada wartawan berdalih: “Sebelum saya dibunuh, lebih baik saya bunuh duluan.”

Diakui, pembunuhan dirancang sejoli selingkuh, sekitar sebulan. (masuk Pasal 340 KUHP Pembunuhan Berencana, ancaman hukuman mati). Mereka analisis kebiasaan sehari-hari Budiantoro. 

Akhirnya ketemu titik lemah Budiantoro, paling smooth, menurut mereka. Dipancing bersebadan. Oleh isteri. Saat itulah Budiantoro (dan semua lelaki) lengah pol. Sedangkan, Nur Kholis sudah ngumpet di gudang rumah. Siap, dengan kawat baja.

Benar saja. Hubungan suami isteri berlangsung. Di ruang tamu. (berarti, potensi seks suami, normal). Kusrini memberi sinyal ke Nur Kholis. Sinyalnya unik: Desahan. Dan, karena posisi Nur Kholis di dalam gudang, maka desahan harus lebay. Kira-kira setengah histeris, gitu.

Nur Kholis keluar dari sarangnya. Langsung, menjerat leher Budiantoro dari belakang. Cekik kawat. Kreeek…

Supaya bunyi ngorok tak terdengar tetangga, Kusrini mengaku, membekap mulut suami. Bekap abis. Tiga puluh detik, tamat. Kematian yang smooth.

Jenazah Buadiantoro dibuang ke Sedayu, Bantul. Mereka ditangkap polisi melalui kronologi mundur: 

Penemuan mayat. Identifikasi mayat. Orang pertama diperiksa polisi, Kusrini. Tak butuh lama, Kusrini mengakui perbuatannya. Semua barang bukti terkumpul. Rekonstruksi matching (cocok berkesinambungan). Kusrini-Nur Kholis tersangka, ditahan.

Kasus Surabaya, mirip. Juga dengan cara cekik.  Jony Pranot setelah mencekik mati isterinya, bingung. Padahal, sang isteri, Putri Irma, hamil lima bulan. Jasad dibiarkan di kamar. Sehari kemudian janin keluar sendiri, mati. Miris sekali.

Jony kebingungan, oleh bau busuk dua bangkai, minta bantuan tetangga. Mengangkat jenazah dinaikkan motor serbaguna roda tiga. Jasad dibuang di lahan kosong. Dekat kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Al Akbar Timur, Surabaya. Kayak buang dua ekor anjing.

Polisi, tak pakai lama, memeriksa Jony, langsung tersangka. Pengakuan Jony, isterinya selingkuh. Ia cemburu, membunuh.

Mengapa begitu gampang, berdalih sepele, pembunuhan suami-isteri? Mengapa mereka bersatu, kalau akhirnya seperti itu?

Dr Jane Monckton Smith punya teori menarik. Berdasar hasil riset. Dia sebut, delapan indikasi, sebelum pembunuhan antar orang tercinta (bisa suami-isteri atau kumpul kebo). Delapan itu berurutan. Seiring waktu. 

Dengan mengetahui ini, potensi kematian bisa dihindari. Demikian:

1.  Riwayat pra-hubungan. Penguntitan atau pelecehan oleh pelaku.

2.  Romansa berkembang cepat, dari pacaran jadi hubungan serius.

3.  Hubungan didominasi kontrol koersif, intensif, oleh calon pelaku.

4.  Butuh pemicu, membuat kontrol pelaku hilang. Biasanya cek-cok.

5.  Eskalasi kontrol koersif, naik. Pelaku mengancam bunuh, atau bunuhdiri.

6.  Mendadak, pelaku berubah pikiran. Dari kontrol keras, jadi damai. 

7.  Perencanaan pembunuhan. Pelaku beli senjata, menganalisis korban.

8.  Pembunuhan. Mungkin juga melukai orang lain, seperti anak-anak.

Perhatikan nomor enam. Di situ sangat krusial. Dr Monckton Smith menyebut, perubahan mendadak itu strategi pelaku. Agar tidak dicurigai calon korban. Agar calon korban lengah. Pelaku pura-pura damai, pura-pura baikan. 

Di sini, dibutuhkan ketajaman intuisi calon korban. Intuisi tajam, kecerdikan, kebijakan. Sebab, bisa saja itu bukan sandiwara pelaku. Melainkan, pelaku sungguh insyaf. Benar-benar mau damai. Terbaik, calon korban ekstra waspada.

Repotnya, titik krusial itu, berjarak sangat pendek dengan titik akhir. Kalau calon korban tidak cerdas dan bijak, antisipasi bisa terlambat. “Perhatikan kontrol koersif pelaku. Jika intensitas terus naik, bahaya,” katanya kepada BBC.

Sekali lagi, itu teori. Hasil riset ribuan pembunuhan suami-isteri. Hasil riset sebagai tesa. 2017. Belum muncul anti-tesa. Sehingga tidak bisa disebut sintesa.

Orang yang paling tahu kondisi pelaku, adalah korban. Maka, amati pasangan Anda. Sudah sampai nomor berapa? (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.