Teroris Muda Teroris Tua

 

Suami-isteri bomber bunuhdiri di Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3/21). Ist

Bomber bunuhdiri di Makassar, Minggu (28/3/21) diungkap polisi: Suami-isteri Lukman (26) dan YSR (26). Esoknya (Senin kemarin) Densus 88 Polri menangkap 4 terduga teroris di Jakarta dan Bekasi. Usia 37 sampai 56. Belum diungkap, apakah pelaku Makassar - Jakarta berkaitan. Tapi, usia mereka terpaut jauh.

Beda usia itu, bisa ditafsirkan beragam. Bisa regenerasi. Belum tentu regenerasi hierarkis, guru-murid. Atau organisatoris, atasan-bawahan. Karena Polri masih menyelidiki. 

Kemungkinan besar, regenerasi ideologis. Yang tua, dicontoh yang muda. Dengan cara pandang mirip.

Profil pelaku, identifikasi masalah. Untuk mengetahui, mengapa terjadi regenerasi? Apanya yang salah? Setelah berbagai pertanyaan terjawab, baru-lah mengatasi masalah. 

Seperti dinyatakan Presiden Jokowi, dalam konferensi pers virtual, Minggu (28/3/21): “Bom di gereja Makassar tidak terkait agama. Tidak terkait SARA. Semua ajaran agama menolak terorisme.”

Berarti fokus pada pelaku sebagai manusia. Lepas dari unsur agama yang dianut. Tertuju pada kriminologi, sosiologi, psikologi pelaku.

Dari hasil liputan berbagai media massa, profil Lukman yang terungkap. Sedangkan isterinya, YSR, hanya diketahui bercadar. Mereka menikah pada Agustus 2020. 

Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo langsung terbang dari Jakarta  ke Makassar, Minggu (28/3/21) malam, memantau penyelidikan bom Makassar. Kapolri menyatakan, pelaku L dan YSR suami-isteri. Jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Menurut Listyo, L dan YSR dinikahkan sekitar enam bulan lalu oleh Risaldi (44), di rumah Risaldi di Villa Mutiara, Makassar, Agustus 2020. Risaldi adalah teroris yang ditembak mati oleh Densus 88, di rumah Villa Mutiara juga, pada Rabu, 6 Januari 2021.

Mundur ke penggerebekan Risaldi, 6 Jnauari 2021, Analisis Kebijakan Utama Bidang Intelijen Densus 88 Antiteror Polri, Brigjen Ibnu Suhendra, mengatakan, Risaldi dan Ajiz (22) ditembak mati, karena melawan saat ditangkap. 

Rizaldi dan Ajiz diketahui, hendak berangkat ke Suriah pada 2016. Berarti usia Ajiz waktu itu 17, usia Risaldi 39. Keberangkatan mereka tercegah di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Lalu pulang Makassar. Sejak itu mereka dipantau polisi. Sampai penggerebekan dan tembak mati, 6 Januari 2021.

Bomber Lukman, ngekos di Jalan Tinumbu 1, Lorong 132 A, Kecamatan Bontoala, Makassar. Tidak jauh dari rumah Risaldi di Villa Mutiara. Pemeriksa rumah Lukman, Babinsa Kecamatan Bontoala, 

Baharuddin, mengatakan ada dua lokasi yang digeledah polisi: Rumah kos Lukman dan rumah ibu Lukman,  terpaut 50 meter.

Dari hasil penyelidikannya, Baharuddin menceritakan ke wartawan, bahwa Lukman tinggal di wilayah itu sejak lahir, 1995. Lukman sulung dari dua bersaudara. Adiknya perempuan, belum menikah tinggal bersama ibunda.

“Waktu Lukman usia lima tahun (tahun 2000) ayahnya meninggal.  Ia dan adiknya dibesarkan ibu yang berjualan warung di rumah,” tuturnya. Seperti warung pracangan.

“L sempat kuliah. Kampusnya tak jauh dari sini,” kata Baharuddin. Tahun lalu berhenti kuliah, karena kurang biaya. Lalu menikah dengan YSR, Agustus 2021. “Ibunya tak tahu anaknya menikah. Mereka dinikahkan di rumah Risaldi pada tengah malam,” tuturnya.

Setelah menikah, Lukman tinggal bersama isteri, ibu dan adik. Berdesakan di rumah sederhana itu. “Sejak itu Lukman dan adiknya sering bertengkar. Bahkan, Lukman melawan ibunya,” ceritanya.

Karena pertengkaran itu, sejak Jnauari 2021 Lukman dan isteri, meninggalkan rumah ibu. Mereka kos di rumah yang kemarin digeledah polisi. Pekerjaan suami-isteri ini, jualan makanan lewat online. YSR pembuat makanan, Lukman mengantarkan.

 “Lukman rajin salat di masjid. Selalu pakai jubah. Sebelum menikah, jenggotan panjang, setelah menikah dicukur,” tambahnya.

Dari cerita Baharuddin ini, sekilas tergambar profil Lukman. Kehidupan ekonomi yang berat. Walau, setidaknya pernah kuliah.

Beralih ke penangkapan empat terduga teroris di Jakarta dan Bekas, Senin kemarin. Kapolda Metro Jaya, Irjen Muhammad Fadil Imran menyatakan, empat tersangka itu jaringan JAD. Sama dengan Lukman dan isteri. 

“Di rumah salah satu tersangka, di Condet (Jakarta Timur) ditemukan bom. Sudah diledakkan oleh tim Handak (Bahn Peledak) Polda Metro,” katanya kepada wartawan, Senin (29/3/21).

Empat terduga teroris itu: ZA (37). "Perannya membeli bahan baku peledak. Seperti aseton, HCl, termometer dan alumunium powder. Memberitahukan ke saudara BS (tersangka juga) cara pembuatan dan mencampurkan cairan-cairan yang telah disiapkan," kata Fadil.

BS (43). Peran, mengetahui cara membuat peledak. Pengetahuan  BS tentang cara membuat bom, lebih tinggi dibanding ZA. Gurunya-lah.

NAJ (46). "Perannya mengetahui dan membantu ZA membuat bahan peledak. NAJ bersama BS sudah beberapa pertemuan dalam rangka persiapan melakukan teror menggunakan bahan peledak," jelas Fadil.

HH (56). Ini paling tua dari empat yang ditangkap.

Fadil mengatakan: "HH penting di kelompok JAD. Dia yang merencanakan, mengatur taktis dan teknis pembuatan bom bersama ZA, hadir dalam beberapa pertemuan untuk mempersiapkan kegiatan-kegiatan amaliyah ini, membiayai dan mengirimkan video teknis pembuatan bom ke tersangka lain.”

Dari segi usia dan jaringan di empat teroris ini, kelihatan bahwa mereka hierarki guru-murid. Dari tua ke muda. Mereka juga punya visi ideologis yang sama. Sekaligus hierarki organisatoris, sesama JAD.

Polisi belum mengungkap, apakah empat tersangka ini terkait dengan Lukman di Makassar. Melihat waktu penangkapan yang beda sehari dengan penyelidikan terhadap Lukman, bisa jadi mereka terkait. Setidaknya, sama-sama JAD.

Dari penjelasan Fadil, tampak bahwa guru sekaligus menyandang dana, adalah HH. Yang paling tua. Polisi tinggal mengorek profil mereka. Untuk menganalisis masalah.

Tapi, kayaknya tak jauh-jauh dari uang. Atau kemiskinan. Atau kurang beruntung meraih uang, yang oleh masyarakat dianggap sebagai segalanya. Kepemilikan uang (harta) menimbulkan penghormatan anggota masyarakat. Sebaliknya, kegagalan meraih uang, tidak ada penghormatan.

Mereka yang gagal secara ekonomis, bakalan sensi. Gampang baper. Seolah-olah masyarakat mengabaikannya. Mereka akan lari ke wilayah, di mana mereka bisa dianggap sebagai hero. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.