Penculik Ara Mungkinkah Bebas?

 

Tersangka pelaku penculikan Ara

Penculikan Ara (7) oleh pakde-bude, hebohkan Surabaya. Pelaku, Oke Ary Aprilianto (34) dan Hamidah (35), ditahan Polrestabes Surabaya. Membawa Ara. 4 hari. Tanpa kekerasan. Apakah ini masuk konsep hukum restorative justice, gagasan Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo?

Restorative justice, model penyelesaian perkara tradisional. Tapi, digunakan sebagai konsep hukum modern di banyak negara. Atau hukum pidana modern.

Substansinya, penyelesaian suatu peristiwa pidana, harus mengaitkan tiga unsur: Pelaku, korban, masyarakat. Jika suatu perbuatan pidana (sesuai UU) bisa diselesaikan antara pelaku dengan korban, dan tidak menyakiti rasa keadilan masyarakat, maka perbuatan itu tidak perlu diproses hukum.

Ketika Jenderal Listyo Sigit menjalani uji kelayakan calon Kapolri, di DPR RI, Listyo memaparkan, Polri perlu menerapkan restorative justice. “Kelak, tidak ada lagi kasus seperti Nenek Minah,” ujarnya. 

Kasus Nenek Minah sangat terkenal. Sering dijadikan contoh penegakan hukum. Faktanya begini:

Pagi yang cerah, 2 Agustus 2009. Ada nenek Minah (saat itu usia 55). Di Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah. Di perkebunan kakao milik PT Rumpun Sari Antan (RSA).

Nenek Minah di situ, karena menggarap lahan. Yang letaknya berdekatan dengan kebun kakao PT RSA. Saat dia jalan menuju lahan garapan, melewati areal PT RSA. Di situlah ia memetik 3 buah biji kakao yang ranum. 

Terus, buah diletakkan di tanah. Tujuannya, waktu pulang nanti, akan dibawa pulang untuk disemai, ditanam di pekarangan rumah. 

Minah belum pulang, muncul-lah mandor perkebunan PT RSA sedang kontrol. Lewat situ. melihat tiga biji kakao tergeletak di tanah. 

Karena satu-satunya orang terdekat Minah, maka mador bertanya ke Minah: "Siapa pemetik kakao ini?" Dijawab: "Saya Pak."

Atas nama tugas, mandor membawa Minah ke kantor PT RSA. Karena dianggap mencuri, Minah diserahkan ke kantor polisi. Diproses sebagai tersangka pencurian. Diadili di Pengadilan Negeri Purwokerto.

Kamis, 19 November 2009. Majelis hakim pimpinan Muslih Bambang Luqmono SH memvonis Minah, 1 bulan 15 hari, dengan masa percobaan 3 bulan. Minah terbukti secara sah, meyakinkan, melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian.

Atas nama hukum, Minah berstatus terpidana. Meskipun tidak dibui. Kasus ini heboh. Sampai dijadikan contoh Kapolri Listyo. Maksudnya, dalam restorative justice, kasus macam Nenek Minah tak perlu dihukum. Bahkan tak perlu diproses.

Restorative justice, dicetuskan kriminolog terkenal dunia, Prof John Braitwhait. Peraih penghargaan ilmiah inetrnasional: Prix Emile Durkheim, International Society of Criminology (2005). Atas sumbangan seumur hidup bagi ilmu kriminologi.

Prof Braitwhait dalam bukunya: “Handbook on Restorative Justice Programmes, United Nations, 2006, menyebutkan:

Restorative justice adalah: Pendekatan pemecahan masalah, yang dalam berbagai bentuknya, melibatkan korban, pelaku, jaringan sosial, lembaga peradilan dan masyarakat.

Setelah suatu peritiwa, yang dianggap kejahatan, tapi antara pelaku dengan korban bisa berdamai, dan tidak mengganggu rasa keadilan masyarakat, maka itu bukan kejahatan. Penegak hukum bertindak sebagai wasit. Terhadap pelaku, korban, masyarakat. Jika tiga pihak itu ikhlas atas suatu peristiwa, maka selesai begitu saja. Tanpa proses hukum.

Disebut, itu mirip penyelesaian masalah di masyarakat tradisional. Di desa-desa Indonesia, jika seseorang memetik buah dari pohon (bukan miliknya), asal hanya untuk dimakan sendiri, dan pemolik ikhlas, serta masyarakat menganggap itu wajar, maka itu bukan kejahatan. 

Sesederhana itu rumusan Prof Braitwhait. Dan, kini digunakan di banyak negara maju.

Penculikan Ara, menghebohkan. Gadis cilik itu bernama Nesa Alana Karaisa. Rumah di Karang Gayam, Surabaya. Ibunda Ara, Safrina Anindia Putri adalah adik kandung penculik, Hamidah. Sedangkan, suami Hamidah, membantu penculikan.

Hamidah mengaku kesal pada saudaranya, Safrina. Sebab, anak Hamidah pernah ditampar Safrina. Penamparan itu akibat peristiwa yang lebih besar: Rebutan warisan rumah milik almarhum orang tua Hamidah dan Safrina.

Selasa, 23 Maret 2021 sekitar pukul 10.00 Hamidah melihat Ara sedang jalan di taman, tak jauh dari rumah di Karang Gayam. Hamidah mengajak Ara main ke rumah. 

Ara ikut, karena Hamidah bude-nya. Terus, Hamidah melarang Ara pulang. Ara pun nurut, karena itu bude-nya.

Ortu Ara, kelabakan. Lapor anak hilang ke polisi. Mencari ke mana-mana. Menyebar ke berbagai grup Facebook dan WhatsApp. Akhirnya ditemukan Sabtu (27/3/21). Hamidah dan suami ditangkap polisi.

Hamidah dan suami bisa dikenakan dua tuduhan: Melanggar Pasal 333, ayat 1 KUHP tentang Penyekapan Perampasan Kemerdekaan Orang. Dan atau Pasal 328 KUHP tentang Penculikan.

Pasal 333 ayat (1) KUHP, penyekapan, berbunyi:

“Barangsiapa, dengan sengaja dan melawan hukum, merampas kemerdekaan seseorang, atau meneruskan perampasan kemerdekaan. Yang demikian, diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.”

Pasal 328 KUHP, penculikan, berbunyi:

“Barangsiapa, melarikan orang dari tempat kediamannya, atau tempat tinggalnya sementara, dengan maksud melawan hak, akan membawa orang itu di bawah kekuasaannya, atau kekuasaan orang lain, atau akan menjadikan dia jatuh terlantar, dihukum karena penculikan, dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.”

Dua pasal itu pelanggaran pidana berat. Ancaman hukuman delapan tahun dan 12 tahun bui.

Tapi, kasus penculikan Ara masih diproses. Seperti halnya mandor kakao PT RSA, polisi dalam kasus ini hanya melaksanakan tugas. 

Dengan hebohnya kasus ini, masak polisi akan membebaskan para pelaku begitu saja? Kan, tidak mungkin. 

Lha, apa gunanya polisi, kalau membiarkan penculikan? Terus, apa reaksi masyarakat, seandainya polisi membebaskan tersangka? Seumpama polisi membebaskan tersangka, lalu masyarakat protes, apakah polisi akan menangkap para pelaku lagi? Itu, kan disebut ‘balik kucing, namanya.

Di sini, restorative justice diuji. Meskipun dicetuskan oleh Kapolri, langsung. Meskipun digagas kriminolog top dunia, Prof John Braitwhait. (*)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.