Lempar-lemparan Kursi Presiden

 

Paling asyik, bicara cita-cita. Di tiga sekawan menteri: Erick Thohir, Sandiaga Uno dan Muhammad Lutfi. Karena, di antara mereka ada yang bercita-cita jadi Presiden RI. Padahal, sehari-hari mereka kini lengket Presiden Jokowi. Gawat-kah? Sama sekali tidak. Sebab, Indonesia tidak sekecil Partai Demokrat.

Soal cita-cita, unik. Semua orang waktu masih kecil, dan ditanya cita-cita, jawab asal saja. Presiden. Pilot. Dokter. Atau… punya konten Youtube sendiri. Mulai sulit sampai gampang. 

Cita-cita punya konten Youtube, hanya dalam lagu. Anak-anak jaman now. Tapi, jadi presiden, bahaya (kata Cak Lontong).

Uniknya, cita-cita ‘Presiden RI’ dari tiga sekawan itu, diingkarinya, sekarang. Dibantah tegas. Barangkali, karena tujuan sudah ‘dekat’, jadi ‘gak enak’.

Cita-cita itu diucapkan, sewaktu mereka usia SMA. Bukan TK. Walau, anak SMA bisa dibilang kecil, oleh mahasiswa. Yang juga berarti, di ‘usia sadar’ konsekuensi suatu cita-cita.

Si pembongkar cita-cita ‘Presiden RI’ itu adalah Sandi. Konteksnya begini: Ketika belum lama Sandi diangkat jadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, akhir tahun lalu, ia bicara dengan wartawan. 

Sandi dipancing wartawan, kalau dulu Sandi gagal jadi Capres (mendampingi Prabowo Subianto) sekarang sudah jadi menteri. Berarti, sekarang tujuan sudah semakin dekat.

Sandi gelagapan. Ketawa, menutupi kebingungan menjawab. Lantas: “Nggak-lah. Nggak segitunya,” jawabnya.

Dilanjut: "Kami enggak pernah berkhayal akan bekerja di pemerintahan. Sejak awal, saya fokus ingin jadi investment banker, Erick Thohir dari muda sudah jadi entrepreneur," tutur Sandi, Senin (28/12/2020).

Di luar dugaan, Sandi menyebut, Muhammad Lutfi (kini Menteri Perdagangan) yang pernah punya cita-cita jadi presiden. "Lutfi pernah ngomong, cita-cita jadi presiden. Dia kan punya potongan: Keren, tinggi, ganteng, jago pidato," tambahnya.

Cita-cita presiden itu diucapkan ketika mereka seusia SMA. Lima sekawan: Erick Thohir (kini Menteri BUMN), Lutfi, Sandi, Rosan Perkasa Roslani (kini Ketua Umum Kadin) dan Indra Uno (kakak kandung Sandi, kini pengusaha).

Tiga nama terakhir, sama-sama di SMA Pangudi Luhur, Jalan Prapanca, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tiga nama terdepan, SMA terpencar di Jakarta. Tapi mereka semua di satu klub basket: Tunas Jakarta. Selalu ketemu di lapangan basket.

Lima pemuda (di jaman itu) semuanya kuliah di Amerika. Plus, satu cewek, Nurasia yang kemudian jadi isteri Sandi. Kampus mereka terpencar juga. tapi di sana mereka sering kumpul.

Sewaktu mereka mahasiswa di Amerika, Sandi melanjutkan, Lutfi menunjukkan langkah ke arah cita-citanya. Lutfi terpilih jadi Ketua Permias (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat). Waktu itu, Lutfi mahasiswa New York University.

Tahukah, apa yang dilakukan Lutfi agar terpilih? “Dia kampanye mencari dukungan ke mana-mana. Keliling ke beberapa negara bagian (AS) menggalang dukungan,” cerita Sandi. Anggota Permias, tersebar di berbagai negara bagian.

Akhirnya Lutfi menang.

"Jadi, yang serius punya cita-cita jadi pemimpin masa depan, ya M Lutfi. Waktu itu kan usia kami masih sangat muda, sekitar 20-an tahun," kata Sandiaga. “Kalau saya, sama sekali gak kepikir ke sana. Jadi pegawai pemerintahan pun, gak kepikir.”

Sandi tidak sadar, sudah melempar ‘kursi panas’. Ke Lutfi. Melemparkan ‘kursi presiden’ ke Lutfi. Kursi panas.

Tentu, wartawan mengejar konfirmasi. Dari cerita sepele ini. Wartawan ramai-ramai mengoyak, minta  jawaban Lutfi.

Tapi, Lutfi sulit ditemui wartawan, kalau hanya pertanyaan itu. Ia ogah diwawancarai soal itu. Tapi, ia menjawab pertanyaan tersebut lewat WhatsApp. Begini:

"Kacau ini Sandi. Terima kasih, Mas." jawaban Lutfi via WA kepada wartawan

Usia lima sekawan itu sebaya. Sama-sama kelahiran 1969. Kecuali, Erick Thohir kelahiran 1970. 

Lutfi lahir di Jakarta, 16 Agustus 1969. Ayahnya Firdaus Wadjdi dari Minangkabau. Ibunya Suhartini asal Kebumen, Jawa Tengah.

Selesai kuliah di Amerika, ia pulang, lalu mengembangkan usaha bersama Erick Thohir, Wishnu Wardhana, dan Harry Zulnardy. 

Saat jadi pebisnis, ia ditunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono jadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 2005–2009,

Lalu jadi duta besar Indonesia untuk Jepang tahun 2010–2013.

Kemudian jadi Menteri Perdagangan. Pertama, pada akhir kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Yakni pada 14 Februari hingga 20 Oktober 2014. 

Terbaru, dipilih Presiden Jokowi jadi Menteri Perdagangan (lagi) pada 23 Desember 2020.

Apa katanya, di jabatan itu? “Menteri Perdagangan seperti wasit tinju. Pembeli dan penjual diibaratkan petinju yang bertarung. Masyarakat Indonesia penonton,” katanya.

"Ketika wasit tidak melakukan sesuatu, dengan hal yang semestinya dilakukan, penonton dan petinju-petinju akan melihat kecurangan wasit," ujar Lutfi usai diperkenalkan Jokowi di Istana Merdeka, Selasa (22/12/2020).

Dari analogi itu, Lutfi memposisikan diri sebagai penengah. Di tengah. Bukan di depan, seperti diceritakan Sandi. Justru, Sandi yang pernah di depan. Tapi depan samping. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.