Setnov Jadi Petani di Bui

 

“Mau diapakan, panen padi Setnov di penjara?” tulis media massa, Rabu (3/2/21). Setnov adalah mantan Ketua DPR, Setya Novanto, terpidana korupsi e-KTP di LP Sukamiskin Bandung. Kalapasnya, Asep Sutandar menjawab: “Ya… dimakan sendiri.”

Maksud Asep, padi hasil panen Setnov Cs, cuma dua karung (sekitar 50 kilogram). “Karena sedikit, tidak bisa dijual keluar LP. Akan dimakan warga binaan (narapidana di situ),” katanya kepada pers, Rabu (3/2/21).

Tapi, hasil panen sayuran napi di situ, melimpah. Sayuran hidroponik. “Kalau hasil sayuran cukup banyak. Akan dijual ke luar lapas,” tambahnya.

Setelah panen padi dan sayur, Setnov Cs akan diarahkan budidaya madu, selain bertani. “Budidaya madu sedang kami siapkan. Supaya warga binaan tetap semangat,” katanya.

Di LP Sukamiskin, Setnov kumpul sesama napi korupsi. Ada mantan Menteri ESDM, Jero Wacik. Mantan Kakorlantas Polri, Irjen Purn Djoko Susilo. Mantan Walikota Bandung, Dada Rosada. Kebetulan mereka satu grup bertani padi dan sayuran. 

Asep Sutandar menunjukkan foto mereka. Sedang memanen padi. Tampak, Setnov membawa arit di kanan, dan batang padi di kiri. Kakinya masuk ke lumpur sawah di areal LP. Perut Setnov kelihatan sixpack. Ia memelihara kumis dan jenggot. Wajahnya ceria.

Padi, bagi Setnov tidak asing. Dikutip dari biografinya, pada 1979 ia kuliah di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi, Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya. Saat itu ia nyambi jualan beras.

Bermodal Rp82.500 (zaman itu) ia kulakan beras di Lamongan, dijual di Surabaya. Ia sewa kios di Pasar Keputran, Surabaya. Bermula dari volume tiga kuintal, berkembang sampai ton-tonan, diangkut truk.

Aneka pekerjaan dijalani Setnov, sampai puncaknya jadi Ketua DPR RI. Di situ ia kesandung kasus korupsi e-KTP, yang berakhir jadi napi di Sukamiskin.

Di Sukamiskin, Setnov CS kini aktif bertani. Menurut Asep, Setnov kelihatan gembira dengan kegiatan itu. “Jadi tidak stress,” ujar Asep.

Pakar psikologi narapidana, Psikolog Sosial, DR Craig Haney bermitra dengan Philip Zimbardo dalam riset penghuni penjara Stanford, membenarkan hal itu. “Napi harus tetap sibuk. Agar mereka tetap normal saat bebas, kelak,” kata DR Haney, dikutip dari BBC, 1 Mei 2018.

Tapi, psikologi napi tetap saja, bakal kurang normal, setelah mereka bebas. Sedangkan, bagi napi yang kurang aktivitas selama di ‘dalam’, kurang normal psikologis jauh lebih parah.

Untuk napi yang beraktivitas, menurut duet Haney dan Zimbardo, lebih gembira. Sedangkan, yang kurang aktivitas, cenderung anti-sosial. “Tapi, semua mantan napi, pola hidupnya berubah dibanding sebelum mereka dibui,” katanya.

Haney-Zimbardo menggambarkan, kehidupan di penjara membuat napi tidak punya privasi, selalu curiga karena sewaktu-waktu bisa dibully sesama napi, dan kehidupan statis, harus taat perintah secara ketat. “Mereka tidak punya pilihan, selain menyesuaikan diri. Fisik dan psikologis,” katanya.

Teori psikologi kepribadian mengatakan, kepribadian seseorang tidak akan berubah di masa dewasa. Namun, itu tidak berlaku bagi mantan napi.

“Penelitian baru-baru ini menemukan, bahwa kepribadian mantan napi berubah (antara sebelum dan sesudah dibui) meskipun kelihatan relatif stabil,” katanya.

Ada enam hal, penyebab perubahan kepribadian mantan napi. Enam hal ini adalah rutinitas di penjara.

1) Hilangnya kebebasan. 2) Kurang privasi. 3) Stigma napi. 4) Takut dibully.  5) Selalu berpura-pura untuk menghindari dieksploitir sesama napi. 6) Penurut total, jika melanggar aturan, masuk sel isolasi.

Itu berdampak pada perubahan kepribadian. Disebut: sindrom pasca-penahanan. Dampak ini tampak pada hasil riset Haney-Zimbardo terhadap 25 eks napi di penjara Boston, Amerika.

Dampak negatif paling menonjol adalah: 1) Tidak mempercayai orang lain. 2) Sulit berhubungan akrab dengan orang lain, atau cenderung berkonflik. 3) Peragu saat mengambil keputusan.

Bagi politikus seperti Setnov, dampak nomor satu, sudah biasa. Nomor dua, juga lumrah. Tapi, nomor tiga bisa berbahaya. Politikus yang umumnya selalu percaya diri dalam mengambil keputusan, berubah jadi peragu. Ini yang paling merugikan.

Setnov, dengan bertani di dalam penjara, sesuai teori Haney-Zimbardo, dampak negatif itu bakal berkurang. Tapi, apakah Setnov masih dibolehkan berpolitik lagi, kelak? (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.