Wahai Anak-anak… Ayo Kita Vaksin

GettyImage


 “Aku anak sehat, tubuhku kuat…” lagu ciptaan AT Mahmud: “Makanan bergizi… dan imunisasi…” Terkenal 1980-an, pengiring anak-anak menuju Posyandu. Supaya tegar diimunisasi. Yang hari-hari ini perlu digaungkan lagi. Supaya masyarakat semangat divaksin Corona, Kamis (14/1/21).

Di lagu itu ortu galau. Sekarang pemerintah yang gelisah. Khawatir, kalau-kalau vaksinasi Corona ditolak masyarakat. Dan, seumpama benar-benar ditolak, entah seberapa dahsyat kerusakan yang bakal terjadi.

Kegelisahan pemerintah mengendap. Sejak pertengahan tahun lalu. Sejak negara-negara maju mulai membuat vaksin penangkal Covid-19. Seluruh warga dunia gelisah. Apa dan bagaimana efek vaksin.

12 November 2020 Gubernur DKI Jakarta mengeluarkan Perda. Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Covid-19. 

Pasal 30 berbunyi: “Setiap orang yang dengan sengaja, menolak untuk dilakukan pengobatan dan/atau vaksinasi Covid-19, dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 5 juta.” Menegaskan kegelisahan itu. Khawatir ditolak.  

Kekhawatiran terbukti. 16 Desember 2020 warga DKI, Happy Hayati Helmi mengajukan gugatan judicial review (uji materi) Perda tersebut ke Mahkamah Agung (MA). Terutama menyangkut Pasal 30 yang memuat denda.

Kuasa hukum Happy Hayati, Victor Santoso Tandasia, kepada pers waktu itu mengatakan: Dengan pasal denda itu, maka pemohon judicial review tidak punya pilihan lain, kecuali harus disuntik vaksin.

Apalagi, di Pasal 30 tidak menjelaskan, bahwa setelah membayar denda, seseorang tidak akan dipaksa lagi melakukan vaksin di kemudian hari. Tidak ada penjelasan itu.

"Artinya, jika pemohon menolak divaksin, lalu membayar denda, di kemudian hari bisa didatangi petugas lagi. Dipaksa vaksin lagi. Dan, ini berlaku seluruh anggota keluarga, satu per satu,” tutur Victor.

Menurutnya, itu bertentangan dengan tiga peraturan. Pertama, UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 

Kedua, UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Ketiga, UU Nomor 12 Tahun 2011 yang diubah jadi UU Nomor 15 Tahun 2019 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Kalau anak kecil, dinyanyikan lagu “Aku Anak Sehat”, beres persoalan. Pasti mau disuntik. Imunisasi. Walau, juga harus dipaksa. Dihadiahi permen. Walau, setelah disuntik nangis, juga. 

Nah, orang dewasa… bersilat hukum. Belum lagi, kalau ada tukang kompor. Ngompori dengan hoaks, bahwa vaksin itu haram. Menyebarkan, seolah-olah orang Aceh menolak divaksin.

Tukang kompor itu berinisial ES (33) sudah ditangkap polisi, Selasa kemarin. Tindakan tegas, wajib diterapkan penegak hukum terhadap pengacau itu.

Kasat Reskrim Polres Simeulue, Iptu Muhammad Rizal, kepada wartawan, Selasa kemarin, mengatakan: “Tersangka ES ditahan. Diduga melanggar UU ITE. Membuat, menyebar berita hoaks, provokatif, terkait vaksin Sinovac di Aceh.”

Di antara ratusan juta anak Indonesia, pasti ada saja anak jahil seperti ES. Maaf, maksudku: Orang Indonesia.

Di Amerika, orang pertama yang divaksin, Sandra Lindsay (52) pada pertengahan Desember 2020, begitu bangga. Dia kepala perawat RS di  Queens, New York. Justru, dia minta jadi orang pertama divaksin. Dan, terkabul.

Sandra Lindsay kepada The New York Times, 15 Desember 2020, mengatakan: "Sebagai minoritas, saya ingin menanamkan kepercayaan pada orang-orang yang terlihat seperti saya, untuk mengatakan bahwa itu aman. Itu dipandu oleh sains. Jangan takut," kata Lindsay, warga Amerika asal Jamaika.

Kalimat Lindsay, bagai ‘anak besar’ menasihati adik-adiknya, di negara berkembang Indonesia: “Gak papa… jangan takut, adek.…”

Tak kurang, Presiden Jokowi divaksin Rabu, pagi ini. Disiarkan live streaming. Bapaknya anak-anak Indonesia, nih… memelopori. Jadi orang pertama Indonesia yang divaksin.

Sang Bapak mengajak ‘anak-anak baik’, seperti presenter Raffi Ahmad, penyanyi Bunga Citra Lestari, dokter Tirta Mandira Hudhi. Yang, menurut Jubir Vaksinasi Covid-19, Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, si ‘anak-anak manis’ ini sudah konfirm.

Jadwal yang disuntik bersamaan dengan Presiden Jokowi, Rabu (13/1/21) hari ini dibagi tiga kelompok.

Kelompok 1: Presiden Joko Widodo, Menkes Budi Gunadi Sadikin, Menteri BUMN Erick Thohir, Menlu Retno Marsudi, Mendikbud Nadiem Makarim, Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Kapolri Idham Azis, Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo dan Kepala BPOM Penny Lukito. 

Kelompok 2: Ketua IDI Daeng M Fakih, Ketua PPNI Harif Fadilah, Ketua PP IBI Emi Nurjasmi, ahli vaksin milenial Dirgayuza Rambe, Ketua Muhammadiyah Covid-19 Commad Center Agus Syamsuddin, Ketua Satgas NU Peduli Covid-19 Muhammad Makky Zamzami, Najwa Shihab, dr Tirta, Bunga Citra Lestari, Raffi Ahmad. 

Kelompok 3: Ketua PBNU Marsudi Syuhud, Perwakilan Muhammadiyah, Sekjen MUI Amirsyah Tambunan, Ustadz Das'ad Latief, Perwakilan Organisasi Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. 

Kamis besok, semua gubernur, kepala dinas kesehatan, sekda, pangdam, kapolda, dirut RSUD rujukan Covid-19. Juga, para pengurus organisasi profesi. Para tokoh semua agama.

Serentak. Semua orang divaksin. Di seluruh dunia. Tidak ada pilihan lain, untuk mengakhiri pandemi Corona. Jadi, jangan takut. Ayo… kita berangkat suntik, sambil menyanyi:

Aku anak sehat… tubuhku kuat… (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.