Raffi… Tega Nian Dikau

 

SetPres

Ngurus anak-anak, sulit,” gerutu ortu. “Habis diimunisasi, malah ‘kecek’ main comberan.” Analogi buat: Artis Raffi Ahmad. Habis divaksin bareng Presiden Jokowi, lalu joget tanpa masker, di pesta ultah. Koplak banget. Tapi, dasar analogi anak-anak, si Raffi minta maaf: “Maaf, ya Pak Pres…”

Suatu kejadian tidak lucu. Sama sekali tidak lucu, bagi otoritas pengendali pandemi Corona. Malah sedih.

Tapi, lucu bagi warganet, pemberi emoticon ketawa bablas nangis. Koprol guling-guling. Di kolom komen, di medsos Raffi hadiri pesta, tanpa masker, itu.

Sampai-sampai, tukang melucu, komika Ernest Prakasa, menanggapi itu tanpa basa-basi lucu. Ernest via medsos, awalnya bangga pada Raffi, wakil influencer divaksin Corona bersama Presiden Jokowi. Lantas, Ernest posting begini:

"Yup, saya berhasil terlihat tolol. But it’s really not about me. Tindakan Raffi menurut saya keterlaluan. Dan, tidak menghargai keistimewaan yang ia dapatkan," dari twitter @ernestprakasa. Garing. Gak lucu, blas.

Raffi akan dipanggil polisi. Sebagai saksi. Terutama, penyelenggara pesta, konglomerat, Muhammad Sean Ricardo Gelael. Pestanya di rumah Gelael, di ultah Gelael, Rabu (13/1/21) malam.

Kapolsek Kebayoran Baru, Komisaris Supriyanto kepada pers, kemarin, memastikan lokasi pesta bukan kafe. “Saya sudah cek. Lokasi di rumah Sean Ricardo Gelael,” kata Supriyanto. 

Pesta dihadiri banyak selebriti. Raffi, Nagita Slavina, Anya Geraldine, Gading Marten, Uus, hingga Ahok (mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama).

Meski itu acara privat, Supriyanto mengatakan, polisi melarang perayaan yang mengundang banyak orang. Jakarta kini PSBB ketat.

"Pemilik rumah sudah kami panggil, besok diperiksa," kata Supriyanto. Juga memeriksa para saksi, di antaranya Raffi.

Padahal, Presiden Jokowi sudah mewanti-wanti publik yang sudah divaksin. Termasuk Raffi. Agar tetap-lah pakai masker, jangan berkerumun, jaga jarak, cuci tangan. 

Bukan karena Jokowi tidak yakin efektivitas vaksin. Bukan. Melainkan, bagi semua manusia bumi, ini hal baru. Corona dan vaksin, hal baru. Belum pengalaman. Sebaiknya, semua orang menjaga diri.

Setahun sudah, pandemi Corona. Tapi orang masih bingung. Terhadap hukum terkait pandemi. Pemerintah mengharuskan rakyat, begini-begitu. Kalau tidak nurut, polisi bertindak. Padahal, tujuannya demi kebaikan rakyat sendiri. Trus… kalau ada pembangkang, dihukum. Didenda.

Jangankan orang-orang bodoh. Anggota Komisi IX DPR Fraksi PDIP, Ribka Tjiptaning, yang tidak bodoh, pun menyatakan, keberatan divaksin. “Saya dan anak-cucu saya, lebih baik bayar denda. Dari jual mobil, kek…” katanya, di rapat orang-orang tidak bodoh di DPR.

Tanda, dia belum paham. Bahkan, ucapan di depan publik itu berpengaruh ke masyarakat. Ribka selaku wakil rakyat, punya pengaruh ke rakyat. Bukti, Presiden Jokowi memilih influencer Raffi, mempengaruhi publik agar senang divaksin.

Prof Herbert C. Kelman, Pakar Social Ethics, Harvard University, Amerika, membagi pengaruh, jadi tiga bagian. 1) Kepatuhan. 2) Identifikasi. 3) Internalisasi.

Nomor satu: Kepatuhan, orang kelihatan setuju dengan orang atau pihak lain. Tapi, sejatinya ia merahasiakan pendapat tidak setuju terhadap hal yang dipengaruhkan.

Contoh: Raffi. Datang pagi-pagi sekali ke Istana Kepresidenan pada Selasa, 12 Januari 2021, memenuhi undangan pihak Istana. Untuk divaksin pertama kali, bersama Presiden Jokowi dan para pejabat tinggi negara. Istana belum buka, Raffi sudah datang. Menunggu lebih dari dua jam, giliran disuntik.

Menjelang disuntik, Raffi disorot kamera video live streaming. Ia ketawa ketiwi, disuntik. Tak kurang, isterinya, Nagita Slavina di rumah membangunkan anaknya, Rafathar, untuk nonton live streaming Raffi disuntik.

Usai disuntik, Presiden Jokowi berpidato, agar semua orang yang sudah divaksin, tetap menjaga protokol kesehatan. Mendengar itu, Raffi manggut-manggut. Tanda, ia bakal patuh. Ternyata begitu….

Nomor dua: Identifikasi, orang atau masyarakat, dipengaruhi oleh seseorang yang disukai dan dihormati, seperti selebriti terkenal. 

Dalam hal ini Raffi berstatus ganda. Sebagai orang yang dipengaruhi pimpinan pemerintah, Presiden Jokowi. Raffi terpengaruh. Juga, sekaligus Raffi mempengaruhi publik agar jangan ragu divaksin. Raffi pemengaruh.

Di posisi begitu, Raffi malah: Geeer… nya berantakan. Pecah gak karu-karuan. Di satu sisi ia jadi pembangkang. Di sisi lain ia tidak bisa jadi panutan. Dua-duanya jeblok.

Nomor tiga: Internalisasi, ketika orang menerima kepercayaan atau perilaku, dan ia benar-benar setuju, baik secara publik maupun pribadi. Contoh: Yang jelas bukan Raffi Ahmad. Tapi para pejabat tinggi negara yang sudah disuntik. Kecuali, mereka terbukti tidak pakai masker di area publik.

Prof Kelman, dalam bukunya yang terkenal "Compliance, identification, and internalization: Three processes of attitude change (1958)” menyatakan:

Teori di atas menggambarkan dua kebutuhan psikologis, yang mengarahkan orang menyesuaikan diri dengan harapan orang lain. Masih dibagi dua lagi: 1) Pengaruh sosial informasional. 2) Pengaruh sosial normatif.

Nomor satu: Pengaruh sosial informasional, adalah pengaruh untuk menerima informasi dari orang lain sebagai bukti tentang kenyataan. 

Pengaruh ini muncul ketika orang tidak yakin terhadap hal yang dipengaruhkan. Tidak yakin, sebab ambigu, keraguan, atau karena perselisihan sosial. 

Contoh: Raffi mungkin tidak yakin, bahwa setelah divaksin ia masih bisa tertular Corona. Ia tidak yakin nasihat Jokowi, agar tetap menjaga Prokes. Maka, dia yakin membuka masker, dan joget. Ia mengkhianati, manggut-manggut-nya saat dinasihati. Teganya dikau.

Nomor dua: Pengaruh sosial normatif, adalah pengaruh untuk menyesuaikan diri dengan harapan positif orang lain. Mengarah pada kepatuhan publik.

Contoh: Seumpama Raffi tidak hadir di pesta ultah itu. Ia menyesuaikan diri dengan harapan positif orang lain (Presiden Jokowi). Raffi patuh. Tapi, ini tidak terjadi.

Kapolsek Kebayoran Baru, Komisaris Supriyanto, Jumat hari ini akan memeriksa Ricardo Gelael. Dugaan, pelanggaran Prokes. Dilanjut memeriksa saksi-saksi. Termasuk Raffi. Mamulo… mamulo… (*)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.