Menkes: Prokes Salah Sejak Awal

 

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengejutkan. “Prokes Corona kita, salah sejak awal,” katanya di dialog Corona, disiarkan Youtube, Jumat kemarin. Berarti, kerja tim Covid hampir setahun ini, gak bener. Sia-sia. Berbiaya Rp 800 triliun, itu. Ampun… Gusti.

Pernyataan itu, disambut anggota DPR RI. “Saya sungguh terkejut. Selama ini, pemerintah membuat aturan, apakah konsultasi dengan epidemiolog, atau belum?” komen Anggota Komisi IX DPR Saleh Daulay kepada pers, Jumat kemarin.

Komisi IX DPR RI, membidangi masalah kesehatan, paham bahwa tim Corona sudah melibatkan epidemiolog. Baik di Kemenkes, Satgas Covid, dan lembaga terkait. Sudah melibatkan pakar epidemiologi. Banyak pakar.

Lha, kok bisa? “Ya, perlu penelusuran lebih jauh. Tapi, saya simak penjelasan Menteri Kesehatan Budi Gunadi, ada benarnya. Logis, begitu,” ujar Saleh.

Menkes Budi membuat kejutan itu di acara Dialog Warga 'Vaksin & Kita' Komite Pemulihan Ekonomi & Transformasi Jabar', disiarkan YouTube, kemarin.

Budi menjelaskan 3 T (testing, tracing, treatment) dasar protokol kesehatan (Prokes) penanggulangan Corona. Yang terjadi sekarang, jumlah pengidap Covid terus melonjak. Treatment… treatment…

Sedangkan 3 T seharusnya dilaksanakan berurutan. Treatment adalah bagian akhir. Jika 2 T sebelumnya tidak mampu membendung jumlah pengidap Covid. Baru-lah treatment.

Budi menganalogikan, sebuah rumah gentengnya bocor. Setiap hujan, air masuk. Menyebabkan lantai banjir. “Nah, setiap kali hujan, kita selalu sibuk ngepel. Tidak berpikir menambal atap yang bocor,” katanya. Ini benar-benar kesalahan parah. Entah, kita bodoh atau malas? (kalimat terakhir ini dariku, bukan dari Menkes).

T pertama, test. Sudah diakui hebat oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito. Ia sebutkan, jumlah test Corona di Indonesia sudah top. Sudah melampaui target badan kesehatan dunia WHO.

Dikatakan Wiku, dalam siaran pers daring, via Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (19/1/21) begini: “Pada 10 Januari 2021, jumlah orang yang diperiksa mingguan sudah 290.764 orang. Itu melebihi target WHO sebesar 107,69 persen.”

Dijelaskan, ketentuan WHO test Corona harus dilakukan, minimal 1:1.000 populasi. Populasi Indonesia (data Badan Pusat Statistik, 2020) 267 juta orang. Berarti, minimal Indonesia harus melakukan tes Corona, minimal 267.000 orang per pekan.

Kita sudah melewati target WHO. Kita hebat. Tapi, jumlah pengidap Corona, kok terus meningkat?

Tahu-tahu, Menkes Budi mengatakan: “Saya ini, seminggu bisa dites lima kali. Mau menghadap Pak Presiden, saya dites. Besok menghadap beliau lagi, di-swab lagi. Nah, semua itu dihitung, tercatat.”

Budi, meski bukan dokter, sudah konsultasi dengan ahli epidemiologi soal itu. Dan, cara hitung jumlah tes Indonesia, salah. 

"Itu kan, testing epidemiologi. Aku diajarin sama temen-temen dokter, bahwa yang dites tuh, orang yang suspek. Bukan orang mau pergi kayak Budi Sadikin, mau ngadep Presiden, dites. Ngadep lagi, dites lagi. Semuanya dihitung,” tuturnya.

Pantesan, jumlah tes kita melampaui target WHO. Dengan kondisi over-target ini, maka kita merasa tidak perlu melakukan tracing, mencari suspek. Gak perlu lagi. Alhasil, 2 T (awal) kita jeblok. Karenanya, pasien Corona berjubel di rumah sakit, langsung loncat ke treatment.

Gambaran faktual: Per Jumat, 22 Januari 2021 kemarin pemerintah memperbarui data jumlah positif Corona di Indonesia, lebih dari 13 ribu orang. Hanya seharian kemarin, cut off pukul 12.00 WIB.

Berdasar data yang diumumkan Humas BNPB, pada Jumat (22/1/2021)  jumlah positif Corona 13.632 kasus di Indonesia. Akumulatif kasus positif COVID-19 di Indonesia per kemarin, total 965.283 kasus.

Melebihi treatment, adalah pemakaman korban Corona. Setelah rumah sakit penuh pasien Corona, lokasi pemakaman korban Corona di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, juga penuh. Bahkan sudah ditutup, sejak Jumat kemarin. Dipindah ke TPU Bambung Apus, Jakarta Timur.

Penanggung Jawab Pelaksana Pemakaman COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Muhaemin kepada pers, Jumat (22/1/2021) kemarin mengatakan: 

"Hari ini, dimulai (pembukaan makam baru). Jadi, jenazah Corona yang dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, dialihkan ke TPU Bambu Apus."

Luas areal pemakaman Corona di Bambu Apus 3.000 meter persegi. Tidak terlalu luas, jika dibandingkan dengan kesalahan Prokes 3 T. Tapi, sementara dianggap cukup oleh Pemprov DKI Jakarta.

Maka, Menkes Budi akan mengatasi kesalahan 2 T awal. Maklum, ia baru tiga pekan ini jadi Menkes. "Itu mesti kami tata dari sekarang. Nggak bisa sendirian, mesti tanya orang-orang yang ngerti," kata Budi.

Mengapa kesalahan ini berlarut, hampir setahun? Mengapa tidak ada yang mengingatkan, dulu-dulu? Apakah ada unsur sengaja, agar sibuk treatment?

Analogi: Sopir taksi mengangkut penumpang, sengaja muter-muter. Supaya terus ada kerjaan. Dan, argo terus jalan.

Analogi lain: Tim tukang bangunan menggarap rumah, ongkos harian. Tim menciptakan manajemen kerja yang rumit berbelit, supaya pekerjaan berlangsung lama. Sehingga ada kerjaan.

Tapi, tim penanggulangan Corona, para pakar dan ilmuwan. Pastinya tidak sengaja salah. Seumpama terbukti sengaja, bakal diurus KPK. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.