Wajah Ceria, Mata Berurat Merah

 

Dolly
Ilustrasi. Foto: Dok Dolly

“Tanjung Perak kapal’e kobong. Monggo pinarak, mas… kamar’e kosong,” sapa wanita muda, padaku. Cantik, gincu tebal, rambut terurai. Di kawasan Putat Jaya, Surabaya.

Itu dulu. Puluhan tahun lalu, sewaktu saya SMA. Lokasi tepatnya, komplek pelacuran Dolly.

Pantun Suroboyoan itu ternyata kudengar lagi. Ketika aku lewat sana lagi (untuk suatu urusan, penting) di awal 2014. Pantun serupa itu lagi. Terlontar dari bibir bergincu tebal juga.

Beberapa bulan setelahnya, Dolly resmi ditutup pemerintah.

Aku tidak membahas penutupan Dolly. Tidak. Itu urusan pemerintah. Dan, sudah bagus.

Melainkan, wajah-wajah cantik itu. Dan pantun-pantun mereka, menyapa calon konsumen. Kugambarkan, deskripsi mereka (rata-rata) begini:

Wajah cantik, khas Jawa. Bibir tebal bawah. Merah menyala. Pipi tirus bedak total. Mata bulat, gesit, memancarkan ceria. Tapi, di sudut-sudut mata, lamat-lamat ada garis-garis merah. Tanda kurang tidur.

Ada kontradiksi di wajah. Senyum lebar, ramah. Bola mata gesit, ceria. Sayang, ada guratan-guratan merah di sudut-sudutnya. Aura sedih di balik mata.

Sesungguhnya, aku paham keseharian para pelacur itu. Ketika aku jurnalis lapangan, sering wawancarai mereka. Agar hasil wawancara akurat, harus akrab.

Bicara tentang mereka, intinya kisah pilu. Tidak berdaya. Melalui hidup yang keras, tanpa skill apa-apa. Kecuali wajah cantik, tubuh seksi.

Tapi, seandainya kutulis pengamatanku, jadinya bias. Subyektif. Bisa dituduh tidak fair.

Kuambilkan disertasi Sandra Neuman, sarjana Linnaeus University, Swedia. Disertasinya  berupa riset pelacuran di Thailand pada 2012. Fokus ke pelacur. Judul: Female Prostitution in Thailand.

Neuman meriset kualitatif pelacuran di Bangkok dan Patong, Thailand. Responden 100 pelacur. Teknik snowball sampling. Wawancara langsung dibantu penterjemah.

Usia responden berkisar 16-42. Mereka jadi pelacur antara satu bulan hingga sepuluh tahun.

Simak, salah satu (nama dirahasiakan). Pelacur ini cantik. Dia berusia 16 tahun, jadi pelacur sejak usia 14 tahun. Berasal dari Desa Isan, di timur laut Thailand. Itu desa miskin. (E1, 2011-11-10).

Latar belakang responden, anak petani. Setelah usia 14, dia banyak dengar cerita teman-temannya tentang keindahan Bangkok. Responden sangat kagumi cerita-cerita itu. Sampai terbawa mimpi. Walaupun belum pernah melihat wujud Bangkok.

Rasa penasaran responden, dia kabur ke Bangkok. Bersama beberapa teman wanitanya. Diajak seorang wanita setengah baya yang, katanya, sudah paham Bangkok.

Tiba di Bangkok, dia langsung dikurung di suatu lokasi. Dibius, diperkosa.

Setelah sadar, dia berontak ingin pulang. Tapi, kurungan dan penjagaan ketat.

Singkat cerita, dia kemudian dijual. Laku, Bath 15.000 (sekitar Rp 7 juta). Ini usia 14, loh…

Sambil menangis, dia terima separo bayarannya. Nilai yang bagi dia sangat tinggi. dia nangis, sambil berhitung.

Responden lain, usia 23. Asal, Desa Isan juga.

Dia pertama kali bekerja di pabrik kecap di Bangkok. Lantas, dia banting setir jadi pelacur.

Alasannnya: “Lebih bebas. Sedikit jam kerja. Menghasilkan jauh lebih banyak uang dibanding di pabrik,” tulis Sandra Neuman.

Bekerja di pabrik, disiplin keras. Jam kerja panjang. Kondisi tempat kerja pengap, belepotan kecap.

“Uang dan jam kerja yang lebih pendek, alasan utama banyak pelacur di Bangkok,” tulis Neuman.

Dari sekian responden, sebagian besar responden punya anak. Umumnya, mereka melahirkan ketika berusia awal dua puluhan. Hampir semua responden meninggalkan anak di desa.

“Rata-rata mereka, tidak ingin anak-anak mereka tahu pekerjaan mama. Mereka malu,” tulis Neuman.

Tapi, para pelacur ini rutin mengirimkan uang ke orang tua di desa. Menghidupi ortu, juga anak.

Ke mana suaminya? “Hampir semua janda. Mereka tersenyum pada semua calon pembeli, demi menghidupi keluarga di kampung halaman,” tulis Neuman.

Hebatnya, rata-rata pelacur yang punya anak, menyimpan foto anak mereka. Di dompet, lemari pakaian, bahkan dipajang di dinding kamar ukuran 3 x 3 di wisma-wisma Bangkok.

Mereka selalu rindu anak. Setahun sekali, pulang kampung, menjenguk anak dan ortu.

Parahnya, ortu justru terus minta uang. Makin lama kian meningkat nominalnya.

Ortu memandang responden mewah. Perhiasan, parfum, penampilan, aura gemerlapnya Bangkok. Dikira, duitnya banyak. Begitulah hidup mereka.

Jika Pembaca tega terhadap pelacur, Anda harus tinggal bersama dia. Sehari saja. Pasti, kebencian Anda bakal berubah.

Yang makmur, adalah germo. Yang akan kutulis di sesi berikutnya. Jangan kemana-mana. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.