Unik, Rambut Catherine Wilson Diuji Lab

 

Catherine Wilson
Catherine Wilson. Foto: KapanLagi.com

Ada yang unik dari penangkapan Catherine Wilson. Dia mengakui, pengguna narkoba (sabu) sejak dua bulan lalu. Aparat Polda Metro Jaya menyatakan, akan menguji rambut Catherine untuk mengetahui, sejak kapan dia pengguna.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam konferensi, Sabtu (18/7/2020) menyatakan, uji rambut dilakukan di Puslabfor Polri untuk mengetahui, berapa lama Catherine Wilson mengkonsumsi narkoba.

Di Indonesia laboratorium uji rambut, belum lama ada. Di Amerika sudah jauh lebih dulu. Medical News Today merinci itu (tes obat folikel rmbut).

Tes ini, hanya bisa mengetahui konsumsi aneka jenis zat yang dikonsumsi pemilik rambut. Hanya sampai 3 bulan ke belakang, sejak dites.

Yang terdeteksi: Ganja, amfetamin, metamfetamin, sabu, ekstasi, kokain opiat, seperti heroin, kodein, dan morfin.

Di Amerika digunakan untuk tes pelamar kerja. Beberapa perusahaan mengharuskan itu bagi calon karyawan

Manajemen perusahaan juga bisa melakukan pengujian obat acak karyawan. Tapi, ketika muncul insiden. Misalnya, diketahui ada karyawan yang pengguna narkoba.

Di beberapa negara Eropa melarang perusahaan menguji rambut karyawan untuk kepenting tersebut. Kecuali, pihak perusahaan memberikan bukti kuat yang mendukung keputusan uji rambut karyawan.

Bagi aparat penegak hukum di seluruh dunia, uji rambut lzaim digunakan. Tidak bagi pihak perusahaan swasta.

 Cara pengujian, penguji mengambil sampel rambut yang tercabut sampai ke akarnya. Sehelai cukup.

Bagaimana dengan orang botak permanen? Sampel rambut bisa dari ketiak atau wajah. Asal, panjangnya minimal 1 Cm. Lantas dikirim ke laboratorium.

Uji ini bisa bias. Pada orang teruji pengguna obat resep dokter. Akibatnya, hasilnya tidak akurat. Itu sebabnya tes dilakukan dua langkah.

Pertama, tes enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), yang merupakan metode skrining cepat.

Jika tes ELISA menghasilkan hasil positif untuk zat tertentu, teknisi akan menguji ulang sampel rambut. Menggunakan pengujian kromatografi konfirmasi.

Misal, kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS), untuk menyingkirkan kemungkinan positif palsu.

Hasil tes ada tiga: positif, negatif dan meragukan. Positif, diketahui jenis narkoba dan masa penggunaan. Tapi hanya efektif sampai tiga bulan ke belakang, sejak dites.    

Negatif, tak terbukti. Meragukan, juga tak terbukti. Ini terjadi akibat kesalahan prosedur tes, atau sample terkontaminasi dengan zat lain, sebelum dites.

Pada 2015, peneliti di Friends Research Institute di Baltimore, Maryland, Amerika melakukan penelitian menguji efektivitas tes ini.

Para peneliti membandingkan penggunaan narkoba yang dilaporkan sendiri dengan hasil tes folikel rambut dari 360 orang dewasa yang berisiko untuk penggunaan narkoba sedang.

Hasilnya, lebih dari 90 persen akurat. Ada faktor yang menyebabkan tidak akurat.

Dalam sebuah studi tahun 2017, para peneliti membandingkan hasil tes obat folikel rambut dengan penggunaan narkoba yang dilaporkan sendiri dari 3.643 peserta.

Hasilnya, ada sedikit potensi positif palsu, tetapi lebih banyak potensi negatif palsu.

Karenanya, peneliti menyimpulkan bahwa tes folikel rambut tidak memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai penggunaan obat pada populasi umum.

Maka, unik jika Polda Metro Jaya menyatakan akan menguji rambut Catherine untuk mengetahui latar belakang penggunaan narkoba yang bersangkutan.

Juga, Catherine ditangkap polisi bersama satpam di rumahnya. Satpam ini biasa membelikan Catherine narkoba. Lantas dia diberi tip narkoba juga. Kemudian mereka menggunakan bersama.

Tapi, Satpam tidak diuji rambutnya. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.