Ssst… Waspadai Chating Model Begini

ssst...
Ilustrasi. Foto: GettyImage


Dialog antar dua gadis remaja ini, lewat WA:

Cewek 1: Kata temen, anal aman. Gak bakal hamil, n still virgin.

Cewek 2: Iiih… cringe bangetz, lo. Yg aman sambil diri, tau…

Cewek 1: Kalo moneyshot, gimana? Elo pernah gak?

Cewek 2: VC aje. Ntar ketauan nyokap, anjey…

Klik… masing-masing menghapus chat WA.

Kembali ke aktivitas semula. Buka buku, sepertinya belajar. Sibuk lagi, sibuk lagi.

Ortu tak pernah tahu, bahwa anak-anak mereka sangat vulgar. Walau kelihatan rajin belajar.

Dialog itu tanda, bahwa remaja sangat ingin tahu tentang seks. Menggebu-gebu. Selaras dengan pertumbuhan biologisnya.

Dan, diskusi tentang aktivitas seks tersebut, salah semua. Menjerumuskan semua. Sangat berbahaya.

Tapi jangan keburu menyimpulkan, bahwa dua gadis itu sudah pernah seks penetrasi. Belum tentu. Simak lagi kalimat mereka. Sangat mungkin, belum.

They are young and they are proud.

Kebanggaan mereka: Sok tahu. Supaya dianggap sudah pengalaman. Sudah jago. Modern.

Begitulah manusia: Yang muda ingin dianggap tua. Yang tua ingin dianggap muda. Kebolak-balik.

Belajar Seks via Online

Bagaimana bisa, mereka begitu vulgar? Pastinya browsing internet. Melalui ponsel. Cukup di genggaman.

Klik sana-sini, jutaan informasi bertaburan. Termasuk video porno. Ini justru disuka. Video, gitu loh...

Maklum, mereka bukan generasi literasi. Mual bacaan. Yang butuh ketajaman gambar imajinasi.

Ibarat pisau, imajinasi mereka kurang diasah. Akibatnya bukan tidak tajam. Melainkan masih utuh. Tak tergerus batu asah.

Ayo, balik ke riset.

Riset di suatu SMA di Trenggalek, Jawa Timur (tak sebut nama). Februari hingga April 2017. Responden 75 siswi, populasi di sana 182 siswi.

Oleh: Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya (Jurnal Unair, Promkes Vol 5 No 1 Juli 2017).

Dipublikasi di e-journal.unair.ac.id

Mengungkapkan:

Mayoritas responden sudah berciuman dengan pacar. Minoritas sudah berhubungan seks pra-nikah (tanpa data kuantitatif).

Responden pengguna media, terutama media online. Rata-rata punya 3 akun media social. Meluangkan waktu 3 jam per hari untuk itu.

70% mencari informasi. Bukan soal pendidikan seks. Melainkan hiburan. Di sinilah ada video porno. (tidak disebut kuantitatif, karena sulit akurat).

Dokter Cora C. Breuner dari The American Academy of Pediatrics, Wahington DC, Amerika, dalam jurnal ilmiah: Pendidikan Seksualitas untuk Anak-anak dan Remaja (2001) mengatakan:

Pendidikan seks terbaik bagi remaja, dari ortu. Tapi, itu tidak gampang. Bahkan, di Amerika.

Di Amerika, ortu memberikan pendidikan seks ke anak-anaknya, jika ada problem. Atau, anak bertanya. Jika tidak, sulit dimulai.

Apalagi di Indonesia. Pendidikan seks dianggap tabu. Baru, setelah hamil, ortu kelabakan. Jika lelakinya kabur, jadilah malapetaka. Dianggap aib keluarga.

Organisasi pendidikan dunia, Unesco, membantu negara-negara berkembang dalam pendidikan seks bagi remaja, sejak 2018.

Namanya Sexuality Education Review and Assessment Tool (SERAT). Caranya, pihak sekolah mendaftar ke Unesco di program itu via online. Akan diberi kurikulum pendidikan seks, termasuk konsultasi. Gratis.

Sayang, belum ada sekolah Indonesia yang mendaftar.

Jadi… sekolah dan keluarga, nothing. Sementara, siswi SMA Trenggalek sudah begitu.

Apalagi, di kota-kota besar Jakarta dan Surabaya. Ortu perlu waspadai chating anak-anak ini:

Cewek: Ily

Cowok: Paan tu

Cewek: I love yu

Cowok: Skidipapap mo gak?

Cewek: Hah? Bucin, lo

Begitu vulgar. Sementara, riset-riset pun tak banyak membantu. Hasil riset tak dibaca ortu, atau pihak sekolah.

Perisetnya, menunaikan tugas akademik. Konsentrasinya ‘kan tugas. Bukan menolong.

Bagai ada kecelakaan lalu lintas, korban tergeletak di aspal. Berdarah-darah. Penonton berkerumun. Hanya ingin tahu.

Wahai… remaja. Ayo… kita nyanyikan ini:

I love my pen, my pen is blue…

I love my prend, my prend is yu. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.