Ngeseks, Hamil, Aborsi, Frustrasi

ngeseks
Ilustrasi. Foto: GettyImage

 

Agus (17) ngeseks dengan Bunga (15). Tiga bulan kemudian Bunga hamil. Mereka panik. Tak menyangka. Cuman gitu aja bakal punya baby. Lalu aborsi.

Ilustrasi tersebut, pastinya tak disadari 37 pasangan ABG yang terjaring razia di kamar hotel di Jambi, Rabu (8/7/2020) malam.

Mereka terjaring Tim gabungan TNI/Polri bersama unsur Pemerintah Kota Jambi yang mengelar razia di hotel Ceria, Bintang Timur, Sarinah, dan Mayang Sari.

Di antara mereka ada pasangan pemuda usia 15 berpasangan dengan gadis usia 13. Berpesta seks, merayakan ulang tahun. Miris sekali.

Penggerebekan dilakukan malam hari. 37 pasang remaja itu kepergok petugas, saat mereka berada di dalam hotel, berduaan.

Tapi, petugas tidak melakukan interogasi, apakah mereka sudah ngeseks penetrasi, atau belum. Mungkin petugas merasa risih bertanya begitu.

Padahal, pertanyaan petugas itu penting. Paling tidak, sebagai antisipasi kemungkinan remaja wanitanya hamil.

Seandainya di antara mereka ada yang hamil, masalah bakal berkembang lebih rumit. Termasuk kemungkinan aborsi. Dan bahayanya.

Riset: Sepertiga Remaja Ngeseks

Fakta di Jambi itu cocok dengan hasil riset PT Reckitt Benckiser Indonesia (produsen kondom merek Durex) di Jakarta, 19 Juli 2020, hampir setahun lalu.

Riset via internet dilakukan tahun lalu. Jumlah responden 500 remaja pria-wanita. Belum menikah. Dari lima kota besar Indonesia, termasuk Surabaya.

Bahwa 33 persen dari responden pernah berhubungan seks (penetrasi).

Dari 500 responden, 58 persen ngeseks (penetrasi) di usia 18 sampai 20 tahun.

"Ini mencengangkan," kata dr. Helena Rahayu Wonoadi, Direktur CSR PT Reckitt Benckiser Indonesia dalam paparannya di Jakarta, Jumat (19/7/2019).

“Kalau ada yang bilang, edukasi seksual tabu, maka data ini perlu dipikirkan,” tambahnya.

Hasil riset mengungkap, tanda pubertas remaja Indonesia berubah. Pada 30 tahun lalu usia pubertas 15 sampai 18 tahun. Pada 2019 jadi 12 sampai 17.

Hasil riset ini dikritik Ketua Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, Dr Rita Damayanti.

“33 persen remaja pernah penetrasi tidak bisa dijadikan prevalensi (kelaziman),” kata Dr Rita Damayanti.

Sebab, survei itu lewat internet. Menurutnya, tidak semua remaja bisa mengakses internet.

Sanggahan tersebut lemah. Sebab, di lima kota besar lokasi responden, sangat mungkin remaja akrab internet.

Memang belum ada riset prosentase remaja pengguna internet di kota-kota besar Indonesia. Tapi, kini internet sudah bukan sesuatu yang mahal. Bahkan bagi keluarga sederhana.

Dr Rita mengkritik, 76 persen responden berusia 20 sampai 25. Idealnya, menurutnya, di usia 15 – 18.

Sebagai perbandingan, definisi remaja oleh badan kesehatan dunia WHO, remaja usia 12 sampai 24 tahun.

Penggerebekan dan riset tidak saling berhubungan. Tidak ada kerjasama antara riset dengan penggerebekan.

Tapi, dua fakta itu berkorelasi. Meskipun berbeda waktu sekitar setahun.

Yang jelas, dua fakta tersebut mengejutkan. Memprihatinkan.

Seks bebas di kalangan remaja bukan hanya rumor atau dugaan. Melainkan faktual.

Penggerebekan 37 pasang remaja di Jambi. Tidak diteliti, berapa di antara mereka yang sudah penetrasi selama di hotel. Atau, apa saja yang mereka lakukan di kamar.

Petugas hanya memanggil orang tua mereka, kemudian dibriefing. Tidak diteliti.

Riset oleh kondom Durex, meskipun dipublikasi oleh perusahaan besar, namun bisa terkontaminasi dengan dugaan, bahwa itu bagian dari promo produk.

Maksudnya, ada kemungkinan riset tersebut bias. Karena, betapa pun pelaksananya adalah produsen alat kontrasepsi.

Apa, mengapa dan bagaimana remaja melakukan seks pra-nikah? Bagaimana cara orang tua menjaga anak-anaknya? (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.