Jual Tanah Selaligus Surat Nikah

 

Dewi Kudus
Dewi Kudus. Foto: Facebook

“Dijual, tanah 72 m2 di Griya Taman Bahagia, Kudus. Harga Rp 100 juta. Sekalian, adik saya Dewi (26) cari suami, mungkin jodoh anda,” tulis Aris di Facebook. Dilengkapi foto Dewi. Mejeng, membusungkan dada. Iklan ini langsung viral.

Itu diposting Selasa (21/7/2020). Menyebar ke mana-mana. Ke grup-grup WhatsApp, dan jadi bahan guyonan sampai hari ini.

Di tanggal yang sama, Psychology Today menerbitkan artikel bertajuk “Finding a Mate’ (cari jodoh). Kebetulan. Tapi, bukan Dewi atau Catherine yang cari jodoh, melainkan Psikolog DR Stephen Mason, memberi tips, cara mencari jodoh.

Dua materi tidak berhubungan ini ternyata matching: Cari jodoh.

“Pria - wanita, jangan cari jodoh sembarangan,” tips Psychology Today. Jika salah caranya, pernikahan bakal berantakan.

Sebaliknya, Dewi mencari jodoh ‘nebeng’ iklan kakaknya jual tanah. Mencari pria model apa pun. Sembarang saja. Asal jodoh, tidak akan ke mana...

Iklan Dewi itu disambut media massa. Diberitakan detil, Dewi janda beranak dua. Sudah dua kali bercerai. Dia punya salon potong rambut, dan cari suami lagi.

Artikel Psychology Today menyarankan begini:

Kesalahan terbesar bagi pencari jodoh, adalah mencari di semua tempat yang salah. Kesalahan awal ini berpotensi gagalnya pernikahan.

Dijelaskan, berdasar teori psikologi, umumnya (sekitar 82 persen) pria atau wanita mencari pasangan atas dasar kesamaan tertentu. Agama, suku, ras, kelas sosial, tingkat pendidikan, bidang yang diminati.

“Itu betul,” kata DR Stephen Mason di Psychology Today. Kesamaan tertentu antar pasangan, jadi modal besar keharmonisan.

Berdasar hasil riset, tingkat perceraian di pernikahan model tersebut, di bawah 17 persen.

Mason menggambarkan demikian: Jika anda suka barang antik, jangan cari jodoh pergi ke bar. Salah alamat. Bisa dapat orang yang suka hiburan, bahkan pemabok.

“Tapi, pergilah ke museum,” sarannya. Maka, anda bakal menemukan orang yang juga suka barang antik. Selaras. Kemungkinan besar bakal harmonis.

Setelah menemukan orang dengan kesamaan tertentu, perhatikan saat pertemuan.

Pencari jodoh, jangan sia-siakan lima menit pertama di saat kalian pertama bertemu. Itulah saatnya pertunjukan dimulai. Itulah titik kritis.

“Jika anda salah penampilan, bakal menghasilkan kesan buruk. Selanjutnya... sangat mungkin tidak berlanjut.”

Sedangkan Dewi, bagai buku terbuka lebar. Terbaca warga Indonesia di mana pun.

Cari jodoh cara Dewi tidak sama dengan saran Psychology Today. Dia mencari ‘barang antik’, bukan di museum. Melainkan arena yang begitu luas.

Calon jodoh Dewi yang bekal mengukur. Dengan spesifikasi seperti itu, pria macam apa saja yang bakal datang.

Apalagi, Dewi dalam wawancara media sudah mengatakan, “Sudah ada calon dari Malaysia dan Singapura, mau datang. Saya sedang menunggu.”

Benar-benar seperti iklan barang: “Sudah ada penawar. Bagi penawar tertinggi, silakan datang.” Semacam bargaining. Entah itu gertakan, atau beneran.

Maka, prosesnya bakal gampang. Tinggal satu saran dari Psychology Today:

Bagi ‘barang antik’ yang datang, jangan sia-siakan lima menit pertama pertemuan. Langsung tubruk saja. (*)

Jakarta, 23 Juli 2020


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.