Bayi Lahir Langsung Bunuh (3-Habis)

 

Mayat Bayi
Mayat bayi di menur Pumpungan. Foto: Ist

Bayi dibuang, pasti hasil seksual terlarang. Tersangka mestinya: 1) Wanita pelahir. 2) Lelaki penghamil. 3) Pendidik: Guru SMP, SMA dan ortu pelahir. 4) Akademisi. 5) Negara. 

Nomor 5, Kemenkominfo sudah menutup konten video porno. Walaupun ribuan (mungkin jutaan) tidak bisa ditutup semua. Kewalahan, saking banyaknya.

Ada BKKBN, mengedukasi kontrasepsi. Meski ditujukan ke suami-isteri, tak ayal berguna bagi non-suami-isteri yang telanjur ngeseks.

Perangkat hukum perzinahan juga sangat banyak. Bahkan terlalu banyak. Razia-razia tempat mesum juga cukup gencar.

Negara sudah cukup berupaya, dalam hal ini.

Nomor 4, nyaris belum berperan. Mereka ngomong ‘bahasa langit’ akademik yang seolah-olah keren. Scientific. Intelek. Tapi tidak menyumbang apa-apa untuk ini.

Contoh terbaru, September tahun lalu:

Disertasi Abdul Aziz, mahasiswa Doktoral Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Berjudul 'Konsep Milk Al-Yamin, Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital'.

Abdul Aziz kepada media massa menjelaskan, berdasarkan pemikiran Muhammad Syahrur (pemikir, profesor teknik sipil asal Damaskus), hubungan intim di luar nikah tidak melanggar hukum Islam.

Berdasarkan Muhammad Syahrur, dalam Alquran tidak ada definisi zina. Alquran hanya melarang berzina. Definisi zina, berasal dari para ulama.

“Di dalam Alquran memang ada larangan mendekati zina, jelas. Tapi definisi zina kan tidak ada,” kata Abdul.

Bagi Muhammad Syahrur, kata Abdul Aziz, ngeseks disebut zina bila dipamerkan ke publik. Tapi, kalau dilakukan di ruang privat, dan sesuai syarat-syarat milkul yamin, maka tidak bisa dikatakan zina.

Akibatnya heboh. Media massa jadi kompor pemanas. Rektor UIN Yogyakarta, Yudian Wahyudi, menggelar konferensi pers, ‘meluruskan’ disertasi berpredikat: Sangat Memuaskan, itu.

Selanjutnya, mereka bersilat lidah. Bahasa langit, mengangkasa. Ada: “budak perempuan dimaknai kontemporer.” Ada juga “Sisi linguistik pendekatan gender.” Bahkan, “Tidak sekadar eksplanatori, tapi analisis kritik.”

Mereka canggih-canggih bersilat lidah. Bahasa tinggi-tinggi. Seolah khawatir tak dipercaya, bahwa mereka akademisi.

Tapi output (maaf... keluaran) terkait cara mengatasi banyaknya bayi dibuang ke selokan, tidak ada. Mereka bermain di wilayah tinggi. Tidak membumi. Mengatasi masalah bangsanya.

Misalnya apa?

Ya... Riset. Teliti-lah: Siapa, bagaimana dia, mengapa pelaku membuang bayi?

Apakah mereka penonton video porno, berapa durasi tonton, bagaimana dia dididik, apakah dia kelainan mental?

Untuk mendapatkan responden, peneliti harus menyanggong di rumah ribuan dukun bayi. Di sanalah para wanita hamil ini menggugurkan kandungan.

Hasil riset bisa dijadikan pedoman bagi para pendidik: Guru SMP, SMA, Ortu pelaku.

Nomor 3, memang pihak bersalah. Tapi, bisa jadi mereka lemah ilmu mendidik. Terkait kurikulum pendidikan seks anak dan remaja. Diskusi terbuka dalam keluarga tentang pendidikan seks.

Di nomor 3, kendala utama adalah kata: Tabu. Soal seks masih dianggap tabu. Tabu dibicarakan, tahu-tahu dilaksanakan.

Nomor 2, inilah predatornya. Harus dipermak pendidikan multi-bidang (meniru bahasa akademisi). Bukan hanya bidang agama saja, walau itu yang utama.

Nomor 1, tidak bakal terjadi hubungan seks, tanpa ada sinyal “ok” dari wanita. Kecuali perkosaan. Pelaku ibarat kendaraan rusak yang mesti masuk bengkel.

Sudahkah selesai? Jawabnya: Kurang satu lagi.

Budaya masyarakat harus dibangun, positif. Selama ini, jika pria berhasil mengencani wanita, dianggap hebat. Jadi hero. Bahkan, oleh ibunda si pria. Sebagai egoistik ibunda.

“Cie... cie... Agus dapet gebetan baru, neeh...”

Itu membuat sang predator merasa dapat angin. Berkibar-kibar.

Nilai-nilai masyarakat lama, bahwa hubungan seksual bersifat sakral, sudah pudar. Akibatnya lahir bayi-bayi yang dibunuh, dibuang. (*)

Jakarta, 26 Juli 2020


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.