Bayi Lahir Langsung Bunuh (2)

 

Mayat Bayi
Penemuan mayat bayi di Jombang, Jatim. Foto: Ist

 

“Dalam setahun, berjuta-juta wanita Indonesia hamil tak direncanakan,” statement Guttmacher Institute. Tidak disebut jumlah. Katakan, 2 juta per tahun. Ketemu 5.479 wanita hamil per hari, bingung berniat aborsi. 

Padahal, aborsi melanggar undang-undang. Sederet pasal ini:

Pasal 83 juncto Pasal 6 dan Pasal 75, UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan.

Pasal 77 dan Pasal 78 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran;

Pasal 55 dan 56 KUHP, menjerat perempuan aborsi. Bukan pria.

Pasal 470 KUHP revisi. Juga menjerat perempuan.

Intinya, perempuan aborsi dihukum paling lama 10 tahun penjara. Tenaga medis yang membantu aborsi dihukum paling lama 4 tahun penjara.

Maka, ‘berjuta-juta wanita’ itu ngeri hukum. Mereka lari ke dukun. Undang-undang mengancam, maka ‘dukun bicara’.

Dari ‘berjuta-juta’ yang ngeri hukum itu, ada juga yang takut dukun (karena takut mati). Golongan ini kusebut telmi (telat mikir).

Golongan telmi, tindakannya kalah cepat dibanding usia kandungan. Perut sudah sangat buncit, akhirnya pasrah... melahirkan.

Terus, bayinya mau diapakan?

Bisa lehernya dijerat tali rafia, seperti ditemukan di Klampis Ngasem, Sukolilo, Surabaya, Minggu lalu.

Atau, bayi dibiarkan besar jadi pengemis, main ecrek-ecrek di traffic light. Bisa dibayangkan, bagaimana mereka saat dewasa.

Pertanyaan: Apakah data Guttmacher Institute ‘berjuta-juta wanita’ itu valid?

TheGuttmacher Institute, lembaga riset didirikan di Amerika 1968. Khusus riset kesehatan seksual dan reproduksi. Lebih khusus, riset di negara-negara berkembang.

Pada 2000 Guttmacher meriset jumlah aborsi di enam wilayah Indonesia. Hasilnya begini:

Ada 37 aborsi untuk setiap 1.000 perempuan hamil (usia 15-49). Itu perempuan bersuami. Ditambah perempuan yang berhubungan seks di luar nikah. Campur.

Dan, aborsi yang dimaksud, dilakukan di rumah sakit, klinik, dokter praktik, dan bidan praktik. Tidak termasuk dukun.

Dari riset itulah Guttmacher tahu, bahwa hampir semua aborsi dilakukan di dukun. Lantas mengeluarkan statement ‘berjuta-juta’ itu.

Beralih ke data resmi BKKBN (Badan Kependudukan dan keluarga berencana Nasional). BKKBN cenderung mendukung statement ‘berjuta-juta’ tersebut.

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo menulis di situs resmi BKKBN (bkkbn.go.id) 12 Maret 2020. Judulnya: Gunung Es Aborsi Ilegal.

Tulisan Hasto Wardoyo di situ, saya kutip tanpa editing:

“Selama ini, aborsi ilegal ibarat gunung es. Jumlah kasus yang terungkap sangat kecil. Akan tetapi dalam kenyataan kasusnya menggelembung di bawah permukaan.”

Matching dengan estimasi The Guttmacher Institute.

Riset tentang itu, punya faktor kesulitan sangat tinggi. Bukan berarti tidak bisa diriset. Bisa. Tapi, butuh investigasi keras. Butuh banyak tenaga ahli. Butuh biaya besar.

Sebab, wanita Indonesia yang hamil di luar nikah, sangat sensitif. Ngumpet. Menjauh dari siapa pun. Bagai penyu yang hendak bertelur.

Penyu hendak bertelur, menunggu datangnya malam. Begitu langit gelap, dia merapat ke pantai berpasir. Mencari tempat sepi. Lalu, plok... 

Periset aborsi di dukun-dukun, bagai pengintai penyu bertelur. Harus mengendap di gelap malam. Mengintai tak bersuara.

Repotnya, kalau benar ‘berjuta-juta wanita’ yang jadi ‘penyu hendak bertelor’, maka berapa periset yang dibutuhkan? Betapa sulitnya.

Sampai-sampai, lembaga riset internasional Guttmacher pun hanya menyampaikan estimasi.

Bagi periset Indonesia, tingkat kesulitan riset soal itu ditambah lagi dengan beban: Tabu. Kasarnya: memalukan. Malu meriset, bengkak di aborsi.

Jika ditarik garis mundur, mengapa wanita bisa hamil di luar nikah? Mengapa tidak bisa dicegah? (bersambung lagi)

Jakarta, 25 Juli 2020

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.