Bayi Lahir Langsung Bunuh (1)

 

Mayat Bayi
Heboh penemuan mayat bayi di Jalan Menur Pumpungan, Surabaya. Foto: Ist

Pilih mana: Melahirkan anak lalu dibunuh, seperti ditemukan di Klampis Ngasem, Sukolilo, Surabaya, Minggu lalu. Atau, anak dibiarkan hidup, lantas kelak jadi pengemis dan pengamen?

Pertanyaan itu sangat sinis. Tidak ada pilihan positif. Diarahkan ke negatif.

Tapi, pertanyaan itu akan menyadarkan kita. Kesadaran, yang menimbulkan pertanyaan baru: Mengapa harus punya anak, kalau kita tahu bahwa hasilnya bakal begitu?

Penemuan mayat bayi di Jalan Menur Pumpungan, Kelurahan Klampis Ngasem, Sukolilo, Surabaya itu, bukan sesuatu yang baru. Sangat banyak bayi dibunuh, mayatnya dibuang.

Yang membuat miris, bayi di Sukolilo itu dibunuh dengan cara lehernya dijerat tali rafia.

Kemudian dibungkus handuk (kelihatan masih ada sedikit rasa kasihan dari pelakunya). Kemudian dibungkus plastik. Kemudian digeletakkan di plengsengan kali.

Dari estimasi kasar, pelakunya tak tega membunuh dengan benda tajam. Tapi, si bayi harus mati dalam waktu singkat. Terpenting, tanpa suara (supaya tak didengar orang). Maka, leher dijerat rafia.

Lembaga kesehatan dunia WHO, per akhir 2017 mengumumkan, hampir 3 dari 4 anak usia 2 sampai 4 tahun di seluruh dunia, mengalami kekerasan fisik dan atau psikologis. Pelakunya orang tua si anak, atau pengasuhnya.

Kekerasan fisik menyangkut: pemukulan ringan sampai berat, membenturkan bayi dari pelan sampai keras. Sedangkan, kekerasan psikologis menyangkut: Bentakan, hinaan, caci-maki, ancaman.

Berdasarkan data WHO, pada orang dewasa yang diteliti, hasilnya demikian:

Satu dari 5 wanita dan 1 dari 13 pria melaporkan telah mengalami pelecehan seksual, ketika mereka berusia 0-17 tahun.

120 juta anak perempuan dan perempuan muda di bawah 20 tahun telah menderita semacam kontak seksual secara paksa.

Konsekuensinya, kesehatan fisik dan mental anak terganggu seumur hidup. Hasil sosial dan pekerjaan pada akhirnya dapat memperlambat pembangunan ekonomi dan sosial suatu negara.

Seorang anak yang pernah dilecehkan, cenderung menganiaya anak lain. Dan, ketika dia dewasa, tetap akan membawa perilaku kekerasan.

Sehingga, kekerasan akan berlanjut turun-temurun. Maka, WHO menyarankan pemerintah di seluruh dunia, terutama negara-negara berkembang seperti Indonesia, agar memutus mata rantai kekerasan turun-temurun.

WHO mencatat, setiap tahun ada 40.150 kematian akibat pembunuhan pada anak-anak di bawah usia 18 tahun. Beberapa di antaranya karena penganiayaan.

Jumlah ini sebenarnya bagai gunung es di lautan, yang tampak hanya bagian di atas permukaan air.

Sebab, anak-anak yang tewas akibat jatuh, terbakar, tenggelam,atau sebab lainnya, ada juga yang terjadi karena kesengajaan. Walaupun awalnya pelaku tidak sengaja membunuh.

Anak korban kekerasan yang masih hidup, justru bakal ‘merusak dunia’. WHO menggambarkan anak korban kekerasan (fisik atau spikologis) bakal begini:

Depresi. Merokok. Kegemukan. Perilaku seksual menyimpang. Pengguna alkohol dan narkoba. Kehamilan tidak diinginkan.

Sedangkan, karakteristik orang tua yang melakukan penganiayaan terhadap anak, ciri-cirinya demikian:

Kesulitan merawat bayi. Tidak mengasuh anak. Harapan tidak realistis.pecandu alkohol atau narkoba. Punya harga diri rendah. Miskin. Dan, ketika dia masih kanak-kanak dulu juga mengalami kekerasan.

Pelaku pembuang mayat bayi di Sukolilo hingga kini masih dicari polisi. Biasanya, kasus demikian segera hilang ditiup angin. Tanpa tindaklanjut. Publik hanya kaget di penemuan mayat nayi, setelah itu terlupakan.

Belum ada riset, siapa dan bagaimana kehidupan pelaku penyiksa atau pembunuh anak. Masyarakat kita biasa berpikir: Ngapain mereka diteliti. Mereka pasti sedih sudah menganiaya atau membunuh anak, kemudian dibui. Tak perlu ditanya-tanya lagi.

Padahal, riset yang bertujuan mencari akar masalah, membutuhkan data tersebut. Hasil riset bisa jadi pedoman penyelesaian akar masalah.

Apakah pelaku kekerasan pada anak ada kaitannya dengan pelaku seks bebas? Jawabnya, tunggu di sambungan tulisan ini. (bersambung)

Jakarta, 24 Juli 2020


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.