Aku Artistik, Kawanku Munafik

 

Djoko Tjandra
Djoko Tjandra dan lawyer. Foto: Antara

Aku: Apa beda Hana Hanifah dengan Djoko Tjandra?

Kawanku: Serius atau guyonan?

Aku: Serius-lah... Keduanya sama-sama soal hukum.

Kawanku: Tetap gak nyambung.

Pagi belum juga utuh. Langit baru saja tersibak kegelapannya. Matahari beringsut lamban. Burung-burung berceloteh riang.

Kujelaskan pada kawanku, kutipan buku Mochtar Lubis (wartawan senior) berjudul ‘Manusia Indonesia’. Dipaparkan, karakter manusia Indonesia ada enam.

Dari enam, paling positif: Artistik. Paling negatif: Munafik (Lubis, Mochtar, Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban), Yayasan Idayu, 1981).

Kawanku interupsi: “Ah... Joko Sembung makan kecubung. Tambah gak nyambung, Bung...”

Diamput. Kami ketawa kecut. Kawanku ini tidak sabaran. Maklum. Maunya mi instan. Padahal, instan itu tidak indah.

Lanjut: Prostitusi online yang menjerat artis FTV, Hana Hanifah, masuk golongan victimless crime (kejahatan tanpa korban). Korban satu-satunya adalah pelaku kejahatan itu sendiri.

Dalam hukum formal Indonesia, prostitusi diatur di pasal 506 KUHP:

Barang siapa, sebagai mucikari (souteneur) mengambil keuntungan dari pelacuran perempuan, diancam pidana kurungan paling lama satu tahun.

Itu untuk mucikari. Germo. Bukan Hana Hanifah, pelaku pelacuran.

Ada lagi, pasal 296 KUHP:

Barang siapa, dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan, atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.

Kawanku mi instan, menyela: “Kata ‘oleh orang lain dengan orang lain’ berarti bukan pelacurnya, dong... Kata itu ditujukan pada orang ke tiga. Germo, bukan?”

Aku: “Tidak salah lagi.”

Kulanjut: “Tapi, ada daerah menjerat pelacur. Satu-satunya, di DKI Jakarta.”

Perda DKI nomor 8 Tahun 2007, tentang Ketertiban Umum. Di Pasal 42 ayat 2, bunyinya:

Setiap orang dilarang: Menyuruh, memfasilitasi, membujuk, memaksa orang lain untuk menjadi penjaja seks komersial, memakai jasa penjaja seks komersial.

Pelanggar, diancam hukuman pidana penjara paling lama 90 hari atau denda paling banyak Rp30 juta.

Kawanku: “Hana Hanifah, ‘kan ditangkap di Medan?”

Aku: “Kita semua tahu itu.”

Kawanku: “Whadow... Lha, bagaimana dengan prostitusi online... Penangkapan si cantik Vanessa Angel, di Surabaya, tahun lalu?”

Aku, tetap serius: “Ada, Perda Surabaya Nomor 7 Tahun 1999. Bunyinya demikian,”

Larangan menggunakan bangunan / tempat untuk perbuatan asusila, serta pemikatan untuk melakukan perbuatan asusila di Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya.

Sanksi di Bab V, Ketentuan Pidana, Pasal 8:

Pelanggaran terhadap Perda ini dapat diancam pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan. Atau denda sebanyak-banyaknya Rp50.000.

Kawanku, sengit: “Halaaah... itu untuk menutup Wisma Nikmat.”

Aku: “Gang Dolly.”

Kawanku: “Masak gak ada pasal lain? Pelacuran online, rusak loh...”

Aku mengeluarkan serenteng, ini:

Pasal 74 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Digunakan menjerat pelaku yang mempekerjakan anak sebagai pelacur.

Pasal 7 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Menjerat pelaku memperdagangkan orang untuk pelacuran.

Pasal 30 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Menjerat pelaku menawarkan atau mengiklankan, langsung – tak langsung, layanan seksual.

Pasal 45 ayat (1) UU ITE. Menjerat pelaku (sengaja - tanpa hak) mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diakses Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

Sampai di sini aku menarik napas. Dalam-dalam. Mengisi oksigen buat otak. Lantas...

Aku: “Indonesia ini gudangnya peraturan, brow...”

Kawanku, ketawa sinis: “Kamu sekarang di DI’S Way ini semakin banyak omong, ya...”

Kami ketawa ngakak. Lepas. Membuat aku tambah gendheng.

Aku: “Di teori pidana, ada dua unsur penting. Actus reus, atau perbuatan melanggar pidana. Mens rea, niat pelaku ketika berbuat.”

Kulanjut: “Pelacur prostitusi online, mens rea, mencari nafkah dengan tubuhnya. Tidak menjahati orang lain.”

Kawanku, menyodok: “Ah... kagak ada hubungannya....”

Kontan, aku tersadar. Aku kepleset. Aku lebay. Maafkan daku.

Kawanku: “Sekarang, apa hubungan Hana Hanifah dengan Djoko Tjandra?”

Aku: “Tengok-lah buku Mochtar Lubis itu-lah, kawan...” Gaya Batak, nih.

Kawanku, menyergap: “Apanya?”

Aku: “Artistik dan munafik.”

Dia merenung. Bola mata berputar. Berpikir keras.

Aku: “Artistik, untuk keindahan wajah Hana Hanifah. Juga kecantikan tubuh Vanessa Angel... Sudah. Titik.”

Temanku: “Trus, munafik-nya?”

Aku, cepat kilat: “Kau tau sendiri-lah.”

Pagi mulai cerah. Matahari menyembul dari pucuk-pucuk cemara. Jauh di sana. Ayam jantan ‘kluruk’ menyambut hari baru.

Indonesia merdeka 75 tahun lalu. Sekarang pun, terasa masih pagi. Serasa masih baru saja merdeka. Bangunlah bangsaku... Ayo kita maju. Jangan munafik. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.