Adik Dihukum Mati, Kakak Mengikuti (2-Habis)

 

Freddy Budiman
Freddy Budiman. Foto: JPNN

“Nek gak gelem sinau, kudu doyan sego mambu,” kata orang tua, dulu. Kalimat ini cocok buat pengedar narkoba Eko Subagyo (45). Cocok juga buat adik Eko, Freddy Budiman, yang dihukum mati untuk kasus yang sama.

Asumsi tersebut kuambil dari data, pemberitaan media massa, pengakuan Eko Subagyo dalam penyidikan polisi, demikian:

Freddy Budiman dieksekusi mati, 29 Juli 2016. Sejak itu, isteri Freddy, Hany, menghidupi empat anaknya.

Hany ditangkap polisi di Palu, Sulawesi Tengah, karena tindak pidana pencucian uang. Sejak itu, Eko mengaku, membiayai empat anak Freddy.

Eko mengaku, sempat berbisnis garmen, bangkrut. "Saya melamar-lamar kerja di Kalimantan, tidak diterima,” katanya. Maka, dia penyalur narkoba jenis sabu sabu. Sekali kirim dapat Rp 1 juta.

Dari pengakuan itu, sekeluarga ini penjahat semua. Cara instan mendapatkan uang besar, tanpa keterampilan positif.

Cara instan mendapatkan hasil besar, diasumsikan sebagai: Tidak sabar jadi orang miskin. Keinginan terlalu tinggi, kemampuan (skill) terlalu rendah.

BACA JUGA; Adik Dihukum Mati, Kakak Mengikuti (1)

Teori Sego Mambu

Kriminolog Amerika, Albert Cohen (1918 – 2014) dalam bukunya, Delinquent Boys, mencetuskan Teori Frustrasi Status yang sangat terkenal.

Dalam teori itu, Cohen menyatakan, penyebab tindak kejahatan ada 4 faktor:

Kelas sosial, kinerja sekolah, frustrasi status, dan pembentukan reaksi (Albert Cohen Delinquent Boys: The Culture of the Gang, Free Press, 1955).

Teori dari hasil riset Cohen itu, ringkasnya demikian:

Kelas sosial, masyarakat kelas bawah. Yang kinerja sekolahnya (saat masih pelajar) buruk.

Masyarakat kelas bawah ini, membandingkan hasil kinerjanya dengan kinerja kelas di atasnya (yang sukses). Ini pangkal persoalan.

Alhasil, menimbulkan frustrasi (bagi kelas bawah). Disebut frustrasi status. Itu mengakibatkan pelakunya menghindari sekolah. Mengabaikan norma-norma sosial.

Kemudian berkembang jadi kenakalan. Ini jadi embrio kejahatan.

Berlanjut ke pembentukan reaksi (bersumber dari rasa frustrasi). Yakni, tindakan kriminal. Jadi bandit.

Teori itu sangat dihormati para krominolog. Bahkan, dijadikan dasar teori yang di kemudian hari dilakukan riset.

Teori ini, oleh kriminolog generasi berikutnya, dianggap punya kelemahan.

Antara lain, tidak semua masyarakat kelas bawah gagal dalam sekolah. Tapi, jika Cohen memilih yang gagal, kemudian berlanjut ke tahapan berikutnya sesuai teori, maka lebih rasional.

Dalam kasus Eko Subagyo dan keluarganya, diasumsikan Eko ‘gagal dalam sekolah’ atau tidak punya keterampilan. Sehingga sulit dapat pekerjaan. Juga gagal berbisnis garmen.

Kondisi itu bukan jadi alasan dia melakukan kejahatan, seandainya ia dan empat anak-anak Freddy Budiman bersabar hidup miskin. Hidup sangat sederhana.

Tapi, Eko dan keluarga ingin menyamakan gaya hidup dengan kelas masyarakat di atasnya.

Terbukti, dia mengakui, sekali kirim sabu dapat Rp 1 juta. Inilah yang membuat hidupnya ‘seolah-olah’ sama dengan warga kelas menengah.

Dilengkapi pengakuan, bahwa isteri Freddy Budiman pelaku tindak pidana pencucian uang. Yang tentunya, penghasil uang besar dalam waktu cepat, tanpa keterampilan positif.

Meskipun, jelas Eko tahu, bahwa jadi kurir sabu adalah tindak kejahatan. Bahkan, bisa dihukum mati seperti adiknya. Tapi dia tak peduli. Tetap lanjut.

Sikap seperti Eko ini berkembang luas di masyarakat kita. Miskin harta mengakibatkan miskin pendidikan dan keterampilan. Karena biaya sekolah tidak terjangkau si miskin.

Sementara, gaya hidup masyarakat kelas menengah-atas, menimbulkan frustrasi kelompok kelas bawah. Dan, selanjutnya yang terjadi: Persis seperti urutan teori Albert Cohen.

Maka, wejangan orang tua di bagian paling atas tulisan ini, sebenarnya relevan dengan kehidupan masyarakat kita sekarang. Punya hubungan kausalitas:

Nek males sinau, kudu doyan sego mambu. Atau, dagangan sabu sabu. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.