Adik Dihukum Mati, Kakak Mengikuti (1)

 

Eko Subagyo
Eko Subagyo. Foto: Radar Surabaya

Gembong narkoba Freddy Budiman dihukum mati. Itu masa lalu. Kini, kakak Freddy, Eko Subagyo (45) diringkus polisi, karena narkoba juga. Tanya: Apakah hukuman mati tidak menakutkan, ataukah Eko yang ‘pekok’? 

Jawab: Hanya Tuhan yang tahu. Minimal, Eko sendiri paham. Tapi, coba kita simak berikut ini:

Eksekusi pidana mati internasional terbaru, dijatuhkan pemerintah Amerika pada Daniel Lewis Lee di Terre Haute, Indiana, Amerika, Selasa (14/7/2020) pekan lalu.

Lewis Lee, pembunuh sekeluarga (ayah-ibu-anak) William F. Mueller, Nancy A. Mueller pada 11 Januari 1996. Dia dijatuhi hukuman mati.

Jadwal eksekusi suntik mati, Senin (13/7/2020). Tapi, beberapa jam sebelum eksekusi, seorang hakim distrik Amerika Serikat, menyatakan, eksekusi harus ditunda. Sebab, ada masalah hukum yang belum terselesaikan.

Segera. Tidak pakai lama. Malamnya, Mahkamah Agung setempat menyatakan, eksekusi bisa dilaksanakan. Jadwal ditentukan pukul 04.00 dini hari, Selasa (14/7/2020).

Perdebatan antar penegak hukum terus berlangsung. Sengit. Akhirnya Lewis Lee disuntik mati pukul 08.07, Selasa (14/7/2020). Atau tertunda lagi 4 jam7 menit.

Itulah eksekusi mati pertama di Amerika, setelah 17 tahun lowong.

BACA JUGA; Adik Dihukum Mati, Kakak Mengikuti (2-Habis)

Kejahatan Jangan Ditoleransi

Hukuman, diperdebatkan para filsuf sejak seribu tahun lalu di Eropa. Satu milenium lalu.

Ingat, hukum formal kita mengadopsi Belanda (Eropa). Tinggal jiplak. Plek... Amerika pun mengadopsi Inggris.

Tokoh penting soal hukuman, tiga orang ini:

Thomas Hobbes, lahir di Malmesbury, Wiltshire, Inggris, 5 April 1588 – meninggal di Inggris, 4 Desember 1679.

Cesare Beccaria, lahir di Milan, Italia,15 Maret 1738 – meninggal di Italia, 28 November 1794.

Jeremy Bentham, Lahir 15 Februari 1748 di London, Inggris – meninggal di London, 6 Juni 1832 London.

Dari tiga itu yang paling terkenal Thomas Hobbes. Dia menelurkan teori Kontrak Sosial yang dipakai seluruh dunia (kurang-lebih) hingga kini.

Pemikiran Hobbes, manusia adalah makhluk yang mau menangnya sendiri. Dalam hal materi (harta) dan kekuasaan. Manusia merasa, harus memperoleh keinginannya, meskipun harus menyakiti orang lain.

Jika ini dibiarkan, rusaklah dunia. Hukum rimba berlaku. Maka, harus diterbitkan hukum mengikat. Dikendalikan negara. Dan, semua rakyat wajib memberikan kontrak sosial (pasrah bongkok’an, bahasa Suroboyo) kepada negara.

Kontrak sosial inilah yang membuat manusia sejahtera (Hobbes, Thomas, The Matter, Forme and Power of a Common Wealth Ecclesiasticall and Civil, London, 1651).

Kata Hobbes, hukuman bagi penjahat harus lebih besar daripada manfaat yang didapat dari melakukan kejahatan tersebut.

Inti pemikiran Hobbes, penjahat harus dihukum keras. Disebut teori deterensi (Deterrence Theory).

Tujuannya menimbulkan efek jera. Efek takut bagi publik. Agar tidak ada lagi yang berani melakukan kejahatan.

Itu sebabnya, pelaksanaan hukuman mati di beberapa negara, termasuk Amerika, boleh ditonton publik. Di Indonesia, eksekusi mati disembunyikan.

Sedangkan, dua tokoh Eropa di atas, berteori sebaliknya.

Dialektika tiga tokoh itulah yang menginspirasi lahirnya aneka teori kriminologi modern.

Hukuman paling keras adalah hukuman mati. Diterapkan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Freddy Budiman dieksekusi mati 29 Juli 2016. Dirahasiakan dari publik (sesuai aturan Indonesia). Tapi beritanya tersebar. Di media massa. Apalagi di media sosial.

Freddy dieksekusi bersama tiga terpidana mati lainnya. Semuanya kasus narkoba.

Pelaksanaan eksekusi mati itu, betapa pun, heboh. Membuat hati miris.

Berdasar Deterrence Theory, target yang dituju adalah: Efek takut publik. Efek jera. Agar tidak ada lagi yang berani main-main, jadi bandara narkoba.

Nah, sekarang kok malah kakak Freddy, Eko Subagyo, yang mengikuti jejak kejahatan Freddy. Apanya yang salah?

Mengapa, Eko Subagyo berani jadi kurir narkoba? Tidak-kah nasib adiknya mengguncangkan pikirannya?

Apakah itu semacam balas dendam sang adik terhadap proses hukum? Kok bisa? Mengapa?

Kajian lebih spesifik akan diulas di lanjutan tulisan ini. “Dont go anywhere,” kata pelawak Tukul. (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.