Gibeng Anarko Jangan Kasih Kendor

Ilustrasi

 

Yang muda, yang berkarya. Karyanya, mencoret dinding underpass Karanglo, Malang, Jawa Timur, begini: “Bubarkan negara. Rakyat tak butuh negara”. Pelaku 10 pemuda diringkus polisi. Eee…LSM minta pelaku dibebaskan.

 Ada tiga komponen pada kalimat di atas. Pertama, pemuda berkarya. Sudah betul. Sudah tepat.

Kedua, lha… rakyat kok tidak butuh negara? Masak begitu? “Iki pemuda cap opo?” menyitir kata pemain Ludruk, Basman.

Ketiga, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) minta pelaku yang ditahan polisi, dibebaskan. LSM ini pastinya berisi orang-orang dewasa. Baik umurnya, juga ilmunya. Tapi…

Aku heran, Jawa Timur kok masih dihuni orang-orang yang gak cerdas, begini.

Itu terjadi 14 April 2020. Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, mengatakan: “Diduga kuat, pelakunya kelompok Anarko.” (Liputan6.com, 14 April 2020).

LSM-nya membuat siaran pers. Minta Polri membebaskan para tersangka. Alasannya, penahanan tanpa surat. (Liputan6.com, 22 April 2020).

Menyimak kejadian itu, aku ingat teori kriminologi di buku “Broken Windows Crime Theory” karya ilmuwan sosial Amerika, James Q. Wilson dan George L. Kelling.

Teori jendela pecah (Broken Windows Crime Theory) intinya: Jika kejahatan kecil dibiarkan, maka banyak orang meniru. Akhirnya jadi kejahatan berskala besar.

Arek Suroboyo mendefinisikannya: “Arek cilik nyolong, gibeng ae. Nek dijarno iso nglamak.” (Anak kecil mencuri, tampar saja. Kalau dibiarkan, bisa nglunjak).

Kejahatan kecil dibiarkan, menyebabkan terjadinya kejahatan dalam skala yang lebih besar (Broken Windows Crime Theory, Scientific American, 2012)

Wilson dan Kelling merumuskan teori ini setelah mencermati percobaan yang dilakukan Philip Zimbardo pada 1969 (Broken Windows, Cross Talk Online, 2012).

Philip Zimbardo melakukan percobaan untuk menguji sifat alami manusia.

Dia meletakkan dua mobil yang sama persis, pada dua tempat berbeda.

Dua mobil itu sama-sama: Tanpa nomor polisi, dan kap mesin depan dibuka.

Satu mobil diparkir di pinggir jalan daerah kumuh, Bronx, New York, Amerika. 

Satunya di pinggir jalan Palo Alto, California, Amerika.

Palo Alto adalah jantung kota Silicon Valley, markasnya Google, Facebook, Intel, AMD, Nvidia. Wilayah masyarakat kelas menengah.

Hasilnya: Selang 3 hari, mobil di Bronx ‘bersih’.

Mobilnya masih ada. Tapi banyak komponen yang hilang. Hingga ‘bersih’ tanpa spion, kaca-kaca, bahkan komponen mesin pun hilang.

Mobil di Palo Alto utuh. Tidak ada bagian yang hilang. Bahkan, dibiarkan sampai sepekan kemudian, tetap saja utuh.

Philip Zimbardo lantas melakukan ini pada setiap mobil: Memukuli mobil dengan palu. Berkali-kali. Sampai bodinya penyok-penyok.

Atraksi itu ditonton banyak orang yang lewat. Kemudian, Philip Zimbardo pergi begitu saja.

Apa hasilnya?

Baik di Bronx atau Palo Alto, sama: Orang-orang yang lewat, satu per satu, memukuli mobil itu.

Orang-orang yang lewat, melihat orang-orang memukuli mobil. Mereka ikut-ikutan. Akhirnya mobil hancur total.

Kesimpulan penelitian:

1.     Mobil, tanpa perlakuan khusus, hasilnya berbeda. Antara di daerah kumuh dengan daerah masyarakat kelas menengah.

 

2.     Mobil, dengan perlakuan khusus, hasilnya sama.

 

3.     Masyarakat kumuh dan masyarakat kelas menengah, sama. Dalam menirukan perilaku vandalime, jika ada contoh kasusnya.

George L. Kelling dan James Q. Wilson sepakat, mendasari penelitian tersebut sebagai dasar teori kriminologi Jendela Pecah (Broken Windows Crime Theory, Scientific American, 2012).

Nama “Jendela Pecah” diilhami pengalaman masa remaja James Q. Wilson. Dia bersama keluarganya mukim di suatu komplek perumahan.

Suatu hari, ada rumah tetangga Wilson dilempari sesuatu benda oleh anak remaja iseng. Kena jendela kaca dan pecah. Penghuni rumah keluar. Si pelempar sudah kabur, melarikan diri.

Si penghuni rumah hanya tersenyum. Lalu kembali masuk rumah.

Beberara hari kemudian, di rumah itu lagi, pada jendela kaca yang lain, dilempari sesuatu benda oleh anak remaja. Kaca jendela pecah lagi. Pelemparnya kabur lagi.

Penghuni rumah keluar, melihat dua jendela kaca rumahnya pecah. Dia hanya geleng-geleng kepala. Lantas masuk rumah.

Beberapa hari kemudian terjadi lagi, dan lagi. Bahkan, peristiwa serupa menimpa jendela kaca rumah di sebelahnya. Juga di sebelahnya lagi. Sampai banyak[DO1] .

Teori kriminologi ini, mengatakan: “Anak-anak Anarko di Malang itu digibeng saja. Jangan kasih kendor.” (*)

Jakarta, 5 Juli 2020


 [DO1]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.