Bandit Muda Bandot Tua

Bandot tua


Balita lelaki salah asuh, kelak bisa jadi bandit. Antara lain, jadi penjambret remaja yang kini banyak berkeliaran di Surabaya. Dan, sudah beberapa didor polisi.

BACA JUGA: Bandit Muda, Kebo Gupak Ajak Ajak

Paling tidak, hasil riset Profesor Ilmu Psikologi & Otak, Prof John F. Edens membuktikan itu.

Prof John F. Edens, Guru Besar Ilmu Psikologi dan Otak, Texas A & M University, Amerika. Dia dan kawan-kawan melakukan riset tentang residivisme (kejahatan berulang) remaja di Kanada dan Amerika antara 1990 sampai 2005.

Hasil riset dipublikasikan Ministry of Children, Community and Social Services (Kementerian Anak, Layanan Masyarakat dan Sosial) Kanada pada 2019.

Inti hasil riset Edens, residivis remaja terkait dengan psikopatologi (studi tentang penyakit mental). Pelakunya disebut psikopat.

Jelasnya, penjambret remaja yang dibekuk Polrestabes Surabaya (berkali-kali) beberapa waktu lalu, punya penyakit mental.

Sehingga mereka menjambret atau melakukan kejahatan berulang-ulang. Meskipun mereka sudah pernah ditembak polisi (biasanya kena kaki) dan dibui. Setelah bebas penjara, mereka menjambret lagi.

Penyakit mental mereka, berdasar hasil riset Prof Edens, terkait masa balita yang mereka alami.

“…. faktor anak lelaki usia dini, berkontribusi signifikan pada pengembangan kepribadian mereka di masa remaja hingga dewasa,” papar Edens.

Jika terjadi kesalahan pada anak lelaki usia dini, maka kepribadian mereka berkembang jadi psikopat atau sosiopat (jenis penyakit mental).

Dan, usia dini yang dimaksud Prof Edens adalah tiga tahun ke bawah.

BACA JUGA: Maria Lumowa dan Dua Jakimat

Wahai… bunda, jangan sepelekan merawat anak usia tiga tahun ke bawah. Itu masa yang sangat penting pembentukan kepribadian, menurut Prof Edens.

Situasi dan kondisi orang tua berikut ini, jadi indikator anak lelaki usia tiga tahun ke bawah, kelak bakal jadi psikopat atau sosiopat. Jelasnya bakal jadi bandit.

1.     Emosi orang tua (ayah atau ibu, atau keduanya) tidak stabil.

2.     Penolakan orang tua terhadap anak. Lahir tak dikehendaki.

3.     Orang tua pemabok. Pemarah. Berperilaku kasar.

4.     Kurangnya cinta orang tua.

5.     Disiplin tidak konsisten.

Prof Edens menambahkan unsur yang tidak masuk di 5 item tersebut, adalah anak yang mendadak dipisahkan dari ibu biologisnya (di usia 3 tahun ke bawah).

Faktor-faktor tersebut, menurutnya, signifikan membentuk calon psikopat atau sosiopat di masa mendatang. Buktinya akan tampak ketika si anak sudah remaja.

Intinya, orang tua yang brengsek alias bandot, bakal menghasilkan calon bandit.

Jika kini di Surabaya banyak berkeliaran penjambret remaja, sangat menarik dilakukan riset tentang latar belakang masa balita penjambret. Belum pernah dilakukan akademisi Surabaya.

Namun, Edens mengakui, bahwa itu bukan satu-satunya sebab terjadinya psikopat atau sosiopat. Ada banyak faktor lain yang mengikuti.

Antara lain, kecerdasan intelektual (IQ). Anak yang IQ-nya rendah lebih berpeluang jadi bandit, dibanding yang IQ-nya normal atau tinggi.

Soal IQ ini bukan hasil riset Prof Edens. Tapi, punya keterkaitan dengan hal itu.

Studi perintis kriminologi pada 1920 melaporkan, bahwa skor IQ pada remaja nakal, lebih rendah dibanding remaja tidak nakal yang IQ-nya lebih tinggi (Goddard, 1920; Healy dan Bronner, 1926).

Ringkasnya: Tingkat kecerdasan rendah, menyebabkan kejahatan dan kenakalan pada remaja. Yang kelak bisa berkembang jadi bandit.

Contoh, pada 1920-an, pemerintah British Columbia mengeluarkan undang-undang "eugenika negatif" yang menyerukan sterilisasi orang yang dianggap memiliki kecerdasan rendah.

Cara itu kemudian diprotes warga di sana yang mayoritas beragama Katolik. Kemudian dianulir.

Di Ontario dan Quebec, undang-undang semacam itu berlaku di masa lalu. Tapi pada 1970 sudah dihapus.

Tentang IQ bersifat kodrati. Maka, tidak manusiawi jika dilakukan sterilisasi terhadap warga.

Tapi, soal pengasuhan anak lelaki di bawah usia 3 tahun, adalah upaya. Harus dilakukan semua orang tua. Agar tak menghasilkan bandit baru. (*)

Jakarta, 12 Juli 2020

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.