Prihatin, Dahlan Iskan Diduga Korupsi

Saya yakin, Pak Dahlan tidak korupsi. Pertama, aset pribadinya belasan triliun rupiah. Kedua, ketika dia diminta jadi Dirut PLN, dulu, isterinya melarang, khawatir jadi terpidana korupsi. Banyak pejabat begitu. Sudah di-warning. Ketiga, dia ingin mengabdi, pasca ganti liver.

Muat Disini
----------------
       Tapi, jalan hidup Pak Dahlan (selanjutnya disebut: Dahlan) berliku-liku. Saya kenal dia 1 Agustus 1984, hari pertama saya wartawan Jawa Pos Surabaya. Kantornya gedung tua, Jl Kembang Jepun, dekat Jembatan Merah, Surabaya. Saat itu Dahlan pemimpin redaksi Jawa Pos.
       Cerdas, jujur, teliti, pekerja keras. Itulah Dahlan.
       Cerdas, dia punya metode jurnalistik unik. Tidak ada di teori atau pendidikan tinggi mana pun. Terbukti, penerapan metode itu membawa Jawa Pos yang semula ‘bukan apa-apa’ bergerak pelan tapi pasti, jadi konglomerasi pers. Kini Jawa Pos punya sekitar 200 perusahaan pers.
       Jujur itu relatif-subyektif. Relatif karena sulit diukur. Tidak ada parameter-nya. Tergantung penilaian orang yang dekat dengannya. Sedangkan, penilaian orang, bersifat subyektif. Jadi relatif-subyektif. Supaya spesifik, saya batasi: Dia jujur dalam bekerja, tidak akan mencuri.
       Ilustrasi: Kira-kira baru sepekan saya jadi wartawan Jawa Pos, ada peristiwa ini: Di kantor, saat puluhan wartawan (termasuk saya) dan redaktur sedang sibuk bekerja, saya dipanggil Dahlan. Waktu itu saya jalan membawa kertas, berita yang saya ketik (dengan mesin ketik kuno), untuk saya serahkan ke redaktur.
       Pemanggilan cukup dicolek, karena sehari-hari Dahlan membaur dengan wartawan dan redaktur. Tidak punya ruang kerja khusus.
“Apa inisialmu?” tanya Dahlan.
       “Dwo, pak.”
       “Sini, kamu..”
       Saya diajak ke pojok ruangan. Menjauhi para wartawan dan redaktur. Di pojokan, saya diamati Dahlan dengan teliti: Meneliti wajah dan kertas yang saya bawa. Saya jadi grogi.
      “Kamu mengambil apa dari meja saya?” tanyanya.
       Dheg… kaget pol. Pandangannya penuh selidik. Saya dicurigai mencuri, nih... Maka, kontan saya jawab:
       “Tidak ada yang saya ambil, pak.”
       Dia memperhatikan kertas yang saya bawa. Maka, saya serahkan dua lembar folio, berita hasil ketikan saya. Dia teliti, dan memang asli berita saya.
       Supaya fair (pikir saya), saya rogoh kantong celana (kiri-kanan) dan mengeluarkan isinya. Sekalian jelas. Tapi, dia tidak memperhatikan isi kantong. Dia fokus ke kertas. Lantas gestur dia berubah drastis.
       “Maaf…. Saya mencurigai anda mengambil sesuatu dari meja saya. Ternyata saya salah. Maafkan…”
       “Maafkan saya juga, pak. Mungkin tingkah saya mencurigakan.”
       “Tidak. Saya yang salah. Maafkan saya.”
       “Baik, pak. Saya lanjut bekerja.”
       “Silakan Dwo… kamu wartawan bagus.”
       Di kursi kerja, saya merenung: Anjriiiit… gerak-gerik saya mungkin kayak maling. Waktu itu saya baru lulus kuliah. Culun gitu. Kebetulan, saya mondar-mandir, sempat berhenti di meja Dahlan, dan mengamati suatu tulisan disitu. Ruang kerja kami tanpa sekat. Jadi bebas dilihat.
       Dahlan tadi hanya fokus ke kertas yang saya bawa. Berarti, dia curiga saya mengambil data di mejanya. Bagi wartawan, data sangat berharga. Kalau perlu, dicuri. Dalam karir jurnalistik, pernah saya mencuri data di kepolisian dan rumah sakit, untuk dicopy. Lalu aslinya saya kembalikan diam-diam. Itu bisa terjadi, karena saya dan narasumber sangat akrab berkawan.
       Peristiwa diatas tidak menunjukkan Dahlan jujur, tapi teliti. Nah… di tahun-tahun berikutnya saya jadi anak-buahnya, saya merasakan, dia jujur bekerja. Dia selalu menginterogasi saya, jika saya menulis berita yang (pada zamannya) bersifat rahasia. Dia melarang saya mencuri data.
       Saya tentu tak pernah mengaku mencuri data. Sebab, data colongan selalu saya konfrontir dengan pihak terkait. Supaya ada orang yang membenarkan data tersebut. Data hanya acuan.
       Soal amplop wartawan, Dahlan sangat keras menentang. Pada 1988 dia membuat pengumuman, dimuat di halaman depan Jawa Pos. Intinya: Jika wartawan Jawa Pos terima amplop, laporkan. Jika terbukti, wartawan langsung dipecat. Sudah beberapa korbannya (tak perlu sebut nama).
       Dahlan jujur dalam hal bekerja, khusus di jurnalistik. Dan, sejauh pengetahuan saya di masa lalu. Saya jarang ketemu Dahlan sejak pensiun dari Jawa Pos (sesuai aturan, usia 50) pada 2008. Jadi, saya akrab dengan Dahlan selama 24 tahun.

Kisah Asrul Ananda

       Dahlan pekerja keras. Sudah pernah saya tulis, betapa keras dia bekerja. Tapi, bagian ini belum pernah saya tulis. Tak banyak orang tahu, Dahlan dulu lebih mementingkan pekerjaan daripada anak-anaknya.
       Suatu siang pada 1986 saya mengetik berita di kantor. Dahlan datang dengan dua anaknya: Ulik (Azrul Ananda) dan adiknya Isna. Mereka kira-kira SD kelas 5 dan kelas 3. Ulik bawa komik, adiknya bawa sekotak kue. Komiknya, saya amati cerita Jepang.
       Dahlan hanya sebentar di kantor, lalu bersiap pergi. Sebelum pergi, dia mencolek saya yang sibuk mengetik:
       “Dwo… tolong, awasi mereka. Jangan boleh keluar. Mereka sudah makan.”
       “Siap, pak.”
       Dahlan pergi, saya ngetik sambil sekali-sekali mengawasi anak-anak. Kantor kami di lantai dua, gedung besar kuno bangunan Belanda. Hanya ada satu jalan turun, tangga selebar 5 meter. Maka, saya waspadai jika anak-anak mendekati tangga.
       Ternyata Ulik ini bedigasan. Belingsatan lari sana-sini. Baca komik berpindah-pindah tempat. Saya warning Ulik: “Kamu jangan dekat tangga, ya… nanti jatuh. Duduk sana…”
       Awalnya dia menurut. Ketika saya tekun mengetik, dua anak itu hilang. Diampuuut….
       Cepat saya turuni tangga. Kalau mereka sudah turun, bisa langsung keluar kantor. Sedangkan, pintu utama di bawah, langsung menuju lalu-lintas ramai, jl Kembang Jepun. Gawat...
       Benar. Mereka hampir keluar pintu utama. Mereka ditahan Satpam, Pak Sukoco. Kelihatan, pak Koco memegang tangan Ulik. Sebaliknya, Ulik berontak ingin keluar. Terpaksa Koco membentak Ulik dan Isna: “Kamu berdua, naik ke atas….”
       Pak Koco lantas melihat saya turun tangga, dia mengeluh ke saya:
       “Mas Dwo… Pak Dahlan tadi bilang, anak-anak sudah dititipkan sampean. Jangan boleh turun, mas...”
       “Siap…. Saya juga repot kerjo, lho, pak…”
       “Lha… sama saja, saya juga repot kerjo. Pokoknya, sampean tahan mereka di atas.”
       “Siap kumendan….”
       Maka, saya abaikan mengetik berita. Ulik saya ajak ngobrol tentang cerita komik. Dia senang. Sedangkan adiknya, ikut anteng mendengarkan. Sampai Dahlan datang, setelah hari gelap.
       Kejadian seperti itu berulang-ulang. Bukan hanya saya yang menjaga anak-anak. Melainkan wartawan atau redaktur JP lainnya. Malah, saya berusaha menghindar, supaya jangan sampai dititipi. Repot, boooos…
       Beberapa tahun kemudian, setelah Dahlan kaya, dua anak itu disekolahkan ke Amerika semua. Dahlan bukan mengabaikan anak-anaknya. Saya yakin, dia cinta keluarganya. Dia pilih membiayai (uang) daripada bergaul (perhatian) ke anak-anaknya.
       Dahlan cerdas, jujur, teliti, pekerja keras. Maka, wajar jika kini dia sangat kaya. Kemudian, mewariskan bisnis Jawa Pos ke anaknya Ulik.

Dikepung Tiga Penjuru

       Masuk ke kasus Dahlan. Teman saya (dokter, makelar kasus) pada 2014 memberi info: Dahlan diincar di Penyidikan. “Dahlan pasti habis,” ujar teman saya.
       “Motifnya apa?”
       Kawan menjawab, ini-itu-ini-itu. Saya hanya tahu sekitar 1 sampai 2 persen dari kisah di motif itu.
       Coba kita cermati kasusnya sekarang: Penjualan aset (diduga illegal) PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim. Penjualan aset terjadi saat Dahlan Dirut PT PWU, 1999 – 2009.
       Kepala Kejaksaan Tinggi Jatim, Maruli Hutagalung, menyatakan, Dahlan dimintai keterangan sebagai saksi. Tersangkanya Wisnu Wardana, mantan ketua DPRD Surabaya, selaku mantan Kepala Pengawasan Aset PT PWU.
       Diduga; 1) Penjualan aset (gedung dan lahan) itu di bawah harga pasar (NJOP). 2) Uang hasil penjualan tidak seluruhnya masuk kas PWU. 3) Penjualan itu tanpa persetujuan DPRD.
       Dua poin (2 dan 3) di atas: “Uang hasil jual” dan “persetujuan DPRD”, sangat sederhana. Bisa langsung terjawab.
       Arus uang bisa langsung diketahui dari hasil audit keuangan PWU. Jadi, terjunkan auditor. Sehari saja tuntas. Malah, mestinya dilakukan sepuluh tahun lalu.
       Persetujuan DPRD sudah dijawab mantan Ketua Komisi C DPRD Jatim (1999-2004) Dadoes Sumarwanto. Kepada pers, Dadoes kemarin (17/10) menyatakan, aset PWU adalah kekayaan daerah yang dipisahkan. Artinya, bukan aset negara.
       Kewenangan penjualan aset, ada di hasil RUPS PWU. Bukan izin DPRD. Segala prosesnya tunduk pada UU Perseroan Terbatas (PT) No 1 Tahun 1995. Kembali lagi, kuncinya adalah pemeriksaan auditor.
       Terakhir, soal penjualan di bawah harga pasar. Ini yang debatable. Relatif. Bisa debat kusir. NJOP tidak pernah sama dengan harga pasar. Murah-mahalnya tanah tergantung inisiatif penjualan. Jika PWU berinisiatif menjual, tentu lebih murah dibanding bila ada peminat yang berinisiatif membeli.
       Jadi, Dahlan memang diincar, dong… Jawabnya, mungkin saja.
       Awal Juni 2015 Dahlan dikepung dari tiga penjuru: Kejaksaan Agung: Kasus dugaan penyimpangan pengadaan 16 unit mobil listrik di tiga BUMN senilai Rp 32 miliar.
       Kejaksaan Tinggi DKI: Kasus dugaan penyimpangan gardu listrik PLN. Kejaksaan Tinggi Jatim: Kasus dugaan penyimpangan penjualan aset PWU.
       Sebenarnya, saat itu panggilan pemeriksaan bersamaan di tiga tempat: Kejagung, Kejati DKI, Kejati Jatim. Tapi, Direktur Penyidikan, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Maruli Hutagalung (Kajati Jatim sekarang) saat itu mengatakan, diupayakan pemeriksaan disatukan di Kejagung.
       6 Juni 2015 Dahlan didampingi pengacara Yusril Ihza Mahendra, diperiksa di Kejati DKI soal gardu listrik. Ketika Dahlan keluar dari ruang pemeriksaan, sudah berstatus tersangka. Tapi tidak ditahan.
       Setelah itu tidak berlanjut. Status tersangka tidak lagi melekat padanya. Seperti selesai.
       Pertengahan Oktober 2015 saya menemui Dahlan, minta tolong meluncurkan novel karya saya: 728 Hari. Dahlan bersedia. Beberapa kali saya menemui dia, saya tidak tanya kasus. Saya juga tidak menyampaikan, info dia diincar. Saya yakin, dia pasti tahu itu (kalau benar diincar).
       Setelah Dahlan meluncurkan novel 728 Hari di kampus Universitas Pancasila Jakarta, 4 November 2015, saya tak ketemu Dahlan lagi. Dia lebih banyak di Amerika. Beberapa hari lalu dia pulang ke tanah air, memenuhi panggilan Kejaksaan Tinggi Jatim.
       Kini, peringatan isteri Dahlan, Nafsiah Sabri: “Jangan jadi pejabat, nanti berakhir tragis” pasti terngiang lagi di telinga Dahlan. Semoga itu tak terbukti. Semoga guru jusnalistik saya ini dilindungi Allah. (Depok, 18 Okt 2016)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.