Dahlan, Kisah Si One Man Show

“Speed… speed… speed…” kata Dahlan Iskan soal bisnis. “Tanpa speed, bisnis mati,” tambahnya. Itu dia terapkan di swasta (Jawa Pos dan grup). Juga di lembaga usaha negara (PWU, PLN, Kemen BUMN). Hasilnya: Tuduhan korupsi.
jangkrik komputer
------------------
Kok bisa? Jawabnya: Semua tahu, usaha swasta beda dengan usaha negara.
Swasta, jika pengelola lelet, karyawan jadi super lelet. Akibatnya bangkrut. Pemilik rugi, karyawan menganggur. Dengan pesangon seadanya. Punishment langsung.
Negara, kalau pengelola lelet, bawahan juga super lelet. Akibatnya: Uang negara disuntikkan kesitu. Anti-bangkrut. Sesial-sialnya usaha ditutup, asetnya jadi bancakan (pesta-pora). Maka: “Kalo bisa diper-lelet, mengapa diper-speed?” goda iklan rokok.
Ada dikotomi speed dan lelet di usaha swasta dan negara. Dahlan pasti tahu ini.
Mengapa dia mengubahnya? Jangan katakan, dia ingin mengabdi bangsa. Sebab, ini kalimat cemen (klise). Jangan sebut, dia ingin jadi hero. Sebab, itu bahasa langit (hanya penghuni langit yang tahu persis).
Penyebabnya:
1) Dahlan dengan “speed”, sukses memimpin Jawa Pos.
2) Kebanyakan orang (termasuk Dahlan) rindu tantangan.
----------------------

SORE, DIANTARA GEMERTAK OLIVETTI
Ilustrasi: Sore, 1985 saya terkejut-kejut. Saya baru tiba di kantor Jawa Pos, Jl Kembang Jepun, dekat Jembatan Merah, Surabaya. Baru saja duduk. Setelah seharian meliput berita di lapangan. Kini siap mengetiknya.
Dahlan merobek-robek koran Jawa Pos, persis di depan saya. Bagian yang dirobek, persis di tulisan karya saya.
Saya diam. Dahlan diam. Sementara, puluhan wartawan dan redaktur di ruang kerja tanpa sekat itu, sibuk. Puluhan mesin ketik kuno merk Olivetti berdetak-detak bertalu-talu. Kami hening di keriuhan gemertak.
“Saya tidak marah, Dwo…” buka Dahlan.
Saya membisu.
“Mengapa saya tidak marah?” tanyanya.
Saya bungkam.
“Karena kamu pandai mengolah kata. Tapi, materi berita jelek sekali,” katanya, melirik remahan koran digenggamnya.
Kawan-kawan melirik saya. Sebagian tersenyum kecut. Dahlan pergi, membuang remahan koran ke tong sampah.
Setiap hari Dahlan berjaga di pintu masuk, bertanya ke setiap wartawan yang masuk: “Beritamu apa?”
Wartawan menjawab: “Nomor satu: Soal ini, isinya begini-begitu….” Dahlan menyimak, lalu mengatakan: “Bukan berita. Buang…. Lainnya apa?”
Jika 3 berita (target harian wartawan) semuanya “bukan berita”, lantas Dahlan: “Balik ke lapangan, cari berita standar Jawa Pos. sesuai ajaran saya. Kalau tidak dapat, pulang saja…”
Tiga kali ‘dipulang-saja-kan’ dalam rentang sebulan, tamatlah karir wartawan. Jika tidak digitukan, Jawa Pos bangkrut sebelum berkembang.
Jadi, sebelum berita diketik wartawan, sudah diketahui Dahlan. Lalu dia seleksi ketat semua. Kemarin, berita yang dirobek itu sudah membuat dia memarahi saya, karena jelek. Tapi, terpaksa dimuat. Mengapa?
Tugas saya spesifik. Saya penulis “Boks” (berita dikotaki di bagian bawah halaman dua). Humanis, dramatis, unik, penemuan baru. Bentuk tulisan feature (sastra faktual). Boks harus selalu ada (satu) tiap hari. Tiada Jawa Pos tanpa Boks. Dan, harus bagus. Itulah salah satu keunggulan Jawa Pos.
Repotnya, tidak setiap hari ada kejadian dramatis atau unik. Apalagi penemuan baru. Ada kalanya mati angin.
Hari ini, Hari Kartini. Saya mati angin lagi. Sudah ke beberapa Polsek dan RSUD Dr Soetomo. Sepi… (untuk bahan tulisan Boks). Dimana-mana wanita pakai kebaya. Itu aja. Tadi saya ke Perwakos (Persatuan Wadam Kota Surabaya) ada upacara Kartinian. Biasa…. Cenderung jelek.
Dahlan tadi sudah ‘merobek-robek’ saya, untuk berita yang termuat hari ini. Dia belum sempat bertanya, apa yang akan saya ketik untuk dimuat besok? Kalau dia tahu, besok bakal jeblok lagi? Whadooow…
Sebelum terjadi “sehari dua marah”, saya kabur. Ngumpet di warung kopi seberang kantor. Membunuh waktu. Toh, beberapa jam lagi dia sudah sibuk editing berita. Saya menunggu.
Saya masuk lagi saat dia sibuk. Sehingga tidak sempat ditanya, melainkan langsung mengetik Perwakos. Berita yang akan saya ketik ini, terdengar jelek jika diceritakan lisan.
----------------

LAGU SUMBANG dari KALIBOKOR
Saya mengetik beritanya begini:
Lagu kebangsaan Indonesia Raya jadi bahan tertawaan. Terjadi di upacara Hari Kartini di Kantor Perwakos, Jl Kalibokor, Surabaya, kemarin pagi. Peserta upacara terpingkal-pingkal saat menyanyikan lagu sakral bangsa kita itu.
Inspektur upacara, Pangky berkebaya kuning emas: “Mari kita menyanyikan Indonesia Raya. Ambil suara… In…..”
Peserta upacara yang semuanya berkebaya rapi, mengikuti aba-aba inspektur upacara. Kompak. Tapi, Pangky tidak segera melanjutkan. Dia diam. Mengamati semua peserta.
Pangky: “Ulangi… Ambil suara… In….” Semua peserta mengikuti. Kompak.
Namun, lagi Pangky diam. Wajahnya cemberut. Matanya menyapu seluruh barisan. Mencari-cari sesuatu.
“Saya ingatkan… Jangan ada yang main-main dengan Indonesia Raya…” teriak Pangky lantang di pengeras suara Toa. Benar-benar serius. “Sekali lagi, ambil suara…. In….”
Semua mengikuti. Kompak.
Pangky diam lagi. Kini marah. Dia menunjuk seorang peserta di deretan belakang. “Hei…. Kamu.... Coba, kamu sendirian ambil suara,” teriak Pangky.
Orang yang ditunjuk, berbadan tinggi-besar. Sanggulnya mekar merekah. Dia kelihatan grogi. Salah tingkah. Dengan ragu-ragu, dia ambil suara juga: “In……”
Ketahuan problemnya. Oalaaa… Gak prono, Rek…
Peserta itu bersuara lelaki. Bernada rendah dan kencang. Sember. Sama sekali tidak matching dengan semua peserta yang bersuara wanita, tinggi melengking.
Semua peserta tertawa.
Pangky mendadak menampar mikrofon, menghardik audience: “Diaaaam…”
Seketika suasana hening. Tawa yang terlanjur terlepas, ditarik lagi. Pangky menunjuk si suara pria: “Kamu… jangan main-main… Jangan pakai suara lama, guobloook…”
Si suara pria, sigap menjawab: “Saya gak bisa suara wanita, booos…” katanya, dengan garang.
Meledaklah tawa seluruh peserta. Ngikik abis…
Para tukang becak yang menyaksikan itu di luar halaman kantor, terpingkal-pingkal... Becaknya sampai bergoyang-goyang. Ada tukang becak nyeletuk: “Dasar bencong….”
Terpaksa, lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan suara tidak matching. Upacara pun dilanjutkan….
-----------------

ASTAGA…. MANY MAN SHOW
Esoknya, berita dimuat Jawa Pos. Alhasil, Dahlan tidak marah. Malah ngakak. Tapi, dia berkomentar ke saya begini: “Dwo… Sebenarnya itu berita biasa. Tergolong jelek. Tapi, kamu mengambil angle yang sangat indah.”
Lalu, dia bertanya: “Sekarang kamu akan menulis apa?” Nah, lo… saya pusing kepala lagi.
Speed… speed… speed… tapi harus diikuti good quality… quality… quality… Begitulah Dahlan. Pemimpin Redaksi Jawa Pos yang tidak mendelegasikan wewenang.
Dia mencegat semua wartawan di pintu masuk. Mengedit berita. Perencana berita. Memberi penugasan liputan. Dia meraup tugas-tugas Koordinator Liputan, Redaktur, Redaktur Pelaksana, dan Wakil Pemimpin Redaksi. Dia “One Man Show”.
Douglas McGregor dalam bukunya “The Human Side of Enterprise” (New York, 1960) mencetuskan Teori Kepemimpinan X dan Y. Teori X gaya kepemimpinan Autocratic. Teori Y, Democratic. One Man Show adalah Teori X.
Kata MacGregor: Penganut Teori X, pemimpin bertindak keras. Menganggap anak buah sebagai alat mencapai tujuan. Anak buah harus bekerja keras. Selalu mengandung unsur paksaan dan hukuman.
Kelebihan Teori X: Tujuan cepat tercapai. Speed… speed… speed… horeee… Kelemahannya: Suasana kerja kaku. Tidak humanis. Cenderung tidak disukai bawahan.
Dahlan sukses “One Man Show” di Jawa Pos. Kini Jawa Pos punya sekitar 200 anak perusahaan pers. Melebar ke bisnis properti, perhotelan, pembangkit listrik.
Memang, ada grup Jawa Pos yang tidak sukses. Meskipun langsung dipimpin Dahlan, dan saya aktif di dalamnya. Tapi saya tulis itu lain waktu. Atau dalam bentuk novel based on true story. Akan saya luncurkan novelnya, jika saya prediksi, minimal laku 2.000 buku.
Kesuksesan itu membuat dia rindu tantangan (masuk item penyebab nomor 2). Memacunya mendekati pemerintah. Dia jadi Direktur Umum PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim pada 2000 (sampai 2010). Lantas Dirut PLN, terakhir Menteri BUMN.
Di lembaga usaha negara, “One Man Show” sulit, Man… Terlalu birokratis.
Dalam birokrasi kita, di atas langit ada langit. Jangankan Dahlan, Presiden RI pun petugas partai. Jadinya: “Many Man (Woman) Show”.
Di lembaga usaha negara, “Emang, elo siape?” kata orang Jakarta. “Raimu sopo, cuk… “ kata Arek Suroboyo.
Speed… speed… speed… melabrak centang-perenang jaring birokrasi. Apa pun bisa terjadi. (Jakarta, 26 Okt 2016)
------------------
Caption foto: Sukardi (mengetik di depan) Djono W. Oesman (membaca di belakang) Imawan Mashuri (paling belakang). Para wartawan Jawa Pos bertugas di kantor Biro Jakarta, Setia Budi Building, Jl HR Rasuna Said. Awal penggunaan komputer 1987. Foto by: Dicky Subagio.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.