NOVEL 728 HARI JADI FILM LAYAR LEBAR (11) : Eva Ganti-ganti Dokter, Disitu Sulitnya


 Bagian paling sulit diceritakan di novel 728 Hari, ada di bagian awal. Saat Eva berkali-kali pindah-pindah dokter. Diagnosis dokter berubah-ubah, antara tipus, DBD, radang tenggorokan. Ini sulit ditulis di novel, juga sulit difilmkan.
-----------------------
Bagian itu jika dihilangkan, bisa berakibat fatal. Cerita kehilangan ruh-nya. Ruh cerita 728 Hari adalah penyakit Lupus. Dijuluki “Penyakit Seribu Wajah”.

Artinya, dokter sering terkecoh. Dikira tipus, dokter lain menyebutkan DBD. Diperiksa dokter lain lagi, ganti jadi radang tenggorokan. Ada juga dokter yang menduga, rhematik karena Lupus juga menyerang persendian. Padahal, semua itu sudah hasil periksa darah.

Jalan terakhir adalah BMP (Bone Marrow Procedure) atau pengambilan cairan sumsum tulang belakang. Itu pun, kata pakar imunologi Prof. Dr. Zubairi Djoerban, tetap memiliki margin error sekitar 2 sampai 3 persen.

Nah, kalo cerita berpindah-pindah dokter itu dihilangkan, maka hilanglah ruh cerita 728 Hari. Sebab, basic ceritanya adalah penyakit Lupus. Dan, penyakit Lupus seharusnya begitu: Periksa berulang-ulang.

Ada Odapus sampai setahun pindah-pindah dokter, baru kemudian diketahui Lupus. Ada yang dua tahun, bahkan tiga tahun. Di 728 Hari, Eva dua tahun dibawa Sugiarti mondar-mandir dari dokter ke dokter.

Jika tak begitu, protes-lah Odapus dan dokter. Mereka mem-vonis, novel tidak benar-benar berbasis kenyataan. Bukan penyakit Lupus, kalo tidak pindah-pindah dokter.

Sebaliknya, jika ini diceritakan, jadi membosankan. Pembaca bakal meninggalkan novel. Penonton film bakal berbondong-bondong keluar gedung bioskop, dan menyesal sudah beli tiket. Atau malah tertidur di kursinya.

Penulis 728 Hari, Djono W. Oesman, berkali-kali mengganti gaya menulis di bagian itu, sebelum novel dicetak. Bahkan, pada cetakan kedua, masih diganti lagi. Tapi, cetakan kedua lebih bagus banding cetakan pertama.

Dalam film nanti, bisa dibuat potongan-potongan kejadian berdurasi pendek-pendek tentang itu. Dan, ini menjadi tantangan penulis skenario, sekaligus menuntut kejelian sutradara. Kalo mereka terpeleset, bisa gawat.

Inilah salah satu faktor kesulitan kisah nyata, selain faktor-faktor lain. Sedangkan novel fiksi, bebas berkelana kemana saja. Sesuai imajinasi penulisnya. Asal menarik. Kisah nyata punya rel, yang tidak boleh belok-belok seenak penulis.

Tapi, kisah nyata punya kelebihan: Ada sebagian pembaca atau penonton yang kenal tokoh yang diceritakan. Mereka yang kenal ini pasti tertarik. Sedangkan yang tidak kenal, kurang tertarik.

Itu sebab, katanya, pembeli novel 728 Hari kebanyakan teman Eva. Walau, banyak juga yang tidak. Malah, ada pembaca dari Hongkong dan Korea Selatan. Mereka mengaku terinspirasi novel ini.

Pembuatan film membutuhkan data hasil survey tentang pasar. Data bisa dari toko buku, gunjingan di media sosial, dan tanggapan pembaca novelnya.

Kini produser masih terus memantau perkembangan novel 728 Hari. Jika mereka anggap secara bisnis menguntungkan, pasti difilmkan. Prinsip mereka: Modal uang harus kembali uang.
Maka, mohon doa restu kawan-2ku semua, agar 728 Hari segera difilmkan. (dwo)

1 komentar:

  1. Saya sangat2 mendukung dan menanti sangat film ini tayang. Hal yg sudh lama saya harapkan. Adanya kepedulian dgn penyakit mengerikan yg harus saya derita, namun kurang carenya org lain melihat krn sekilas kami nampak sehat. Hingga sering membuat org lain slh paham, dan ketidaknyamanan odapus utk membaur...
    Smoga dgn tayangnya film ini nantinya, pemerintah dan masyarakat, akan lebih peduli, terutama utk odapus membeli obt yg mahal dan utk bs bekerja bersama2 org normal di luar rumah
    TERIMA KASIH BANYAK^-^

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.