“Hak kalian saya rampoook...” AHOK BICARA KASAR (seri – 2)


Massa sudah malas, Ahok tetap kampanye. Dia malah membongkar modus politikus kampanye. “Coba bayangkan, harga kaos lima belas ribu. Karena kaos itu, anda mencoblos Caleg,” tuturnya. “Disitu anda semua ditipu. Ditipuuu...”
----------------------
Dijelaskan, barang yang diterima masyarakat nilainya kecil. Kaos, nasi bungkus, katakan-lah juga uang Rp 20 ribu (pasaran disana saat itu). Sebaliknya, nilai uang yang dikeluarkan Caleg sangat besar. Karena dikalikan dengan jumlah massa, dikalikan lagi dengan jadwal kampanye.

Ahok selama kampanye mengeluarkan uang pribadi Rp 500 juta. Itu tergolong sangat kecil. Seper-sepuluh dari yang dikeluarkan Caleg lain.

Nah... jika Caleg menang (jadi anggota DPRD) akan berkuasa lima tahun. Sedangkan gaji lima tahun, jika dikumpulkan, tidak mampu mengembalikan modal kampanye. Si pejabat pun tekor.

Apakah mereka mau rugi? Tidak mungkin. Cara mengembalikan modal, dengan korupsi, membuat peraturan yang bisa dijadikan ATM, memeras pengusaha, dan cara-cara jahat lain.

Sebaliknya, warga hanya terima kaos Rp 15 ribu. Nasibnya tidak diurusi si pejabat. “Coba dihitung, Rp 15 ribu dibagi lima tahun, ketemu Rp 250 per bulan. Hanya itu yang anda terima,” tutur Ahok bersemangat.

Sementara itu, apa yang terjadi? Satu demi satu massa meninggalkan lapangan. Mungkin mereka pusing diceramahi Ahok. Padahal, itulah pendidikan politik yang sangat penting diketahui rakyat. Itulah pengetahuan berharga.

Hebatnya, Ahok tetap orasi. Dia ajari, masyarakat jangan gampang ditipu politikus. “Anda jangan mau diberi kaos. Tapi tuntutlah pembangunan jalan, jembatan, kebersihan pasar, bebas biaya sekolah, bebas biaya rumah sakit, tunjangan hari tua,” tuturnya.

Warga sudah tidak peduli ucapan Ahok. Mereka heran ada kampanye seperti ini. Dalam benak mereka, kampanye lazimnya ‘kan janji-janji. Calon pejabat janji berbuat ini, melakukan itu. Memuji-muji partai. Teriak yel-yel mendukung Caleg. Ada musik dangdut. Joget. Eee... ini beda banget. Garing banget.

Berangsur-angsur massa meninggalkan lapangan. Jumlahnya berkurang drastis.

Sebaliknya, Ahok tetap bandel. Dia tetap menjelaskan. Tetap mengajarkan kalkulasi politik. “Andaikan saya terpilih, lalu andaikata saya tidak memperjuangkan jaminan sosial kalian dari uang APBD, maka milik kalian semua sudah saya rampok...” tegasnya.

Orang kaget dengan ucapan Ahok terakhir yang terdengar kasar. Sebagian orang yang jalan meninggalkan lapangan, masih menoleh ke arah panggung, saking kagetnya.

Sedangkan Ahok justru mempertegas, “Ya.... kalian tidak tahu... Bahwa kalian dapat kaos, tapi hak-hak kalian saya rampoook...” teriaknya.

“Maka, pilihlah calon yang bersedia membangun negerinya, memajukan bangsanya... bukan yang memberi kalian kaos...” katanya sengit.

Alamaaak… lapangan kini sudah sepi. Tinggal belasan orang dekat panggung. Mereka pengurus partai PIB. Ditambah beberapa polisi pengaman kampanye.

Semua orang tercengang menyaksikan keajaiban kampanye ini. Kampanye unik dan langka. (bersambung)

Bagi yang ingin memesan Buku BIOGRAFI AHOK, silakan hubungi :
DANANG WIKANTO (0896-2766-7454) 
Atau Facebook Fanspage : Ahok Biografi
Buku seri 2 dengan judul "Beginilah Rahasia Poltik Saya" Harga pre order Rp160.000(berlaku sampai 31 Januari 2016)
Ayo buruan diorder !!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.