Dibalik Liputan Michael Jackson, Singapore '93 (2)

Jacko

Jacko

Rambutnya pirang diikat ekor kuda. Matanya biru, dipayungi bulu mata lentik. Bodynya seksi dengan busana ketat. Dialah cewek Swedia yang mendampingi saya liputan kali ini.
---------------------
Jelang sore, lobby Hilton Singapore ramai. Ratusan orang lalu-lalang. Sebagian minum kopi di lounge, atau bergerombol di front desk resepsionis. Wajah-wajah mereka ceria, bau mereka harum, celoteh bahasa Inggris dan sebagian Mandarin.

Di luar cuaca cerah. Dari dinding kaca, ke arah luar, tampak pedestrian yang lebar (sekitar 15 meter) dihias aneka tanaman. Pejalan kaki kebanyakan anak muda, berpakaian modis.

Di arah sana, lalu lintas kendaraan di Orchard Road padat-merayap. Anehnya, begitu banyak kendaraan, tapi tidak macet. Bus juga taksi, tertib mengambil-menurunkan penumpang di halte.

Kami tidak kesulitan menemukan rombongan. Ada spanduk: “Rombongan Tour dari Surabaya, Check In Disini”. Dicantumkan juga nama travel kami (saya lupa namanya). Supaya tidak salah masuk. Sebab, ada beberapa spanduk semacam itu dari travel lain.

Pembagian kamar, satu untuk berdua (sesama jenis kelamin, pastinya). Joko dengan Hendri, saya dengan peserta tur lain (lupa namanya). Sudah tepat. Tak sengaja panitia seperti mengatur, wartawan Nyata kumpul di satu kamar. Cocok.

Joko mendekati saya, “Dwo, ini Hendri biar tukar kamar dengan kamu. Dia setuju. Kamu sekarang dengan saya,” katanya.

Wah… Diatur lagi. Hendri menurut saja. Sambil menggendong mesin ketiknya, dia mendekati saya, meminta kunci atas nama saya. Lantas saya mengikuti Joko, si pemegang kunci, menuju lift.

Di dalam kamar, saya mengkhawatirkan mesin ketik yang mestinya saya bawa. Sudah menjadi ajaran Pak Dahlan: Wartawan, begitu tiba di suatu tempat, sudah bisa langsung bekerja. Apalagi kini belum pukul 13.00. Waktu Jakarta mundur sejam. Jadi masih banyak waktu. Tapi, belum ada yang bisa diketik sekarang. Harus orientasi lapangan. Jadi, nanti saja mesin ketik saya ambil.

Hebatnya, Joko sudah meninggalkan kamar lebih dulu dari saya. Dia sudah koordinasi dengan Hendri via telepon kamar. Dia ke stadion, lokasi konser Jacko mulai besok malam. Sedangkan Hendri ditugasi masuk ke hotel Jacko, dan mengamati situasinya.

Mungkin Hendri menanyakan alamat hotel Jacko, sehingga Joko kesal. “Ah… kamu ini. Tanyakan ke siapa saja di Singapura ini pasti tahu hotelnya,” bentaknya.

Saya dengar dari panitia tur, Jacko menginap di Raffles Hotel di Marina Bay. Percuma kesana. Jacko pasti tak tersentuh. Saya sudah mempelajari kebiasaan Jacko dari beberapa tulisan, dia tidak pernah menggelar konferensi pers jelang konser, seperti kebiasaan musisi kita. Jacko sudah terlalu besar, tak perlu publikasi.

DARI PETUGAS KE PETUGAS

Saya sebenarnya sangat gelisah. Penugasan nonton di hari kedua benar-benar menyulitkan. Semua wartawan Indonesia pasti nonton di hari pertama. Liputan JP bakal ketinggalan dibanding Kompas dan koran lain.

Ingat ajaran Pak Dahlan, wartawan tak boleh berhenti bergerak. Itu yang membuat liputannya bagus.

Saya pilih ke stadion (Singapore National Stadium) di Kallang. Ganti bus dua kali, sampailah di lokasi. Ternyata semua pintu stadion dijaga puluhan bodyguard Negro. Semuanya tinggi besar (tingginya rata-rata sekitar 2 meter). Semuanya membawa HT.

Saya kalungkan kartu pers di leher, maju saja, berniat masuk. Namun, begitu dekat pintu, seorang diantara mereka menghadang. Saya sodorkan kartu pers yang masih terkalung. Dia teliti.

“No... no... no press,” bentaknya. Mungkin dia tak membentak, tapi dengan badan sebesar itu, power suaranya kuat. Saya tawari rokok dia menolak. Saya menyulut rokok sendiri.

“Apakah properti panggung sudah siap digunakan?” tanya saya.

“Ya, tentu saja.”

“Katanya, peralatan panggung canggih. Secanggih apa sih?”

Dia meneliti lagi kartu pers saya. Dia tanya negara asal saya, sebab di kartu pers tidak disebutkan negara. Setelah saya jawab Indonesia, dia tersenyum. Dia pernah ke Bali.

Dia jelaskan, panggung dilengkapi belasan kamera, tergantung di rangkaian tiang besi. Kamera digerakkan remote control, dan fleksibel mengikuti sang mega bintang. Masing-masing kamera dikendalikan seorang kru. Mereka koordinasi melalui HT. Gambarnya ditayangkan ke layar sangat lebar di kanan panggung.

Semua peralatan diangkut khusus dengan 2 pesawat Boeing 747 (jenis baru saat itu). Pertanyaan soal panggung dia jawab semua. Tapi tiap masuk ke pribadi Jacko, dia langsung “no comment”.

“Besok ‘kan hari ulang tahun Jacko, apa yang istimewa di konser besok?” tanya saya.

“Anda saksikan sendiri, besok.”

“Tiket saya untuk konser lusa.”

“O… harusnya anda nonton besok.”

Dia jelaskan, kemarin Jacko sudah mengamati panggung dan memberikan aneka instruksi kepada kru. Tapi belum sempat dia ceritakan detil, HT dia berbunyi, instruksi bahasa sandi.

Kini dia tak lagi mau bicara. Saya perhatikan, dia dan beberapa bodyguard Negro di sekitar pintu kini banyak bergerak, seperti sedang siap-siap. Ternyata ada barang besar yang dimuat truk, masuk ke stadion.

Saya mencari petugas lokal untuk tambahan informasi. Petugas lokal (berseragam, ID Card di dada) tidak berjaga di pintu. Mereka angkat-angkat barang, keluar-masuk stadion. Ketemu anak muda, tapi dia keberatan ditanya-tanya. Ada yang setengah baya, juga ogah didekati.

Saya yakin, saat Jacko cek panggung kemarin, pasti semua petugas menonton. Apa saja yang dilakukan Jacko, instruksi apa ke kru? Akhirnya, ketemu juga petugas yang mau cerita.

Ternyata, kemarin semacam gladi resik. Jacko tidak menyanyi, tapi dia banyak bergerak di semua areal panggung. Juga ada peragaan potong kue tart yang turun dari atas, melalui peralatan hydraulic. Jacko menjelaskan semua urutan skenario konser. Inilah liputan saya pra konser.

Lewat senja, saya kembali ke hotel mencari mesin ketik. Repotnya, kamar Hendri kosong. Zaman itu kami belum ada yang punya HP. Paling sial, naskah akan saya tulis tangan. Lalu saya dikte lewat telepon ke Jakarta. Biayanya pasti sangat mahal, dan ini tidak ditanggung panitia tur.

Namun, saya masuk business centre, ternyata boleh pinjam komputer. Saya merasa benar-benar ndeso membawa mesin ketik dari Jakarta.

Hasil ketikan saya kirim via fax ke Jakarta dari business centre pula. Begini lebih murah. Pukul 20.00 semuanya beres. Saya sudah bisa nonton tv di kamar.

Pukul 23.00 Joko datang. Dia masuk kamar dengan Hendri, bersama mesin ketik besar itu. Mereka heran melihat saya sudah santai. “Luar biasa… wartawan JP memang bekerja lebih cepat,” kata Joko.

Sebenarnya lebih hebat Joko. Dia mengetik hasil liputan sampai tengah malam. Dia juga menuliskan hasil liputan Hendri yang duduk di sebelahnya. Entah sampai pukul berapa mereka bekerja. Saya tertidur di keriuhan bunyi hammer mesin ketik memukul penahan karet.

HASIL LIPUTAN DIADU, KALAH

Esoknya kami berpencar lagi. Kami sama-sama ke stadion, tapi tidak berangkat bersama. Nyata terbit mingguan, harus memiliki strategi liputan beda dengan koran harian. Jika sama, habislah dia.

Tiba di stadion pukul 17.00 puluhan penonton sudah berdatangan. Sejam kemudian sudah ribuan. Padahal, show mulai 20.00. Mereka masuk dengan tertib. Saya mengamati, kalau-kalau bisa nyerobot. Namun, tidak ada celah. Warna tiket mereka merah, tiket saya (untuk besok) hijau.

Lewat 19.30 sebuah heli mendarat di areal dekat stadion. Jacko datang. Tapi, pengamanan sampai sekitar radius 150 meter. Di kegelapan malam, dari jarak itu, saya melihat beberapa orang turun dari heli lantas masuk stadion lewat pintu, persis di belakang panggung.

Saya hanya mendengarkan konser dari lapangan di luar stadion. Di lapangan itu juga ada ribuan orang menyemut, mendengarkan Jacko menyanyi. Pukul 22.00 konser belum usai, saya kembali ke hotel, mengetik berita. Caranya seperti kemarin.

Joko tiba tengah malam, mengetik di kamar. Seperti biasa, saya tetap bisa tidur diiringi irama ketukan mesin.

Saya bangun jelang siang. Telepon kantor, minta office girl Bu Ning kirim fax guntingan koran Kompas berita Jacko. Kiriman saya terima di business centre.

Ada sedikit perbedaan angle liputan. Kompas melaporkan jalannya pertunjukan. JP juga menyajikan pertunjukan, termasuk potong kue tart. tapi kalah rinci. Sedangkan Kompas kalah di detil sistem gerak belasan kamera dan teknologi hydraulic panggung.

Saya bayangkan, Pak Dahlan tadi pagi sudah mengamati JP dan kompetitor. Ini sudah jadi kegiatan mendarah-daging baginya. Saya nilai, JP kalah banding Kompas.

Malam ini saatnya nonton. Saya masih berani menulis laporan jalannya pertunjukan. Sebab, di Kompas laporan panggungnya kurang ‘hidup’. Atmosfer konser yang saya rasakan di luar stadion, tidak saya temukan di tulisan.

Di kamar, saya menyusun daftar judul lagu yang dibawakan Jacko semalam. Pasti nanti malam lagu-lagu ini lagi. Saya dengarkan berulang-ulang. Menghayati, membayangkan gerakan atraktif Jacko. Dengan begini saya punya waktu ‘pendalaman’. Kurang ‘hidup’-nya tulisan Kompas, karena durasi menulisnya terlalu pendek, dikejar deadline.

 Kalau saya tidur diiringi mesin ketik, sekarang Joko tidur dibuai lagu-lagu Jacko menghentak dari tape kecil, volumenya saya besarkan. Eee… Joko tetap ngorok, saking lelahnya.

Siang kami bertemu teman lama, Abdul Muis (AMU), wartawan JP yang ditugaskan di Malaysia, sekitar 4 tahun. Amu salah satu wartawan andalan JP. Mungkin dia dikontak Joko, sehingga kami bertemu di dekat hotel.

Dari Amu, kami diajari cara murah menelepon kantor. “Cukup kamu masukkan koin recehan ke telepon umum, lalu tekan angka ini,” katanya. Hubungan akan tersambung ke Telkom, lalu ke kantor. Beban pulsa pada kantor JP.

Petunjuk Amu ini sangat berharga buat saya dan Joko. Kami gunakan berulang-ulang.

OH… CAROL

Sore, saya, Joko, Hendri meninggalkan hotel, menuju stadion. Kini saya sudah merasa sangat dekat dengan Jacko. Lagu dan gayanya menari-nari di benak saya. Dalam menulis, apalagi liputan model begini, imajinasi menjadi sangat penting.

Saat kami jalan meninggalkan hotel, mendadak Joko punya rencana lain, “Hendri, kamu berangkat duluan ke stadion. Saya dengan dwo ada janjian ketemu cewek,” katanya, ketawa. Busyet… apa pula ini?

Hendri berangkat. Ternyata Joko tidak bergurau. “Kemarin aku kenal cewek bule. Dia juga punya tiket nonton malam ini,” ujarnya. “Kami janjian berangkat bersama dari McDonald. Ayo kita jemput,” tambahnya. Wah… wah… wah… Joko hebat juga, bisa memadukan pekerjaan dengan yang lain.

Saya tanya, “Dia punya teman cewek nggak?” Ternyata si cewek sendirian. Saya persilakan Joko jemput sendiri. Tapi, kata Joko: “Nggak papa. Orang Barat bebas, kok. Kita bisa gantian.”

Apa maksud kata “gantian”? “Bukan apa-apa. Kita nonton bareng-bareng. Nggandengnya gantian, gitu loh….” jawabnya, tertawa cekikikan.

Saya antara senang dan tidak. Sulit membayangkan, kira-kira 10 menit dia gandeng, 10 menit berikutnya saya. Lalu balik ke dia lagi. Masak bisa begitu? Juga apakah ceweknya mau?

“Apakah kamu kemarin sudah tidur dengan dia?” tanya saya blak-blakan. Joko terbahak-bahak. Cukup lama saya menunggu dia berhenti tertawa. Saya tidak tahu arti tawanya. Lantas dia menegaskan, “Belum. Sumprit… belum.” Oo…

Biar tidak penasaran, saya ikuti dia. Ternyata si cewek memang cantik, khas wajah bule. Cuma, badannya terlalu tinggi untuk saya dan Joko. Tingginya kayaknya lebih dari 175 cm. Saya 163, Joko sekitar 4 atau 5 senti di atas saya.

Dia tersenyum ke arah kami (mungkin ke Joko, kali). Saya kenalan (lupa namanya). Sebut saja Carol. Melihat wajahnya, terbersit lagu The Beatles: “Oh Carol. Don’t let him steal your heart away…

Dia dari Swedia, tidak sengaja nonton Jacko. Hanya melancong ke Asia, dari Hongkong. Usianya 21, kuliah jurusan sejarah, kebetulan sedang libur. Sepekan lalu dia beli tiket Jacko.

“Let's go to the stadium…” kata saya, khawatir terlambat. Jalan bertiga cewek di tengah. Joko tak menggandengnya. Saya ‘wait and see’ saja.

Carol ramah. Dari gaya bicaranya, dia terpelajar. Rambut pirangnya dikuncir ekor kuda. Matanya biru kehijauan, dipayungi bulu mata lentik. Badannya seksi, bobot sekitar 60 sampai 65. Celana blue jeans ketat, T shirt hijau lengan sangat pendek. Luar biasa… Joko nemu dimana boneka begini…

Naik bus juga pencar-pencaran. Joko tidak menggandengnya. Tiba di stadion Joko malah hilang di keramaian massa. Tinggallah saya dan Carol. Kami ngobrol di luar stadion, sambil menunggu kalau-kalau Joko mencari kami.

Sampai setengah jam jelang konser, Joko belum muncul. Kami masuk berdua. Sekarang baru bergandengan… Bukan apa-apa, Dul… Sebab masuk pintu stadion berdesakan.

Kami duduk di tribun, sekitar 150 meter dari panggung. Kapasitas stadion, berdasar data: 55 ribu orang. Penuh, baik tribun maupun lapangan rumput. Panggung sangat mewah. Bagian atas, samping kiri-kanan, pipa besi centang-perenang. Disitulah belasan kamera bergelantungan.

Duduk mepet-pet dengan Carol (karena penonton penuh) membuat konsentrasi terpecah. Senang sekaligus sedih. Senang, karena ditemani cewek cantik yang aktif ngajak bicara. Sedih, karena sekarang saya sedang tugas.

Sampai 21.00 belum ada tanda-tanda dimulai. Sudah sejam dari jadwal. Kemarin tepat waktu. Tapi, penonton tenang saja dihibur lagu-lagu Barat lama dan baru, dari sound yang suaranya sangat jernih. Andai ini terjadi di Indonesia, pasti sudah ribut.

Lewat dari 21.30 mulai ada beberapa penonton menyalakan lilin. Itu diikuti yang lain. Ternyata banyak penonton membawa lilin. Mereka goyangkan lilin secara serempak ke kiri dan kanan. Menghasilkan pemandangan mempesona, di bawah langit yang penuh bintang.

22.00 lagu-lagu berhenti. Panggung tetap sepi. Ada pengumuman. Intinya, konser ditunda lima hari lagi, Jacko mendadak sakit. Tiket tetap berlaku. Bagi yang ingin kembali uang, dipersilakan ke panitia. Tiket yang sudah dibuang, diganti tanda khusus.

Serentak terdengar gerutu puluhan ribu orang. Penonton kecewa. Tapi, hebatnya, mereka keluar stadion dengan tertib. Sama sekali tidak ada teriak kemarahan. Sungguh tak terbayangkan kacaunya, jika ini terjadi di Indonesia.

Saya harus bekerja. Kami sepakat pisah. Saya tanya hotel dia, katanya menginap di rumah sewa daerah Jurong, dan dia tak tahu alamatnya. “Joko tahu tempatnya. Besok kita jumpa lagi, bye…” ujarnya melambai.

ADUH… MENGGELANDANG LAGI

Tidak gampang mendekati panggung. Areal itu diblokade puluhan bodyguard Negro. Dari beberapa titik saya mencoba masuk, selalu diusir. Tak ada celah mendekati panggung.

Saya ganti cara, mendekati petugas lokal. Tidak gampang juga. Semuanya menolak. Dari beberapa, untung ada yang mau cerita: “Jacko masih ada di belakang panggung. Kira-kira 10 menit sebelum jadwal dimulai, dia pingsan. Katanya over dosis,” ujarnya.

Lho, berarti sudah dua jam lebih dia disana. Ngapain? “Kini dirawat tim dokter dari Mount Elizabeth Hospital,” jawabnya. Bagaimana cara melihat itu? Dia, kebetulan, memberitahu jalannya.

Prinsip Pak Dahlan, tidak ada kebetulan di dunia ini. Semua hasil, karena ada gerakan. Gerak fisik atau pikiran. Paling bagus kombinasi keduanya.

Saya masuk ruang ganti pakaian pemain bola, tembus persis di belakang panggung. Tapi, tidak bisa masuk kesana, ada pintu jeruji besi terkunci. Terlihat kesibukan berlangsung. Belasan perawat wanita mondar-mandir. Jacko dan para dokter tak kelihatan, terhalang dinding kayu.

Sekitar 15 menit, tampak Jacko terbaring di brankar didorong dua perawat, diikuti para lelaki berkalungkan stetoskop. Sementara, terdengar mesin heli hidup. Terbang menjauh, mungkin membawa Jacko.

Esoknya, Kompas memberitakan itu. Kelihatan mereka tetap menurunkan wartawan di konser hari kedua. Beritanya singkat: Konser Jacko batal. Kali ini JP unggul. Masak kalah terus?

Tapi, pagi-pagi panitia tur menelepon kamar kami, memberitahukan agar siap check out. “Rombongan akan meninggalkan hotel setelah breakfast. Kumpul di lobby 10.00,” kata suara wanita.

Bagi yang ingin nonton Jacko (empat hari lagi) panitia tur hanya memberikan tiket ke Jakarta. Maka, saya telepon atasan, Kepala Biro Jakarta Edhi Aruman, mohon pertimbangan. Jawabnya: “Tetap lanjut… Malah bagus. Jangan-jangan Jacko besok mati.”

Tapi, uang saya tinggal separo (sekitar USD 50) mana bisa bertahan? “Kamu punya kartu Amex?” Gak punya. “Nah, itulah… wartawan global gak punya Amex, berat. Tapi, aku yakin kamu bisa bertahan, minimal sampai show selesai,” perintahnya.

Saya sampaikan ke Joko, saya bertahan. Joko juga. Uang dia malah gak sampai separo dari saat berangkat. Sedangkan Hendri ngotot pulang, meskipun Joko menganjurkan bertahan.

Usai sarapan, saya dan Joko kembali ke kamar mengatur strategi bertahan empat hari. Hendri sudah berangkat ikut rombongan. Dia tinggalkan mesin ketik di kamar kami. Di saat uang mepet, barang berat ini bakal berguna.

Tengah hari, kami meninggalkan hotel. Sudah tidak ada jatah makan siang. Panitia sudah pulang. Joko mengajak makan di McDonald. “Setelah itu, kita harus cari makan dan tempat menginap yang murah,” katanya.

Wah… bakal menggalandang lagi, nih. (bersambung)

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.