DIBALIK LIPUTAN JACKSON SINGAPORE 1993 (3)

Jacko



Jangan gampang mengagumi profesi wartawan. Jika anda mengalami peristiwa ini, pasti anda tidak akan bangga jadi wartawan. Saya sebenarnya tidak enak menceritakannya. Tapi, sudah terlanjur ---------------------

 Tarif hotel bukan bintang. kata Hendri kemarin: SGD 90 (sekitar USD 48 kurs saat itu). Uang saya segitu juga, idem dengan Joko. Andai itu ditanggung berdua, cukup dua malam, lalu uang kami sama-sama habis. Tidak bisa makan. Padahal, harus empat hari lagi disini.

Makan di Mc D, pikiran saya menghitung uang. Terlalu mahal Joko pilih disini. Tapi, restoran seputar Orchard Road memang tidak ada yang murah. Pilih Mc D sebab harga terpampang jelas. Itu pun di atas SGD 10 atau USD 5,5. Tak ada warteg atau bubur kacang ijo..

Usai makan, saya dan Joko meluncur ke Hotel Raffles, tempat Jacko di Marina Bay. Wuiiih... penjagaan ketat. Tiga pintu masuk, termasuk pintu masuk khusus truk di belakang, dijaga bodyguard Negro.

Hotel sudah dipesan rombongan Jacko sejak sehari sebelum mereka datang, sepekan lalu. Tidak ada tamu lain. Ratusan kamar (hanya 3 lantai) diisi rombongan mereka, lebih dari 120 orang. Mobil catering masuk pintu belakang pun, diperiksa ketat. ID Card sopir dan kenek diteliti. ID Card karyawan hotel yang masuk, dicocokkan dengan catatan. Mereka bekerja cermat.

Setelah mengitari hotel, dan tidak menemukan celah masuk, kami nongkrong di halaman depan. Disana bergerombol ratusan fans Jacko. Ada Indonesia, Bule, China, Melayu, India, Entah, ngapain mereka disana? Mungkin menunggu kalau-kalau Jacko keluar.

Bentuk bangunan hotel kuno, dibangun tahun 1887 (berdasar data). Warna dominan putih dengan pilar-pilar tinggi kokoh, mirip Istana Negara kita. Halaman depan luas sekitar 100 X 100 sebagian besar rumput hias dengan tanaman perdu aneka bunga di sudut-sudutnya.

Orang berteduh dari sengatan matahari di beberapa pohon Tanjung. Sebagian besar anak muda. Diantaranya berbahasa Indonesia. Dari obrolan mereka saya dengar, Jacko tidak ada di hotel, tapi dirawat di Mount Elizabeth Hospital. Mereka tahu saja. Lantas, menunggu apa mereka? Inilah gilanya ngefans.

“Dwo, aku akan ke Mount Elizabeth. Bagaimana?” ujar Joko dengan nada tanya. Itu juga rencana di benak saya. Pertanyaan dia sudah memblokir langkah saya. Pertanyaan itu menyiratkan: Kalau aku kesana, kamu jangan. Sebab, dia bekerja untuk mingguan, saya harian. Jika liputan kami sama, habislah dia.

“DI (inisial Joko) selamat bertugas… Kita tentukan, ini tempat kita berkumpul. Persisnya, di bawah pohon Tanjung ini,” kata saya.

“Kamu mau liputan apa?”

“Gampang…nanti saya pikirkan.”

“Aku akan balik kesini sore nanti, sambil memikirkan cara menginap.”

DICARI: KARYAWAN RAFFLES YANG….

DI menghilang naik bus. Jam menunjuk 13.30. Saya bengong, sebagaimana ratusan fans Jacko disini. Ke stadion percuma. Tak akan ada apa-apa disana. Masuk hotel? Harus punya seragam karyawan, bordir nama di dada, lengkap dengan ID Card.

Mungkinkah pinjam karyawan yang wajahnya mirip dengan saya? Mungkin saja. Orang Negro pasti sulit membedakan wajah Asia, sebagaimana kita sulit membedakan wajah sesama Negro. Andai lolos di pintu, harus paham tugas-tugas dan kebiasaan harian. Di dalam pasti dikenali sebagai orang asing oleh sesama karyawan.

Tapi, masak saya diam mematung? Kata Pak Dahlan, wartawan harus selalu bergerak. Gerak fisik atau pikiran. Paling bagus kombinasi keduanya.

Saya pindah ke dekat pintu belakang. Karyawan mungkin lewat sini. Nanti, saat pergantian shift, mereka bisa ditempel. Kalau bisa mendekati orang yang tepat, segalanya bisa diatur.

Enaknya, hotel ini seperti dikepung fans. Ada belasan orang di sekitar pintu belakang. Sehingga saya bisa membaur, walau orang disini tidak sebanyak di halaman depan. Pintu belakang ini pas dengan pedestrian. Saya berdiri belasan meter dari pintu. Supaya bisa bergerak cepat.

Pukul 17.30 pintu dibuka. Ada 2 minibus hendak masuk. Alamaaak… penumpangnya karyawan semua. Berarti mereka dijemput dari rumah masing-masing. Mereka yang pulang nanti kemungkinan besar juga diantar.

Ternyata benar. Tak sampai setengah jam kemudian 4 minibus keluar, penumpangnya… karyawan. Ancur, deh… Bayangan saya, seperti bubaran pabrik rokok di Indonesia, karyawannya jalan kaki atau naik sepeda. Ndeso…

ASYIK… CAROL MUNCUL LAGI

Hari hampir gelap, saya kembali ke halaman depan, di bawah pohon Tanjung. Joko sudah disana. Ngobrol dengan… Carol.

Asyiiik…. Si ekor kuda muncul lagi. Celana jeans ketat hitam, T shirt merah, ditutupi jaket krem. Gadis ini memang cantik. Mengapa orang tuanya berani melepasnya keliling dunia sendirian? Pasti pribadi anak ini sudah matang. Atau budaya mereka yang beda dengan saya?

Dia tersenyum ke saya. “How are you, mister John….” sapanya mengulurkan tangan. Salaman, dia menarik tangan saya, ternyata diajaknya cipika-cipiki…

Dada saya berdebar (lagi). Bukan apa-apa. Saya tak terbiasa salaman model begini. Pipi putih kemerahan itu membuat saya berdebar. Saya ikut budaya dia saja. Panggilan mister yang tidak enak. Terasa saya tua. Usia saya 34, memang wajar begitu banding dia yang 21. Lebih tak enak lagi, saya sudah beristeri.

Kami ngobrol. Carol banyak cerita tentang show yang batal, semalam. Di sela Carol mengoceh, saya sisipi gurauan ke Joko:

“Masak ketemu di Mount Elizabeth?”

“Hahaha… ya, kebetulan.”

“Tak ada kebetulan di dunia ini, kata Pak dahlan.”

Kami terbahak-bahak. Carol protes, sebab dia tak mengerti. Dia minta, penyebab kami tertawa harus diterjemahkan. Joko hanya tertawa, mengarahkan tangannya ke saya. Asal saja, saya terjemahkan, “Kamu gadis cantik, Carol… Kami kagum padamu.”

“No… no… pasti bukan begitu. Itu bukan kata yang lucu,” ujar Carol.

Saya jadi kerepotan. Jika saya terjemahkan pun, belum tentu lucu bagi dia. Sebab, ini bukan jenis lucu universal. Ini lucu etnik Surabaya. Lucu terkait internal JP. Lucu terkait gender, sesama lelaki.
Tapi, Carol memaksa saya menterjemahkan juga. Setelah saya terjemahkan, dia berpikir sejenak. Lalu, “No… no… bukan begitu…” katanya sambil menjejak-jejakkan kedua kakinya, seperti jalan di tempat.

Luar biasa… Baru kali ini saya berhadapan dengan gadis bule yang merajuk. Pipinya yang putih kemerahan, kian merona. Dia berdiri dengan latar belakang temaram senja. Langit jingga di ufuk barat, membuat rambut blonde itu berkilau-kilau. Sungguh indah Allah menciptakan manusia dan alam ini. Subhanallah… dengan indah ciptaan-Nya.

“Kita makan, yuk…” ajak Joko, memenggal pemandangan baru bagi saya itu. Kami akhiri perdebatan, jalan bersama mencari tempat makan. Posisi Carol di tengah, lagi. Joko tidak menggandengnya. Saya juga tidak.

Kini saya mengerti maksud Joko kemarin: “Kita bisa gantian”. Saya sudah diberi kesempatan dekat Carol, kemarin. Sepanjang siang tadi, mungkin Joko. Mungkin besok….

Saya terkejut, Joko memilih restoran. “Ayo…” ajak Joko yang jalan duluan, masuk Mc D. Saya menyela, “Apa tidak cari di pinggiran? Sambil jalan-jalan menikmati senja.” Dia menggeleng, menyahut: “Aku yang traktir.”

Sambil makan, saya pikir: Bakal semakin cepat kami kelaparan, nih. Carol saya lihat tetap ceria. Atau, Joko sudah ‘memeras’ Carol? Untuk mengetahuinya, harus diuji. Saya berbahasa Indonesia: “Apakah malam ini kita bisa kruntelan (bersatu) di kamar Carol?” Joko menggeleng. “Sudah saya tanyakan, dia gak mau.”

Carol protes lagi. “Ini Singapore, man… Bukan desa kalian,” ujarnya. Kali ini dia sewot. Saya jelaskan, bahwa kami sedikit menyinggung pekerjaan. Tapi dia memotong, “Wooow… mengapa ada namaku?” Saya berkelit, bukankah Carol ikut saya ke stadion? Tapi dia geleng-geleng. “No… no…”

Usai makan, Joko yang bayar. Billing nyaris SGD 40. Lalu kami pisah. Saya dengan Joko, Carol pulang. Ada yang janggal di logika saya. Pertemuan dengan Carol sore ini, bagi saya, rasanya baru awal. Sedangkan bagi Joko, kayaknya akhir suatu proses. Tapi, ah…. Sudahlah….

JADI FANS JACKO? DIAMPUT…

Joko mengajak saya menuju Jurong. “Disana ada kamar-kamar yang disewakan murah. Ini diberitahu Abdul Muis,” katanya. Saya menurut saja.

Tiba di sebuah rumah besar dua lantai. Ruang tamu dibentuk seperti resepsionis mini. Tarif SGD 45 per kamar untuk berdua, tanpa breakfast. Dada saya kini menggos-menggos (tersengal-sengal). Tambah cepat mati ini…

Kata “Jurong” mengingatkan saya pada ucapan Carol saat saya pisah dengannya di stadion, kemarin. Berarti, Carol tinggal di sekitar sini. Sudah saya cek, belasan kamar disana, tak ada Carol. Tiap kamar saya amati, saat penghuninya keluar-masuk.

Tapi, wilayah itu memang beda dengan pusat kota. Disini lebih sederhana. Tak jauh dari situ ada masjid. Saya dan Joko shalat Subuh disitu. Jamaahnya kebanyakan orang Pakistan. Sarapan juga murah, sebab saya makan nasi lauk gorengan. Joko masih berani ambil telur ceplok. Ini baru ketemu warteg-nya Singapura.

“Dwo, kita tidak mungkin lanjut nginap disini. Waktu masih tiga hari.”

“Jelas. Tapi, saya sudah menemukan hotel kita.”

“Dimana?”

“Hotel Raffles…”

Sejenak dia diam, menghentikan mengunyah makanan. Lantas kami tertawa. Dia terpingkal, geleng-geleng, sambil menunjuk-nunjuk ke saya. Dia sudah menangkap maksud saya: Lapangan rumput di halaman Hotel Raffles. Disitu selalu ramai. Lokasi tepat untuk penyamaran.

“Jadi, kita siap check in di rumput Raffles, ya?” tegasnya. Saya mengangguk sampai menggoyangkan punggung, begitu meyakinkan. Dia mengangkat tangan kanan yang terbuka. Kami tos, tanda sama-sama mantap, siap menggelandang.

Check out dari hotel rumahan itu, kami masih makan siang di warteg lagi. Kami akan banyak bolak-balik antara Raffles di Marina Bay ke Jurong, naik bus. Menginap di Raffles, makan di Jurong.

Di rumput Raffles kami pilih tempat. Sepakat lokasinya pencar, supaya tidak mencolok sebagai gelandangan bersaudara. Saya pilih di bawah pohon Tanjung. Siang ini adem, nanti malam pasti sejuk banget. Suejuuuk pol…

Jelang sore, saya dikagetkan oleh teriakan gemuruh dan suit-suit riuh. Ternyata Jacko sudah di dalam hotel. Dia membuka jendela di lantai 3 lalu melambaikan tangan ke arah ratusan orang di halaman depan. Dia mengenakan jaket hitam. Menempelkan tangannya ke mulut, lalu melambai. Histeria massa pun meledak. Sampai ada gadis bule berteriak histeris, “Jacko…. Jacko… oh, Jacko….

Hanya sekitar satu-dua menit Jacko melambai, lalu pintu jendela ditutup lagi. Saya mencari tempat agak terang di pedestrian, lalu mengetik disitu dengan mesin besar yang kini saya bawa. Menulis berita, Jacko sudah pulang dari Mount Elizabeth, dan kondisi hotelnya.

Berita jadi, saya cari semacam wartel, lalu kirim fax ke Jakarta. Untuk memastikan fax diterima, saya ke telepon umum, menelepon kantor gratis menggunakan cara ajaran Abdul Muis.

Penerima telepon atasan saya, Edhi Aruman, mengeluh: “Wah… kemarin kamu seharian tak kirim berita, juga hilang kontak. Padahal, tulisan-tulisanmu dipuji Pak Dahlan. Dia telepon saya dari Surabaya,” tuturnya. Tentu saya senang. Bisa jadi itu hanya cara Pak Dahlan membangkitkan semangat saya, yang dia perkirakan mulai merosot.

Balik ke Raffles, hari sudah larut. Masih banyak saja orang. Sampai 24.00 masih saja ramai. Tapi, mereka silih-berganti. Datang dan pergi. Saya mulai rebahan di rumput. Banyak juga yang duduk di rumput sekitar saya.

Saat saya terlentang berbantalkan tas, seorang gadis Melayu berbicara ke temannya, setelah melirik saya, “Ooow… fans Jacko sampe tidur-tiduran begitu.” Saya pura-pura tak dengar. Diamput…

Sulit tidur, barangkali tubuh belum menyesuikan diri. Sampai 03.00 saya belum bisa tidur juga.

Ketika saya hampir terlelap, mendadak dikejutkan sesuatu. Punggung saya digigit semut. Kayaknya jumlahnya banyak. Saya buka baju, mengibas-kibaskannya. Sekelompok pemuda di dekat saya tertawa. Entah apa arti tawanya.

Saya terbangun saat mata saya tertusuk sinar matahari. Selamat pagi, Singapura… Aku sudah memelukmu, lelap di bumimu. (bersambung)

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.