AHOK BIOGRAFI (7) : Ahook.. Awas Ada Buaya...


 Ahok kecil mancing di empang. Dua meter di sebelahnya, berjajar dua teman sebaya, juga mancing. Tahu-tahu, Ahok melihat sesuatu di air. Bukan ikan. Seperti kayu terapung. Tapi bergerak stabil ke pinggir. Dia teriak: “Akbar... cepat kita lari...”
------------------
Teman yang dipanggil Akbar dan satu teman lagi, pada kaget. Mereka langsung berdiri. Mengamati, benda yang dilihat Ahok di air. Mereka memicingkan mata, silau matahari.

Benda itu kecoklatan. Terapung pada jarak sekitar empat meter dari anak-anak. Tapi, posisi benda itu terus bergerak pelan ke pinggiran empang.

“Ah... itu kayu. Kamu nakut-nakuti aja, Hok.”

“Itu buaya, Bar... Cepat... kita pergi dari sini.”

Dua teman Ahok, Akbar dan Saiful, masih tetap di pinggir empang. Malah, berusaha melihat lebih jelas benda coklat itu.

Tak sabar, Ahok menarik dua temannya menjauhi empang.

Akbar masih mendebat:

“Tak ada riak di air, Hok... Kalo buaya, air beriak-lah...”

“Ah... sudah... Itu buaya...” ujar Ahok, sambil menarik lengan dan baju teman-temannya.

Ternyata betul.

Beberapa detik setelah menjauh, mereka menoleh. Seekor buaya naik dari permukaan air. Berjalan pelan. Menuju tempat mereka jongkok tadi. Buaya dewasa. Panjang sekitar dua meter.
Kontan, tiga anak itu lari tunggang-langgang. Mereka malah ketawa terbahak-bahak.

Itulah sekuel kehidupan masa kanak-kanak Ahok. Dia anak kampung. Kebetulan, kampungnya di Desa Gantung, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung, sangat banyak buaya. Sehingga Ahok kenal gaya, gerak-gerik si raja air itu.

“Buaya jago menyamar. Kalo berenang, yang muncul hanya bagian mata. Kakinya mengayuh tanpa menimbulkan riak gelombang,” tutur Ahok.

Jika di darat, lanjutnya, buaya malah sulit dikenali. Dia ngumpet di semak-belukar. Atau di balik tanaman perdu sekitar rawa-rawa.

Tapi, Ahok tetap punya cara mendeteksi keberadaan buaya di darat.
“Kalo di semak banyak lalat, maka jangan mendekat. Disitu pasti ada buaya. Sebab, mulutnya menarik banyak lalat berdatangan,” tuturnya. “Atau, buaya sedang menyimpan makanan di situ. Bangkai binatang. Berarti buaya tak jauh dari makanannya.”

Luar biasa... Ahooook....

Cerita Ahok ini menandakan dia benar-benar anak kampung. Akrab dengan lingkungan alam desa. Akrab dengan semak-belukar dan rimbunnya hutan. Lengkap dengan perilaku bintang-binatangnya. Bukan anak rumahan yang eksklusif dan manja.

Padahal, dia anak pengusaha kaya. Kalo sekadar beli ikan, apalah... susahnya. Makanan keluarga Ahok pasti lebih berkualitas dibanding teman-temannya.

Tapi, begitulah Ahok. Gemar mengembara. Memancing di empang dan sungai. Paling suka mancing bersama teman-teman. Ikan hasil pancingan dibawa pulang. Dan, dia senang.

Apa kata Mama? “Mama cuma ketawa aja kalo gue pulang bawa ikan. Mama biasanya ngomel bukan karena gue mancing, tapi seragam sekolah dan sepatu belepotan tanah,” ujarnya ketawa.

Kendati, tak seluruh masa kanak-kanak Ahok menyenangkan. Buku “Tionghoa Keturunanku, Indonesia Negeriku, Membangun Bangsa Tujuanku” mengungkap secara seimbang antara senang dan sedih Ahok.

Kalo gak percaya, tunggu aja sambungan kisah-kisah Ahok disini, di Blog ini. (dwo)

Bagi yang ingin memesan Buku BIOGRAFI AHOK, silakan hubungi :
DANANG WIKANTO (0896-2766-7454) 
Atau Facebook Fanspage : Ahok Biografi
Buku edisi 1 dengan judul "Tionghoa Keturunanku, Indonesia Negeriku, Membangun Bangsa Tujuanku" Harga pre order Rp100,000 (berlaku sampai 7 Januari 2016)
Ayo buruan diorder !!
 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.