AHOK BIOGRAFI (6) : Ketika Ahok Kecil Ditempa Papa


“Papa... siang tadi aku terima rapor di sekolah,” ujar Ahok kecil, saat makan malam bersama keluarga di rumahnya, Desa Gantung, Belitung Timur, Babel. Sang Papa, Kim Nam, bertanya: “Hasilnya gimana?”
-----------------
Ditanya begitu, Ahok pasang tampang sedih. Wajah ditekuk, menunduk.
Kim Nam heran. Biasanya Ahok selalu gembira setiap terima rapor. Sebab, nilai rapor anak ini selalu bagus.

Kim menghentikan makan. Mengamati wajah anak sulungnya dengan teliti:
“Apakah kamu tidak naik ke kelas enam, Hok? Papa kok tidak dipanggil ke sekolah? Biasanya, untuk rapor jelek, orang tua yang mengambil rapornya.”

Ahok diam. Tetap menunduk. Kim jadi yakin, Ahok tidak naik kelas. Tapi, anehnya, untuk rapor jelek semestinya diambil orang tua. Begitu peraturan di SDN 3 Gantung, saat itu.

“Kalo kamu tidak naik, ya sudah.... itu pelajaran bagimu. Supaya kamu tidak sombong, mengabaikan belajar,” kata Kim.

Mama Buniarti kelihatan sedih. Dia menghentikan makan, memandang kasihan pada Ahok. Adik Ahok, Basuri, ikutan sedih karena melihat Mama sedih. Dua adik Basuri, Lety dan Harry, tenang saja. Tetap makan dengan lahap. Mereka masih terlalu kecil untuk mengerti.

Beberapa saat kemudian Ahok bicara:

“Bukan tidak naik, Papa...”

“Lalu apa?”

“Aku juara satu....”

Semua terdiam. Semua kaget. Ahok baru saja main sandiwara, untuk membuat suasana surprise.

Belum genap kekagetan keluarga, Ahok sudah menjelaskan:

“Aku juara satu sekolah. Bukan hanya juara kelas, lho Papa... juara sekolah...”

Kim tertawa. Buniarti tersenyum. Basuri dan dan-adiknya ikut-ikutan tertawa, bertepuk tangan. Suasana gembira kini tercipta di meja makan.

Tak diduga, Kim Nam berkata enteng:

“Itu hal biasa,” ujar Kim pendek.

Kim berkata begitu sambil menyendok makanan, memasukkan ke mulut, mengunyah.

Buniarti beralih memandang suaminya. Dia tampak kecewa dengan ucapan suami. Dia hendak bicara, tapi Kim sudah mendahului.

“Kamu memang anak pintar, Hok. Mungkin saja kamu anak paling pintar di desa ini. Tapi, itu hal biasa. Kamu tahu, mengapa Papa katakan biasa?”

Ahok menggeleng. Wajahnya kecut. Dia tak menyangka, Papa berkata begitu. Lalu Kim menjawab sendiri pertanyaannya:

“Karena, kamu makannya ayam, telur, daging. Minumnya susu. Ke sekolah pake sepatu. Sedangkan teman-temanmu di desa ini makannya singkong. Minumnya teh. Ke sekolah tanpa alas kaki. Pantas saja mereka kalah sama kamu,” tutur Kim.

Ahok menunduk. Kebanggannya pada nilai rapor, yang semula dia banggakan, kini merosot drastis. Dia semula hendak bergaya menciptakan surprise, sekarang itu tak berarti lagi.

Kim melanjutkan,
“Kamu anak pintar di desa ini. Tapi, banyak anak lebih pintar dari kamu di kota-kota besar. Kalo kamu berani, Papa sekolahkan kamu di Jakarta.”

Ahok mengangkat wajahnya, memandang wajah Papa. Dia senang, ditantang Papa, bersaing dengan anak-anak Jakarta.

“Kapan aku pindah ke Jakarta, Pa?”

“Tidak sekarang, juga tidak SMP. Mungkin saat kamu SMA nanti,”

“Ya... terlalu lama,” ujar Ahok.

“Kamu harus memahami betul desamu ini dulu, sebelum ke kota. Setelah paham, barulah kamu menuntut ilmu di kota. Setelah lulus, kembali lagi ke desa ini untuk berbuat memajukan desa ini,” tutur Kim.

“Aku mau ke Jakarta, Pa. Aku berani bersaing dengan anak-anak Jakarta.”

“Ya... Papa tahu kamu, Hok. Kalo ditantang, kamu makin jadi. Papa suka itu. Dan, Papa yakin kamu mampu bersaing di Jakarta,” ujar Kim, sambil mengelus punggung Ahok.

Kini gairah Ahok bangkit lagi. Menyala-nyala lagi.

“Ahok bakalan menang bersaing dengan anak Jakarta. Papa...”

“Ya... sudah... sekarang kita makan dulu.”

Begitulah sekilas masa kanak-kanak Ahok yg ada di buku “Tionghoa Keturunanku, Indonesia Negeriku, Membangun Bangsa Tujuanku”.

Peran Kim Nam sangat besar dalam membentuk karakter Ahok. Dia menempa, menggembleng Ahok dengan begitu keras. Dia tidak gampang memuji Ahok, meski dia tahu persis bahwa Ahok cerdas. Sebaliknya, dia sering memberi tantangan ke Ahok.

Kebetulan, watak Ahok keras dan suka tantangan. Sedangkan Kim, pelan-pelan, tapi terus-menerus memberi tantangan. Sampai suatu saat kelak, Ahok tak tahan terhadap tantangan Kim. Tunggu kelanjutannya. (bersambung)

Bagi yang ingin memesan Buku BIOGRAFI AHOK, silakan hubungi :
DANANG WIKANTO (0896-2766-7454) 
Atau Facebook Fanspage : Ahok Biografi
Buku edisi 1 dengan judul "Tionghoa Keturunanku, Indonesia Negeriku, Membangun Bangsa Tujuanku" Harga pre order Rp100,000 (berlaku sampai 7 Januari 2016)
Ayo buruan diorder !!

1 komentar:

  1. Yuk Gabung Bersama Kami Hanya di RoyalQQ

    Minimal Deposit Hanya Rp 15.000
    Bonus TO 0.5% Dibagikan SETIAP HARI

    Yuk daftarkan sekarang juga hanya di www.royalqq.com

    JACKPOT menanti anda^^

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.