AHOK BIOGRAFI (5) : Papa-Mama Ahok dan Sekaleng Beras


Suatu hari, pertengahan tahun 1967. Rumah Tjoeng Kiem Nam di Gantong, Belitung Timur, Babel, kedatangan tamu pria dewasa. Tamu curhat: dia isteri dan dua anaknya, sudah dua hari ini belum makan, karena tak mampu beli beras.
---------------------
Sebagai gambaran, saat itu Indonesia sedang krisis ekonomi-politik sangat berat. Belum lama terjadi sanering, mata uang Rp 1.000 dipotong jadi Rp 1. Bahan pangan, terutama beras, langka di seluruh pelosok tanah air. Indonesia bangkrut. Rakyat kelaparan dimana-mana.

Tjoeng Kiem Nam (kita sebut Kim) pengusaha tambang timah, paling kaya di desanya. Anaknya baru satu, masih bayi, Ahok (kini Gubernur DKI Jakarta). Maka, pada mega-krisis ekonomi ini, banyak tetangga minta bantuan padanya. Salah satunya, tamu itu.

“Tolonglah saya, kami sekeluarga belum makan, Tuan. Kalo saya dan isteri bisa tahan. Tapi anak-anak menangis seharian,” kata tamu.

Kim langsung menyahut: “Kami punya dua kaleng beras. Bapak bawa pulang satu, ya...”
Isteri Kim, Boen Nien Tjauw (Buniarti Ningsih) yang ada disitu, kaget. Dia mendengar ucapan Kim: “Bawa pulang satu.” Itu berarti sekitar satu kaleng isi sekitar 10 kg beras. Itu berarti separo dari beras persediaan keluarga.

Ketika Kim dan isterinya masuk dalam rumah yang besar itu, Buniarti mendebat suaminya:

“Gimana sih Papa? Beras nggak ada dimana-mana. Kita nanti makan apa, Papa?”

“Kita masih punya satu kaleng, ‘kan Ma?”

“Ya... tapi kalo abis gimana? Ahok sekarang udah makan bubur, lho Pa...”

“Keluarga tamu itu kelaparan, Ma... masak kita tega?”

“Aku cuma mikirin Ahok, Pa... Kalo dia kelaparan gimana?”

“Anaknya tamu itu dua, kelaparan, sedangkan kita kecukupan. Ayo... kita bantu. Soal makanan kita, aku jamin, aku bisa cari lagi. Percayalah.”

Buniarti tak membantah lagi.

Justru kini dia memandang bangga pada suaminya. Lelaki yang begitu berani berkorban buat orang lain. Lelaki yang begitu tegas tanggung-jawabnya. Lelaki gagah, keras kepala, cerdas, pekerja keras, dan berjiwa sosial. Lelaki yang selama ini dicintainya.

Kim kini kesulitan mencari lokasi penyimpanan beras dua kaleng itu. Dicari di tempat biasa, tak ketemu.

“Lho... berasnya dimana, Ma?”

Buniarti tak langsung menjawab, tapi dia jalan menuju ke kamar. “Kusimpan di kamar. Soalnya Papa suka ngasih-ngasih ke orang.”

Kim tertawa melihat isterinya jalan masuk kamar. Dia segera berlari menyusul. Benar saja, di sudut kamarnya yang luas, didapati dua kaleng beras itu. Kim mengangkat satu, membawanya keluar.

Suami-isteri itu berjalan menuju ruang tamu. Sebelum mereka mencapai ruang tamu, Kim berhenti, berkata ke isterinya: “Ini nanti kita serahkan semua padanya. Yang menyerahkan Mama, ya...”
Buniarti dibuat kaget lagi. “Papa saja. Papa ‘kan kepala rumah tangga.”

“Nggak, Mama saja. Artinya, sumbangan ini dari Mama,” ujar Kim, sambil tetap membopong sekaleng beras.

Benar-benar... Buniarti terkagum-kagum pada Tjoeng Kiem Nam. Lelaki ini luar biasa. Spesial. Tak ada duanya di dunia. Tak terasa, air mata Buniarti berlinangan memandang sang suami.

Akhirnya, beras bersama kalengnya diserahkan ke tamu. Yang bicara, menyampaikan pemberian itu, Buniarti. Sedangkan, Kim menyaksikan di belakang isterinya.

Si tamu, langsung bergerak, hendak sujud di depan Buniarti. Namun dengan cepatnya Buniarti mencegah. Menegakkan kembali tubuh tamu. “Jangan merasa rendah. Kondisi yang membuat kita semua kesulitan begini,” kata Buniarti.

Tamu berkali-kali mengucap terima kasih. Mata pria itu berkaca-kaca memandangi suami-isteri di depannya. Memandangi orang yang murah hati. Mata tamu itu seolah berkata: “Aku tak akan melupakan kebaikanmu ini, seumur hidupku. Dan, kelak kebaikanmu akan kubalas dengan kebaikan pula.”

Tamu pulang menggendong sekaleng beras. Diiringi senyum bahagia Kim Nam dan Buniarti.
Dalam buku biografi jilid satu: “Tionghoa Keturunanku, Indonesia Negeriku, Membangun Bangsa Tujuanku”, peristiwa itu merupakan embrio. Merupakan bibit. Merupakan faktor penyebab.

Bagaimana Ahok kelak sukses berpolitik di desa kelahirannya, kemudian jadi Bupati Belitung Timur.
Itu juga yang kelak menjadi bekal karir politik Ahok, sampai sekarang.

Tiada sukses tanpa latar belakang. Tiada hasil tanpa perjuangan dan pengorbanan. Tiada keberhasilan tanpa doa dari orang tua. Seperti halnya, tidak akan ada asap, jika tidak ada api. Salam hormat... (*)
Semua cerita Ahok ini, ada dalam Biografi Ahok diatas

1 komentar:

  1. Yuk Gabung Bersama Kami Hanya di RoyalQQ

    Minimal Deposit Hanya Rp 15.000
    Bonus TO 0.5% Dibagikan SETIAP HARI

    Yuk daftarkan sekarang juga hanya di www.royalqq.com

    JACKPOT menanti anda^^

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.