AHOK BIOGRAFI (12) : Asmara Ahok-Vero (seri-4)


Teknik pedekate Ahok ke Ortu Vero, ternyata kuno. Sering ketemu. Ngobrol. Bicara jujur. Bahwa dia serius ingin menikahi Vero. Analoginya: Air menetesi batu karang. Lama-lama batu bisa bolong. Tapi apa jawab Ortu?
------------------
Tidak bisa... tidak bisa...

Tidak segampang itu Ahok merebut hati Ortu Vero. Tidak tiba-tiba Ortu berubah pikiran, dari tidak setuju jadi setuju. Tak semudah itu.

Memang, Papa Vero tidak mengatakan langsung penolakannya. Sebagai orang Indonesia yang terkenal halus budi pekerti, dia tidak pernah mengatakan: Tidak. Tapi juga tidak mengatakan: Ya.

Ekspresi kedua Ortu Vero terbaca stabil dan datar, di mata Ahok. Mereka tetap ramah dan sopan setiap menerima kedatangan Ahok ke rumah mereka. Namun, keramahan dan kesopanan sebagaimana layaknya tuan rumah.

Ahok tidak menangkap tanda-tanda bahwa Ortu memberi sinyal “welcome”. Topik pembicaraan mereka beraneka ragam. Tapi, Ortu sama sekali menghindari topik hubungan Ahok-Vero.

Ahok pasti agresif. Dia sering mengarahkan pembicaraan ke Vero. Namun, Ortu tetap tenang-tenang saja. Tak gampang terpengaruh. Mereka tetap berpendapat bahwa Vero masih kecil.

Sementara, Vero adalah gadis remaja yang patuh dan hormat pada Ortu. Meskipun hatinya (mungkin) tertarik pada Ahok, namun dia tak banyak bicara. Dia ikhlas menerima apa pun keputusan Ortu.

Sungguh... ini sikap wanita yang sangat terpuji.

Ahok kini benar-benar kelimpungan. Mau menyerah... hatinya merasa sangat berat... Dia sudah begitu terpesona pada Vero. Kecantikan Vero adalah kecantikan alami. Perpaduan kecantikan fisik dan kepribadian.

“Saya sangat kagum padanya, karena dia tidak pernah berdandan,” ujar Ahok di suatu kesempatan.

Sebaliknya, Ahok mau terus maju, kayaknya juga terseok-seok. Kepontal-pontal. Termehek-mehek.

Kendati, bagaimanapun hanya Ahok yang bisa memutuskan, apakah dia maju terus atau menyerah. Terserah dia. Tergantung kata hatinya. Disinilah dia bagai berada di persimpangan jalan.

Ternyata dia pilih: Terus maju. Pantang menyerah. Luar... biasa.....

Caranya, alamaaaak... tetap cara lama. Tetap gaya lama. Tabah dan rutin, mendekati Ortu. Sambil terus menunjukkan keseriusan menikahi Vero.

Maka, hukum alam pun berlaku. Batu karang sekeras apa pun, jika ditetesi air secara rutin terus-menerus, meski hanya setetes demi setetes, akhirnya batu karang bolong juga. Eksakta. Keniscayaan.

Ortu Vero kini menyalakan sinyal lampu hijau. Sangat mungkin, karena mereka kagum pada kegigihan Ahok. Keuletannya. Sikap pantang-menyerah-nya. Kejujurannya.

Pelan tapi pasti, Ortu akhirnya setuju....

Tapi, ada satu syarat, yang kelak kemudian terbukti sangat berat dipenuhi Ahok. Mohon beribu maaf.... Penulis harus memenggal cerita disini dulu, sebab kepanjangan. (bersambung)

Bagi yang ingin memesan Buku BIOGRAFI AHOK, silakan hubungi :
DANANG WIKANTO (0896-2766-7454) 
Atau Facebook Fanspage : Ahok Biografi
Buku edisi 1 dengan judul "Tionghoa Keturunanku, Indonesia Negeriku, Membangun Bangsa Tujuanku" Harga pre order Rp112,500 (berlaku sampai 15 Januari 2016)
Ayo buruan diorder !!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.