AHOK BIOGRAFI (11) : Asmara Ahok-Vero (seri-3)

 Ahok ini tipe lelaki tak gampang menyerah. Agresif bak buldozer. Vero sudah bilang, bahwa Papa-Mama tak setuju pada Ahok. Ee... Ahok malah maju. Dia malah menuju jantung persoalan: Mendekati Papa-Mama Vero. Seruuu... nih...
-----------------
Ahok mendekati Papa-Mama Vero untuk mencari tahu, apa penyebab mereka tak setuju?
Dari segi tongkrongan, Ahok jelas keren. Bukan anak orang sembarangan. Sudah sarjana. Kini malah sudah menggenggam S – 2 bergelar MM (Magister Manajemen). Dia sudah bekerja di perusahaan kontraktor di Jakarta. Kurang apa lagi?

Ternyata, dari pendekatan Ahok ke Ortu Vero, diketahui, bahwa Ortu tidak setuju, karena Vero masih belum genap 20 tahun. Dianggap masih terlalu kecil. Janganlah berpacaran, apalagi menikah.

Itu jawaban formal Ortu Vero. Jawaban yang terucap. Logis memang. Ahok pun sejak awal sudah merasa bahwa beda usia mereka cukup jauh. Malah Ahok sempat berkelakar, “Ntar dikira gue ngibulin anak kecil.”

Namun, di sisi lain Ahok juga menangkap gestur. Membaca gerak tubuh dan gelagat. Cara pandang dan gaya bicara Ortu Vero padanya.

Dari situ Ahok menyimpulkan, Ortu Vero cenderung meremehkan Ahok. Entah, diremehkan dari segi apanya. Tidak ada konfirmasi. Ini hanya kesimpulan Ahok sendiri.

Secara asal, Ahok menyimpulkan begini: Vero anak kota besar (asal Medan) sedangkan Ahok anak kampung (Desa Gantung). “Ibaratnya saya kuli, dia puteri,” katanya. Ini asli kalimat Ahok, seperti tertera di buku “Tionghoa Keturunanku, Indonesia Negeriku, Membangun Bangsa Tujuanku”.
Ya... sudah. Selesai-lah kalo begitu.

Selesai bukan berarti tamat. Melainkan, Ahok melakukan analisis situasi dan kondisi.
Dalam kondisi tertekan, Ahok justru kian tertantang. Dia tidak patah semangat. Kini, satu-satunya kans Ahok menikahi Vero adalah: Bagaimana reaksi Vero sendiri? Bukan ortu-nya.

Dari pengamatan Ahok disimpulkan, Vero ternyata memberi sinyal lampu hijau kepadanya. Meskipun Vero tidak mengatakan langsung, tapi Ahok bisa membaca sinyal itu. Terbaca jelas dari sikap Vero pada Ahok.

Maka, tidak ada jalan lain bagi Ahok selain terus maju.

Artinya, Ahok tidak patah semangat mengejar Vero. Kunci persoalan kini adalah Vero. Namun, Ahok juga paham bahwa pernikahan bukan hanya menyatunya dua insan di acara pemberkatan nikah di gereja. Tidak hanya itu. Tapi, juga menyatunya dua keluarga besar antar dua insan yang menikah.
Ahok pun merenung, mengatur strategi.

Bagai lirik lagu: “Gunung akan kudaki, samodera pun ‘kan kuseberangi”, Ahok mengobarkan semangat pedekate ke Ortu Vero. Kobaran semangat ini seolah dikipasi oleh bayangan wajah Vero yang selalu muncul di pelupuk mata. Mau makan, ingat Vero... Mau tidur, ingat Vero. Bangun tidur pun....

Tapi, bagaimana caranya? Bagaimana implementasi, agar Ortu Vero tidak meremehkan Ahok? Bagaimana mengubah keputusan dari tidak setuju, jadi setuju? (bersambung)


Bagi yang ingin memesan Buku BIOGRAFI AHOK, silakan hubungi :
DANANG WIKANTO (0896-2766-7454) 
Atau Facebook Fanspage : Ahok Biografi
Buku edisi 1 dengan judul "Tionghoa Keturunanku, Indonesia Negeriku, Membangun Bangsa Tujuanku" Harga pre order Rp112,500 (berlaku sampai 15 Januari 2016)
Ayo buruan diorder !!
 

1 komentar:

  1. Yuk Gabung Bersama Kami Hanya di RoyalQQ

    Minimal Deposit Hanya Rp 15.000
    Bonus TO 0.5% Dibagikan SETIAP HARI

    Yuk daftarkan sekarang juga hanya di www.royalqq.com

    JACKPOT menanti anda^^

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.