Ahok Bicara Kasar, Analisis (seri – 1)


“Anda semua orang goblok....” teriak Ahok.
Itu di panggung. Ahok kampanye sebagai Ketua DPC Partai Indonesia Baru (PIB) di Belitung Timur, di tengah ribuan orang, akhir Maret 2004. (buku “Beginilah Rahasia Politik Saya” halaman 39)
---------------------
Maka, sekitar lima ribu orang pendengarnya tercengang. Kaget luar biasa. Mereka heran, ada orator model seperti Ahok ini. Mereka saling berbisik-bisik. Mungkin, diantara mereka saling bertanya, apakah mereka tidak salah dengar? Benarkah Ahok mengatakan, mereka goblok?

Padahal, fungsi Ahok bicara disitu untuk merayu massa. Agar publik memilih PIB dalam pemilu nanti. Bukan sebagai guru SD yang sedang mendidik muridnya.

Rangkaian kejadian sebelumnya, begini:

Itu adalah masa awal Ahok masuk politik. Dia masuk politik, karena ditawari DR Sjahrir (alm) yang saat itu adalah Ketua Umum PIB. Sjahrir adalah guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, kenal Ahok saat masih kuliah di Jakarta.

PIB waktu itu partai baru. Butuh ketua di daerah-daerah. Ahok ditawari Sjahrir langsung jadi Ketua DPC PIB Belitung Timur. Ahok menerima. Maka, jelang pemilu dia harus kampanye.

Ternyata, Ahok baru tahu, bahwa kampanye itu butuh modal sangat besar. Sedangkan PIB tidak punya uang untuk membiayai kampanye di berbagai pelosok daerah. Ahok hanya diberi ala kadarnya untuk kampanye.

Ahok kaget, setelah tahu bahwa untuk mengumpulkan massa saja butuh uang besar. Ada koordinator massa, siap mengumpulkan massa dengan bayaran Rp 20 ribu (saat itu disana) per orang. Kalau punya Rp 2 juta, terkumpul 100 orang. Itu belum honor koordinator. Belum nasi bungkus untuk 100 orang. Belum sewa tempat, sewa tenda, honor anggota PIB sendiri yang menyiapkan acara.

Ahok awalnya bersikeras, tidak ada pembagian uang. Rakyat harus dididik. Jika politikus membayar massa, nantinya bakal korupsi untuk mengembalikan modal.

Ya... tidak akan ada massa berkumpul. Anggota partainya sendiri pun tidak ada yang mau membantu. Ahok frustrasi.

Dalam waktu cepat, karena masa kampanye sangat singkat, dia berubah pikiran. Dia keluar modal. Tapi, tidak langsung bagi-bagi uang ke massa. Melainkan dalam bentuk membangun jalan, lapangan bola, lapangan voli, sumur.

Dan... ini yang juga penting bagi massa: Pembagian kaos untuk ribuan orang.

Setelah Ahok membiayai itu semua, berulah terkumpul massa. Tidak sedikit. Ribuan, sebab mereka senang jalan desa diaspal. Juga gembira, berebut kaos.

Ahok pun datang ke lapangan bola yang dibangun dengan uang pribadinya. Disitulah dia kampanye. Dia datang didampingi pengurus lengkap DPC PIB, karena semua dihonor Ahok.

Kedatangan Ahok dan rombongan disambut warga beramai-ramai. Ahok dielu-elukan: “Hidup Ahok... Hidup Ahok... Hidup pemimpin sejati kita...”

Menanggapi itu, dia mengkritisi warga: “Tenang… tenang semua… Anda teriakteriak mendukung tanpa mengetahui, apa ideologi partai kami. Hanya karena mendapat bantuan, Anda teriak-teriak mendukung. Anda semua ini goblok…”

Kontan saja, warga terdiam. Suasana gegap-gempita kampanye berubah jadi sepi. Massa yang menyemut, pelan-pelan berkurang. Namun, Ahok tak peduli, tetap saja berorasi.

Isi orasinya sangat menarik. Tapi, harus saya penggal dulu, karena kepanjangan. (bersambung)

Bagi yang ingin memesan Buku BIOGRAFI AHOK, silakan hubungi :
DANANG WIKANTO (0896-2766-7454) 
Atau Facebook Fanspage : Ahok Biografi
Buku seri 2 dengan judul "Beginilah Rahasia Poltik Saya" Harga pre order Rp160.000(berlaku sampai 31 Januari 2016)
Ayo buruan diorder !!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.