NOVEL 728 HARI JADI FILM LAYAR LEBAR (9) : Laskar Pelangi Versi Kota


 Novel berpembuka latar sekolah dan difilmkan, di Indonesia ada 2. Catatan Akhir Sekolah (2004) dan Laskar Pelangi (2007). Tapi novel latar sekolah yang langsung ke soal ujian, hanya 728 Hari. Persis kata Dahlan Iskan saat meluncurkan novel ini
-------------------
Banyak orang merasa, sewaktu mereka sekolah terasa membosankan. Jenuh. Ingin cepat-cepat berakhir. Karena yang dihadapi hanya itu-itu saja. Tugas-tugas. PR. Dan, guru-guru yang tidak inovatif selama mengajar.

Tapi, setelah orang lulus dan meninggalkan sekolah, muncul kerinduan masa-masa sekolah. Ini ditangkap novelis dan sineas sebagai ide cerita.

Pada 1970-an ada novel Kampus Biru karya Ashadi Siregar yang kemudian difilmkan dengan judul sama. Novel dan film sama-sama sukses.

Di tingkat internasional, ada beberapa film adaptasi novel berlatar sekolah yang sukses di pasaran. Sesuai kronologi waktu, antara lain:

The Breakfast Club (Sutradara John Hughes, 1985). Dibintangi Emilio Estevez dan Molly Ringwald (ngetop di dekade itu). Setting film, lima siswa dengan sifat dan karakter berbeda, menjalani hukuman di sebuah kelas. Saling benci dan tak saling mengenal, mereka akhirnya terbuka satu sama lain.

Dead Poets Society (Sutradara Peter Weir, 1989). Guru bahasa Inggris (diperankan Robin Williams) suka membacakan puisi. Para siswa terpikat puisi-puisi Pak Guru. Imajinasi mereka mengajak penonton kemana-mana. Sampai mereka berkumpul membaca puisi di gelap malam di tengah hutan. Mereka menyebut diri kelompok Dead Poets Society.

Dangerous Minds (Sutradara John N. Smith, 1995). Guru Louanne Johnson (Michelle Pfeiffer) mantan Marinir, mengajar di sekolah di wilayah miskin dan rawan kejahatan. Semua siswanya sangat bandel, tak peduli sekolah, akibat kehidupan keluarga yang miskin. Guru berhasil menarik perhatian siswa dengan aneka ide.

The Emperor's Club (Sutradara Michael Hoffman, 2002). Guru sejarah William Hundert (Kevin Kline) juri lomba tahunan uji pengetahuan sejarah Romawi. Siswa pemenang mendapat gelar Julius Caecar. Siswa baru yang sombong, Sedgewick Bell (Emile Hirsch) menang. Hundert bangga pada Bell, namun kemudian berbalik setelah tahu Bell curang. Seperempat abda kemudian Bell mengadakan reuni sekolah dan menggelar lomba Julius Caecar.

Catatan Akhir Sekolah (Sutradara Hanung Bramantyo, 2005). Laskar Pelangi (Sutradara Riri Riza, 2008).

The Philosophers (Sutradara John Huddles, 2013). Film bagus mengajak murid berandai-andai, jika dunia diguncang bencana nuklir. Siapa yang layak hidup dan tidak? Film tentang etika, moral, dan logika.

Tapi, 728 Hari bukan cerita tentang sekolahan. Dia lebih banyak mengambil setting rumah sakit. Setting sekolah hanya di 25 persen awal. Fokusnya pada spirit hidup dan cinta-kasih. Baik cinta asmara maupun cinta orang tua dan anak.

Sebagaimana karya seni, novel ini banyak memendam kritik sosial terselubung. Topik kritik diambil dari kejadian sehari-hari masyarakat. Banyak Pembaca lolos perhatian pada kritik-kritik itu, karena terfokus pada inti cerita.

Tipikal Pembaca Indonesia sukanya langsung “jreng”. Langsung pada inti persoalan. Ini bagus. Tapi, sekaligus juga ingin ada hiasan kata-kata berbunga-bunga yang mereka katakan sebagai ‘khas novel’. Pembaca kita kurang suka pada filosofi yang terkandung dalam cerita. Pembaca juga belum terbiasa dengan gaya novel jurnalistik 728 Hari.

Filosofi lebih mudah ditangkap masyarakat kita (bukan hanya Pembaca) dalam bentuk movie. Sebab, mayoritas masyarakat kita bukan Pembaca.

Di novel 728 Hari, angle (sudut lokasi) murid jajan di pagar halaman sekolah punya muatan kritik sosial. Disitu jelas illegal, transaksi melalui celah pagar besi. Kualitas makanan dan pedagang tak terkontrol. Makanan dengan kandungan bahan berbahaya, ada disitu. Security sekolah pasti tahu itu, dan diam saja.

Bagaimana menjelaskan hal tersebut di novel? Pasti sulit. Jika dipaksakan Pembaca kabur meninggalkan bacaan. Jika dijelaskan, juga terkesan menggurui. Sebaliknya, bila tak dijelaskan, filosofi kritik tak tertangkap Pembaca.

Solusi dalam bentuk movie lebih gampang dicerna masyarakat kita. Caranya menggunakan blocking (penempatan obyek yang selaras dengan kebutuhan gambar).

Misal: ketika angle anak-anak berkerumun pesan jajan, mereka menempel di pagar besi, back ground jauh di belakang adalah pos security. Bisa pos itu kosong tanpa penjaga (kritik bentuk halus). Atau pos dihuni petugas sedang main game hape (kritik kasar).

Juga, pengambilan gambar makanan yang mencolok dengan zat pewarna berbahaya. Misalnya, saos merah menyala untuk bakso. Atau agar-agar hijau terang moncer untuk es campur.

Film lebih gampang masuk dalam frame analitik otak manusia. Dengan menonton film, langsung terbentuk asosiasi sekaligus analisisnya.

Bacaan memang paling dahsyat mengeksplorasi imajinasi. Imajinasi bisa liar kemana-mana. Tapi, ini bagi mereka yang terbiasa membaca. Sedangkan, minat baca masyarakat kita sangat rendah.

Khusus untuk angle “jajan di pagar”, mirip film Laskar Pelangi. Sama-sama setting sekolah, dan SD. Cuma, ini versi kota.

Begitulah pemikiran Penulis. Siapa tahu ada usulan dari Pembaca. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.