NOVEL 728 HARI JADI FILM LAYAR LEBAR (8) : Awas.. Adegan Ini Bermuatan Kritik


Setting tempat, pembuka film 728 Hari: Dalam kelas sekolah SD. Ibu guru membahas soal ulangan yang sudah berlalu. Eva Meliana protes. Sampai dua kali. Tapi itu tak membuat guru mencatat protes, apalagi mempertimbangkannya.
--------------
Hanya satu-dua menit di dalam kelas, setting pindah bertahap (running) ke halaman depan sekolah. Persisnya di pagar besi halaman. Tempat semua siswa berkerumun disitu. Mereka jajan.

Eva bersama teman-2 juga ikut beli makanan disitu. Antara pembeli-penjual terbatasi pagar besi. Transaksi lewat celah pagar.

Anak-anak berteriak-teriak ingin cepat dilayani, pedagang kaki lima sibuk luar biasa. Proses jual-beli harus cepat. Karena jumlah pembeli jauh lebih banyak banding pedagang. Jika tidak cepat, keburu bel masuk berbunyi. Makanan tak bisa dibungkus.

Durasi pengambilan gambar di pagar, sedikit lebih lama banding di dalam kelas. Disini sekitar tiga-empat menit. Sampai dengan bel berbunyi. Dan, Eva jatuh pingsan saat lari menuju ke kelas.

Novel kisah nyata 728 Hari dikehendaki Penulis: Sarat kritik sosial. Dari halaman awal sampai akhir.

Kritik kepada institusi dan perorangan. Kritik yang membangun institusi dan masyarakat, agar kita merenung. Agar kita menganalisis. Demi kemajuan bersama.

Dari pembukaan novel, yang dalam film berdurasi sekitar empat-lima menit, kritik ditujukan pada institusi pendidikan kita.

Kritik nomor pertama, materi ulangan berbentuk pilihan berganda (multiple choice). Sudah kita gunakan sejak empat dekade lalu sampai sekarang. Bentuk ini bersifat harga mati. Jawaban siswa yang salah, langsung tamat. Tidak ada alasan.

Jika akurasi soal dan jawaban tidak benar-benar akurat, seperti di novel 728 Hari, akibatnya fatal. Eva protes. Guru terjepit. Bukan guru merasa kalah dengan murid, melainkan tak berdaya akibat kondisi sistem pendidikan.

Di satu sisi, fungsi guru, antara lain, membangkitkan sikap kritis siswa. Dan, kebetulan kritik Eva tepat, karena jawaban soal tidak akurat-presisi-pasti-mutlak. Mestinya, kritik Eva didukung guru. Agar semua siswa berani berpendapat. Berani berinovasi.

Di sisi lain, andai guru mendukung kritik Eva, maka sistem nilai bakal kacau. Jika sistem nilai kacau, maka kredibilitas pendidikan kita diragukan. Akibatnya, rusak-lah segalanya.

Mengapa multiple choice dipertahankan di Indonesia? Karena inilah paling gampang buat pendidik. Gak pusing-2 ngoreksi jawaban dari pertanyaan terbuka (open questioner). Mereka menggunakan pertanyaan tertutup (close questioner). Ngoreksinya tinggal contreng.

Itu sebab, Ibu Guru Sri Pujiastuti, salah satu lulusan terbaik IKIP Negeri Yogyakarta, tak berdaya. Bukan saja karena dibuat oleh Penulisnya begitu, melainkan dialah busur panah kritik sosial. Sedangkan anak panah adalah Eva. Sasaran panah: Sistem pendidikan.

Novel yang bagus, bukan hanya menghibur, atau membuat nangis pembaca. Lalu selesai. Tidak hanya begitu. Namun menghibur, menginspirasi, jadi magnet, juga sekaligus menyuntik pola pikir pembaca. Sebagai bahan perenungan. Sebagai bahan diskusi.

Tapi, pemikiran ini tidak mungkin termuat dalam novel. Dalam bahasa tulis. Baik narasi maupun dialog. Kalau dipaksakan dimuat, Pembaca langsung kabur meninggalkan novel. Karena mereka menganggap ini bukan novel, melainkan kritik yg biasa dimuat koran dan majalah. Kebetulan Penulisnya jurnalis.

Untung, gaya bahasa 728 Hari renyah, gurih, bersahabat. Sehingga Pembaca tidak merasa dijejali ‘sesuatu yg positif’. Sesuatu yg sebenarnya berat. Sesuatu yg mestinya jadi topik seminar membosankan.

Nah, keinginan Penulis inilah yg harus bisa diakomodir dalam filmnya kelak. Sehingga Penonton tidak hanya bisa menangis, lalu pulang meninggalkan gedung bioskop. Melainkan juga sekaligus merenungi suatu pemikiran.

Tapi, itu harus terselip dalam adegan berdurasi satu-dua menit. Masuk dalam bahasa sinematografi. Dan, penonton tidak merasa digurui oleh kritik sosial di dalamnya.

Penonton harus merasa terhibur, tertarik magnet cerita, menangis (jika adegan sedih), tertawa (jika lucu), terinspirasi, sekaligus tersuntik pemikiran kritis. Hadeeeew... betapa pusing sineas pembuat filmnya, jika mereka memang berkeinginan membangun pola pikir bangsanya.

Bagaimana kira-kira bentuk gambar, adegan per adegan, yg bisa mengakomodir semua hal di atas? Coba kita diskusikan disini (komen). Sementara, saya menyiapkan tulisan kritik nomor dua: Jajan di pagar halaman. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.