AHOK BIOGRAFI (4) : Ahok (Belum) Dicakar Harimau


“Kalo berburu harimau, ajaklah sodara,” petuah Kim Nam, ayahanda Ahok, 1980. Saat itu, Ahok kecil belum mengerti artinya. Konon, itu filosofi Jenderal Sun Tzu (panglima perang China, hidup di abad ke-6 SM).
-------------------
Ternyata itu kalimat filosofis-logis. Jika benar ucapan Sun Tzu, maka pepatah kuno ini selain logis, juga universal. Pun, tak lekang dimakan zaman.

Kim Nam menjelaskan begini: Suatu hari kelak jika kau sudah dewasa, Ahok... maka saudaramu menjadi penting. Nah, ketika kalian masih kecil-kecil, janganlah berantem. Saat kau dewasa nanti, dan menghadapi pekerjaan berisiko tinggi, maka mitramu paling loyal adalah saudaramu sendiri.

Pekerjaan berisiko tinggi diibaratkan harimau. Dan, berjuang dalam pekerjaan diumpamakan berburu.
Jika kau mengajak saudaramu berburu harimau, maka kalian akan bersama-sama menganalisis risiko, secara jernih dan jujur. Andai hasil analisis, hampir pasti menang (sukses) maka kalian akan maju bersama-sama menghalau risiko.

Sebaliknya, andai hasil analisis, hampir pasti kalah, kalian akan kabur bersama-sama pula. Tidak ada satu pun yang ditinggal.

Bila kau berburu harimau mengajak orang lain, bukan saudara, bakal terjadi sebaliknya. Kalo sukses berebut maju, kalo gagal berebut kabur. “Kamu atau temanmu bakal digerogoti macan...”

Sungguh, filosofi yang logis. Kuno tapi masih berlaku kini. Malah ditulis DWO di Ahok Biografi.
Analogi ini tidak berlaku, hanya pada regu militer di medan perang. Menang, jaya bersama. Mati, berkalang tanah.

Ternyata, Ahok maju ke panggung politik sendirian. Tak mengajak saudaranya. Dia abaikan filosofi Sun Tzu. Dan, aman-aman saja. Paling tidak, sampai kini dia belum digerogoti harimau... (*)

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.