Tsunami Jepang vs Aceh


Anakku bertanya: Mengapa liputan TV tsunami Jepang nggak ada tangisan ya pah? Mengapa di tsunami Aceh sedih banget. Jawabku begini: Karakter orang Jepang adalah Semangat Bushido (pendekar samurai). Junjung tinggi semangat pantang menyerah, etika, kehormatan, setia, berani dan tidak mau dikasihani.


Saya baru baca novel Tokaido Inn, karya suami-isteri Thomas dan Dorothy Hoobler, bangsa Amrik ahli sejarah Jepang. Tokoh novel, remaja pria Seikei, anak saudagar berjuang agar diakui publik sebagai samurai (itu berarti peningkatan kasta).

Akhirnya sukses. Menurut Thomas-Dorothy, itulah tipologi masyarakat Jepang.

Liputan TV-2 Jepang soal tsunami, nyaris tidak menampilkan penderitaan, tangis haru-biru, sedih. Yg ada: heli, gambar gelombang terjang kota, mobil-kapal hanyut. Sebab mereka pegang etika, hormat pada korban, dan berani hidup pasca kesulitan.

Selain itu, saat penayangan di beritapun lagu-lagu yang disetel adalah lagu yang membangkitkan semangat untuk bangun dari keterpurukan. Sangat berbeda dengan di negara kita. Setiap tayangan selalu diiringi lagu melankolis. Cenderung mengekspos tangis. 

Sosiolog Clifford Geertz dlm bukunya: Priyayi, Santri dan Abangan, simpulkan Kita demikian: Masyarakat yang guyub, tolong-menolong, menyukai seni, suka berkumpul-ngobrol-curhat, kegiatan apa pun dibentuk panitia (mulai tangani korupsi sampai hajatan nikah). Liputan TV-2 di tsunami Aceh, masyarakat menderita (versi tolong-menolong), tetangisan (curhat), butuh bantuan (banyak panitia).

Beda masyarakat, beda kultur. Keduanya (Kita-Jepang) memiliki sisi positif-negatif. Jepang pekerja keras, sembunyikan duka, tapi atress akibat tuntutan hidup terlalu berat. Kita pekerja lamban, ekspos duka, tapi suka seni, hidup seadanya asal tenteram.

Semoga ada yang bisa ambil manfaatnya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.