RESENSI NOVEL 728 HARI Oleh Dewi Noviyanti


A. Judul resensi : “Kupas Tuntas Rahasia 728 Hari”

B. Identitas buku
1. Judul buku : 728 hari
2. Pengarang : Djono W. Oesman
3. Penerbit : BEST MEDIA PT MELVANA MEDIA INDONESIA
4. Tahun terbit : 2015
5. Tebal buku : 336 halaman
6. Jenis cover : Hard cover
7. Harga : Rp 75.000.00,-
8. Jenis huruf : Times New Roman
C. Isi resensi
Eva Meliana Santi adalah seorang gadis cantik, pandai, kuat, dan pemberani. Ia merupakan anak sulung dari Sugiarti dan Badarudin. Eva dilahirkan di dusun Duduhan, Jawa Tengah 5 september. Dia adalah wanita biasa yang berhasil menyelesaikan studinya di akademi sekretaris di Jakarta. Ia juga merupakan sosok yang aktif dalam keanggotaan Dahlanis dan YLI.

1982, Eva menyelesaikan pendidikannya di TK dan melanjutkannya ke SDN Pondok Bambu Jakarta Timur. Keriuhan anak SD dimulai saat jam istirahat tiba. Mereka menghabiskan waktu istirahatnya sampai bel kembali berdering. Usai jam istirahat anak-anak masuk ke ruang kelas, mendadak Eva kehilangan keseimbangan dan pingsan di halaman.

Sugiarti membawa Eva ke dr Anton Suprajogi. Hasil Diagnosanya Eva radang tenggorokan. Tiga hari kemudian Eva kembali ke dr Anton. Dokter menyatakan, Eva harus periksa darah. Hasilnya tipus, penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan kuman salmonella thypi.

Sebulan setengah kemudian Eva kembali jatuh pingsan di lapangan saat mengikuti upacara. Eva kembali diperiksa dr Anton. Hasil pemeriksaan kali ini berbeda. Trombosit dibawah normal, terjadi pengentalan darah akibat perembesan plasma, Demam Berdarah Dengue. Karena hasil pemeriksaan Eva berbeda-beda, Sugiarti hilang kepercayaan kepada dr Anton dan memilih untuk berganti dokter. Pilihannya jatuh kepada dr Yudha.

Tamat SD. Eva melanjutkan ke SMPN 51 Pondok Bambu, Jakarta Timur. Ia terpilih menjadi anggota paskibraka. Disinilah Eva mulai merasakan sakit dan lebih sering bertemu dengan dr Yudha. Sebelum memeriksa fisik, dokter melihat data rekam medis Eva. Setelah pemeriksaan darah, hasilnya tipus lagi. Dokter mengatakan jika tiga hari belum sembuh, maka Eva harus melakukan pemeriksaan kembali.

Eva dibawa Sugiarti ke dr Yudha lagi. Dokter hanya menggelengkan kepala pertanda ada yang serius. Eva harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit Islam. Pagi, untuk kali pertama Eva diperiksa dokter di rumah sakit. Dokter menyoroti mata, mulut, dan telinga Eva. Dokter tertarik pada rona kemerahan pipi Eva. Hari berikutnya terjadi hal yang sama, Eva kembali diperiksa. Dokter terkejut melihat sekitar lima puluh helai rambut Eva di bantal.

Usai pemeriksaan, dokter memanggil Sugiarti untuk melakukan interview riwayat penyakit keluarga. Selesai wawancara, dokter mengatakan Eva terkena lupus atau kelainan pada zat imunitas yang dapat merusak organ tubuh manusia. Beberapa indikator diagnosa lupus antara lain, ruam merah pada pipi, demam muncul-hilang, radang tenggorokan terus menerus, trombosit turun disangka demam berdarah atau tipus, dan rambut rontok. Kalimat itulah yang membuat Sugiarti terkejut.

Sugiarti tidak tahu harus mengatakan apa kepada Eva. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Eva mengetahui penyakitnya. Tak diduga, Eva malah menanyakan sendiri kepada dokter apa sebenarnya penyakit yang membuat ia harus berbaring di ranjang rumah sakit. Dokter menjelaskan secara rinci tentang penyakit Eva, dan reaksi Eva adalah tetap semangat menjalani hidup dan akan melakukan yang terbaik pada sisa hidupnya kurang lebih 728 hari lagi.

Keadaan berangsur membaik, Eva diizinkan pulang. Aktivitas Eva kembali normal, namun tidak dianjurkan untuk terkena sinar matahari. Karena dapat menimbulkan dampak buruk bagi penyandang lupus. 28 Juli, saat mengikuti latihan paskibraka Eva kembali pingsan. Ruam merah di pipi muncul disertai demam dan langsung dibawa ke RSI. 1 Agustus 1989, ia mencatat usianya tinggal 369 hari lagi. Mei 1990, ebtanas SMP tinggal beberapa hari lagi. Menurut catatan Eva, kini usianya tinggal 86 hari lagi. Hidup akan berakhir di kelas satu SMA. Eva mulai mengabaikan disiplin minum obat karena bosan harus menelan 15 butir obat perhari.

2 Juni 1990, Eva demam tinggi disertai kejang langsung dirujuk ke RSCM. Kondisi Eva lebih buruk dari sebelumnya. Tiga hari kemudian diketahui penyakitnya AIHA, colekan pertama lupus pada organ tubuh. Eritrosit Eva harus diperiksa, sebab diduga dirusak zat imunitas (AIHA). Cara penyembuhan cukup mengerikan. Tulang dibor untuk mengambil sampel sel.

Jenjang Sekolah Menengah Atas dimulai di SMAN 71 Jakarta. Ketika itu hari pertama MOS menyuguhkan insiden kecil. Eva yang sedang berdiri dengan payung merahnya mendengar sontakan dari seniornya yang bernama Nanan agar ikut berbaris di lapangan. Hal itu sangat bertentangan dengan perintah dokter untuk menjauhi sinar matahari. Disinilah Eva mulai menandakan kebencian dengan senior yang menurutnya sangat menyebalkan.

Hari berikutnya, tak disangka Eva mendapat surat kecil dari seorang anak dokter, Ryan. Ryan diam-diam mengagumi keberanian Eva karena ia sangat pede menggunakan payung di lingkungan sekolah dan berhasil mendapat julukan “Gadis berpayung merah”. Disinilah benih cinta muncul dalam hati keduanya, terbukti pada beberapa hari berikutnya dengan keberanian Ryan menyatakan cinta kepada Eva ketika mereka menonton film bioskop.

1 Juli 1990. Eva masih melakukan ritual hitung mundur dan terhitung hidupnya tersisa 5 hari lagi. Disisa hidup Eva, banyak hal yang membuatnya sedih. Salah satunya, hubungan asmaranya dengan Ryan semakin membara. Ketika itu Ryan mengajak Eva untuk makan siang di rumahnya. Otomatis secara tidak langsung Eva akan bertemu dengan orangtua Ryan.

3 Agustus 1990, catatan harian Eva berjudul 2 hari. Eva masih sekolah seperti biasa. Eva meminta maaf dan menyalami teman-temanya. Ia mengatakan akan pergi ke tempat yang indah. Minggu, 5 Agustus 1990 hari terakhir Eva untuk bernafas dan waktu akan habis beberapa jam lagi. Eva pasrah apa yang akan terjadi padanya. Tapi Tuhan berkehendak lain, keeseokan harinya Eva sangat bersyukur karena masih dapat menghirup udara segar dan catatan berikutnya berjudul BONUS UMUR. 5 September 1990. Tepat hari ulang tahun Eva ke-14. Keluarga sudah menyiapkan pesta ulang tahunnya. Sugiarti menggelar acara syukuran bersama ibu-ibu PKK, teman-teman SMP Eva, dan juga Ryan.

11 Oktober 1990, Eva tiba-tiba pingsan saat mengikuti pelajaran, Eva dibawa ke UKS. Tak disangka kembali, Nanan yang mengangkat Eva ke UKS. Ambulance tiba, Eva dibawa ke RSCM. Di UGD dokter memastikan Eva harus rawat inap. Hari itu, teman-teman Eva menjenguk Eva tak ketinggalan Ryan. Namun, pembesuk paling aktif Nanan. Ia sering membelikan obat di apotik RSCM atau mengambilkan hasil cek laboratorium.

Muncul masalah baru, Eva merasa khawatir kehilangan Ryan karena akhirnya Ryan mengetahui kekasihnya penyandang lupus. Malam hari, Ryan dan keluarga makan malam. Ryan menceritakan tentang penyakit Eva. Namun, orangtua Ryan berfikir hubungan Eva dan Ryan harus stop karena lupus adalah penyakit yang belum diketahui obatnya. Sepulang dari RS, Eva mulai masuk sekolah. Kini ia merasa Ryan mulai menjauh darinya.

Januari 1992. Eva kembali dirawat. Nanan bergegas untuk ke RSCM. Maret 1992, dua bulan lebih Eva dirawat dengan biaya pengobatan sudah habis belasan juta rupiah. Belum lagi kebutuhan darah Eva yang sulit didapatkan, karena setiap hari menghabiskan sekantong darah dosis 250 cc.

Wajah Eva tembem, bengkak bundar atau moonface, karena kelebihan dosis obat. Keesokan harinya, dokter memanggil Sugiarti dan mengatakan kondisi limpa Eva membengkak dan terus membesar. Menyebabkan perut membuncit dan rasa sakit. Sebaikya dilakukan splenektomi atau operasi pembuangan limpa. Jika limpa terlalu besar, menyebabkan penghancuran sel darah merah berlebihan, dan juga merusak trombosit.

Sugiarti menangis dan menawarkan kepada dokter agar mengganti limpa Eva dengan limpanya, tetapi dokter menjawab dalam dunia kedokteran belum ada transplantasi limpa. Dengan jalan lain untuk mengatasi pembesaran limpa dengan minum obat-obatan walaupun dengan biaya yang semakin mahal. Berangsur kesehatan Eva membaik.

92 hari dirawat, Eva dibolehkan untuk meninggalkan rumah sakit dengan organ yang masih lengkap. Namun, moonface masih ada. Eva  tidak naik kelas 3, sebab ia tidak ikut ujian. Teman-teman memandang Eva bagaikan monster. Setiap jam istirahat ia hanya di dalam kelas. Bahkan, Ryan tak mengenalinya.

Eva merevisi cita-citanya yang semula astronot menjadi sekretaris. Tetapi, syarat sekretaris harus cantik, maka Eva harus rajin minum obat. Juli 1995, Eva masuk sekolah tinggi kejuruan program diploma 3 jurusan sekretaris. Eva pantang menyerah, dalam kondisi seperti ini ia tetap mengejar cita-citanya. Sudah 2 semester ia jalani dengan IPK 2,76. 1995-1996 empat kali Eva dirawat di RSCM. harus tranfusi darah untuk menggantikan sel darah merah yang terlalu cepat rusak dan terdeteksi adanya pasir di empedu, karena penumpukan Kristal kolestrol dan bilirubin di empedu.

3 Desember 1996, Eva tumbang di rumah dan menolak untuk dirawat. Badarudin memanggil dokter RSCM untuk visit setiap hari. 2 Juli 1997 Eva kembali ke RSCM. Sesak napas hebat, demam, muntah berkepanjangan, dan badan menguning, terutama mata. Sepekan dirawat, pemeriksaan diketahui adanya sebuah batu berdiameter 13 milimeter di dalam kantung empedu dan juga terjadi peradangan di kantung empedu. Jika dibiarkan radang kantung empedu akan bernanah dan pecah. Isinya bisa menyebar. Salah satu jalan dengan operasi membuang kantong empedu.

Tidak ada jalan lain, Sugiati harus menyampaikan hal ini kepada Eva. Mereka memilih dengan jalan obat-obatan. Hasilya Eva kembali segar. Eva langsung kuliah lagi. 20 November 1997, Eva tumbang di kampus. Ia langsung dibawa ke RSCM. Hasil pemeriksaan harus dilakukan operasi pengangkatan kantung empedu sekitar 3 jam. Eva menyetujui operasi tersebut. 26 Desember pukul 09.00, operasi dilaksanakan.

Sugiarti bertemu Nanan di kantin. Nanan yang saat itu sedang mengambil surat kematian adik sepupunya. Nanan sudah lulus Diploma 3 teknik mesin dan sudah bekerja. Sugiarti menceritakan keadaan Eva. Nanan  ingin segera melihat keadaan Eva di ICU. Sejak itu, perkembangan Eva cepat membaik, karena Nanan setiap hari menjenguk Eva. Eva malu jika Nanan datang. Ia mulai berdandan dan menggunakan kolonyet.

Hubungan Eva dan Nanan semakin dekat.
Pasca operasi Eva malas kontrol akibatnya terjadi infeksi pada luka bekas jahitan. Nanan membantu membersihkan luka Eva. Nanan berniat untuk melamar Eva setelah Eva lulus. Perdebatan dimulai saat orangtua Nanan menanyakan soal rencannya akan menikahi Eva.

7 Agustus 2004, keluarga Abdullah mendatangi keluarga Badarudin, dengan maksud untuk melamar Eva. 3 september 2004, akad nikah dilaksanakan dengan maskawin Rp 271.990 mengingat pertemuan mereka waktu MOS, 2 Juli 1990. Tepat dua pekan setelah menikah, Eva jatuh pingsan di rumah. Langsung dilarikan ke RSCM. kulit dan mata Eva menguning, urine keruh. Tanda icterus bersumber dari pankreas atau liver.

Nanan masuk ke ruang perawatan, bau kolonyet menyebar keseluruh ruangan. Mereka tersenyum. Keesokan harinya, Sugiarti dipanggil dokter ada masalah kadar bilirubin terlalu tinggi. untuk memperbaiki dianjurkan dipasang selang permanen di sekitar pankreas. Eva dirawat hampir sebulan. Sekembali kerumah keluarga mengelar acara syukuran.

Tiga tahun pernikahan, mereka saling tahu karakter masing-masing. Nanan kurang sabar, Eva egois. Tahun 2006, Eva masuk RSCM sebulan. Lupus merusak organ penting yaitu ginjal dan liver. Gagal ginjal, Eva harus cuci darah. Harga per kantong seperempat  gaji Nanan.

Maret 2008, Eva hamil tercatat usia kandungan sudah dua puluh pekan. Keluarga sangat bahagia. Namun, bedasarkan uji laboratorium, kadar ferritin Eva melebihi 61 kali batas normal. Akibatnya, resiko kematian tinggi dan punya anak lupus. Nanan merahasiakan hal ini dari orang tuanya. 14 agustus 2008, Eva keguguran. Usia kandungan  22 pekan. Nanan selalu menghibur Eva.

14 juli 2009, kaki kanan Eva bengkak. Tapi ia tidak patah semangat untuk bekerja. Ia ingin mengumpulkan uang untuk membangun rumah. 20 oktober, Eva pingsan saat hendak bekerja. Ia langsung dibawa ke RSCM. Lima hari opname, terjadi kebocoran ginjal. Solusinya, harus kemoterapi selama tujuh bulan. Nanan panik soal biaya. Ia memutuskan untuk homecare.

 Awal Juni Eva dinyatakan sembuh. Juli 2010, Eva kebanjiran job MC. Akhir tahun 2010, ia mengajak suami liburan ke Bali. Di pantai Tanjung Benoa, Eva tertarik semacam parasailing. 11 Agustus 2011, Eva merasakan sakit perut bagian kiri atas sampai tembus ke punggung. Limpa Eva membesar. Kondisi ini membahayakan pasien. Solusinya, operasi pembuangan limpa.

Sepanjang tahun 2012 dan 2013 Eva tanpa kambuh, Job banyak. November 2013 mereka mulai membangun rumah. Di bulan yang sama lupus mulai menyerang pengelihatan Eva. 15 Maret 2014, rumah Eva selesai dibangun. Namun belum sempurna. Eva meminta Nanan untuk meminjam uang ke kantor untuk penyelesaian pembangunan. Rencananya mereka akan menempati rumah awal bulan April.

Senin pagi, 31 Maret 2014. Eva berangkat ke kantor Dahlanis menyiapkan acara peluncuran buku The Next One. Pengelihatan Eva bermasalah. Tengah acara berlangsung, Eva merasakan sakit perut. Pukul 22.00 Eva pulang. Di perjalanan ia menelpon Sugiarti untuk menyiapkan obat.

Pukul 00.00 Eva tiba di rumah dengan jalan sempoyongan. Di kamar, Sugiarti mengamati wajah Eva sangat pucat. Ia langsung memberikan obat. Eva meminta maaf kepada Sugiarti karena,sejak kecil selalu merepotkan. Eva meminta Sugiarti untuk kembali ke kamarnya. Terpaksa Sugiarti keluar.
Pukul 00.33, terdengar suara Eva. Sugiarti langsung lari ke kamar Eva. Ia menangis dan mengucapkan “Innalillahi wa innailaihi rojiuuun”. Badarudin menangis bahwa anak sulungnya sudah tiada. Beberapa menit kemudian, Nanan datang. Beberapa tetangga pria memeluknya dan memberitahu, bahwa istrinya baru saja meninggal.

Nanan berlari. menangis, memeluk tubuh istrinya. Ia membisikan rumah yang baru saja selesai dibangun. Nanan ditenangkan para tetangga. Ia menanyakan kepada Sugiarti, apakah ia memakai kolonyet. Sugiarti menjawab ia tidak memakai kolonyet. Ini pertanda bahwa Eva sedang berpamitan kepada Nanan.
Pukul 01.00, jenazah Eva dimandikan. Dahlanis berdatangan beserta Odapus. Menjelang jenazah dibawa ke masjid, Menteri BUMN Dahlan Iskan datang. Ia memimpin salat jenazah. Usai salat, ia mengatakan Eva adalah pejuang kehidupan yang gigih dan tidak pernah mengeluh. Bahkan tiga jam sebelum meninggal, Eva masih bersamanya. Belum pukul 12.00 jenazah dimakamkan. Persis waktu saat Eva terbang parasailing.


b. Membandingkan Novel 728 Hari dengan Novel Lain.
Dari perbandingan antara Novel 728 Hari dengan Novel kisah nyata lainnya yaitu terdapat dalam teknik penulisan dan gaya bahasa. Novel 728 hari ini menggunakan teknik penulisan yang runtut dan padu. Gaya bahasanya tidak baku sehingga mudah dipahami. Alurnya jelas. Dan terdapat pesan moral yang belum tentu terdapat di novel lain. Pesan moral ini tergambar pada keikhlasan seorang ibu dalam merawat anak penyandang lupus. Kisah cinta yang tulus tanpa memandang kelemahan pasangan. Penggambaran kekuasaan Allah yang begitu dahsyat kepada hambanya.

c. Keunggulan Novel 728 Hari
Keunggulan Novel 728 Hari ini adalah dilihat dari kehidupan seorang gadis cantik bernama Eva Meliana Santi yang mengidap lupus. Ia tetap bersemangat, dan tidak putus asa untuk mempertahankan hidup dan mengejar cita-citanya. Ini yang membuat pembaca terinspirasi pada kegigihan Eva. Selain itu adanya riset langsung dari Kedokteran yang dapat menambah pengetahuan banyak pihak, hal lain dari Novel ini adalah penggunaan gaya bahasa yang modern, artinya tata bahasa ini lebih mudah dipahami oleh pembaca, karena bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

d. Kelemahan Novel 728 Hari
Dalam Novel ini terdapat kata-kata asing yang pembaca tidak terlalu memahami, terdapat alur maju-mundur yang membuat pembaca sedikit bingung dengan jalan ceritanya. Kepergian Ryan yang menjauhi Eva tidak digambarkan secara jelas. Penyajian ending cerita kurang mendukung dan kurang memberikan kesan yang mendalam kepada pembaca, dan juga terdapat kesalahan ketik pada halaman 310, yaitu “perhatian”.




BIODATA


Nama : Dewi Noviyanti
TTL : Bogor, 23 November 1996
Alamat : Jalan Raya Tajur Rt 04/01 No. 101 Kecamatan Citeureup Kabupaten Bogor 16810
Pendidikan : Fakultas Ekonomi dan Bisnis jurusan S1 Manajemen Universitas    Pancasila, Jakarta


Penilaian Resensi :
Skala Penilaian (1-10)
1. Pemahaman Tentang Novel : 8
Dewi Noviyanti memahami isi novel 728 Hari. Terlihat dari resensi yang dibuatnya. Hal ini penting sebelum membuat resensi sebuah buku atau novel.

2. Wawasan Bacaan : 5
Ada kekurangan dari wawasan bacaan. Penulis resensi tidak mencantumkan apa kompetitornya saat memberikan perbandingan dengan novel lain.

3. Gaya Penulisan Resensi : 8
Teknik penulisan sudah baik. Gaya penulisannya juga terstruktur dengan baik. Kekurangannya adalah sinopsis terlalu panjang. Paragraf pembuka kurang menarik minat pembaca.

4. Keaslian & Penilaian : 7
Penulis resensi ini murni membuat resensi sendiri. Tidak mencontoh resensi atau sinopsis yang sudah ada. Penilaiannya terhadap 728 Hari juga tergolong objektif.

5. Unsur Resensi : 5
Isi resensi ini kurang lengkap, karena terlalu fokus pada sinopsis.

TOTAL POIN : 33

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.