Pak Dahlan Iskan Sering Lupa Bawa Uang


Pak Dahlan orangnya nyentrik. Saat dia Pemimpin Redaksi Jawa Pos (JP) sering bepergian dan lupa membawa uang. Jika kebetulan ada masalah, dan ketemu anak buahnya, maka dia langsung minta uang. Unik ‘kan?
--------------------

Suatu hari di tahun ‘92 saya (wartawan JP) menghadiri konferensi pers di Hotel Sahid, Jakarta. Saat masuk hotel, ketemu Zarmansyah (wartawan JP juga). Dia juga akan menghadiri konferensi pers, tapi beda acara dan beda ruangan dengan saya. Ternyata di hotel itu juga ada Pak Dahlan (Pemimpin Redaksi JP).

Ceritanya, konferensi pers saya diundur sejam. Saya keluar ruangan, di dekat lift ketemu Pak Dahlan. Dia menegur, “Dwo, ada acara apa?” tanyanya.

Saya grogi, sebab saya akan menghadiri konferensi pers peluncuran suatu produk. Model begini, hasil beritanya kebanyakan jelek. Wartawan suka datang ke acara begini, sebab sering ada amplop uang transport dari panitia. Ini bukan sogokan, tapi uang ala kadarnya saja. Kami anggap ‘vitamin’. Mengimbangi tugas-tugas liputan hard news yang menguras tenaga dan pikiran..

Saya jawab sejujurnya, “Ada konferensi pers peluncuran produk, Pak.” Saya tidak berani bohong.  Dalam hati saya: Sial… Pak Dahlan pasti tahu, saya kesini hanya cari ‘vitamin’.

Tapi perhatian Pak Dahlan bukan ke liputan. Dia kelihatan tergesa-gesa. “Dwo, kamu punya uang kecil?” Uang di kantong saya Rp 7 ribu. Saya mereka-reka, uang sekecil berapa? Biar gak malu-maluin, saya bertanya, “Butuh berapa, Pak?” Ternyata Rp 50 ribu. Tuh… kan. Kirain uang parkir.

“Sebentar, Pak,” kata saya sambil beranjak pergi. “Cepat, dwo.. saya tunggu disini, ya,” katanya. “Siap, pak....”

Mungkin Pak Dahlan mengira, saya akan mengambil uang di ATM. Di dalam hotel ada ATM beberapa bank. Tapi, saya bergegas masuk Prambanan Room, tempat Zarman mengikuti konferensi pers yang sedang berlangsung.

Saat Zarman serius mencatat, dia saya dekati. “Man, kamu dicari Pak Dahlan di luar,” kata saya.

Kontan, Zarman berdiri, meninggalkan acara. Keluar bersama saya. Mungkin juga dia grogi, mengikuti acara memburu ‘vitamin’.

Setelah kami berada di dekat Pak Dahlan, saya katakan, “Uang saya tidak cukup, Pak. Siapa tahu Zarman punya.” Pak Dahlan kini memandang ke Zarman, “Ya, punya Rp 50 ribu, Man?” tanya Pak Dahlan. Zarman tertegun, kelihatan bingung.

Untungnya, Zarman mengeluarkan dompet. Dia hitung uang ribuan dan lima ribuan, jumlahnya pas Rp 50 ribu. Dia serahkan ke Pak Dahlan. “Nanti kamu minta ganti ke Endang, ya,” kata Pak Dahlan sambil pergi. Yang dimaksud Endang, bagian keuangan JP Jakarta.

Zarman memandang ke saya, “Jiancuk… awakmu mblusukno (menjerumuskan) aku,” katanya.

Saya menjawab: “Ini kepentingan bos kita, lho,” sambil saya mengeluarkan dompet: Kosong. Saya tunjukkan pula Rp 7 ribu di kantong celana. Sejenak kemudian, kami tertawa terbahak-bahak.

Tapi, kami penasaran, buat apa Rp 50 ribu bagi Pak Dahlan? Kebetulan, Pak Dahlan belum jauh. Dia celingukan, kayaknya mencari seseorang. Kami intip dari jauh.

Lantas dia mendekati seorang pemuda berseragam petugas hotel. Mencoleknya, lalu menyalami. Petugas hotel seperti kaget, karena saat salaman di tangannya ada sesuatu. Petugas bergaya menolak, Pak Dahlan mundur. Lalu petugas membungkuk. Saya bergumam sendiri, “terima kasih… terima kasih…” Zarman ketawa.

Saya dan Zarman lalu kembali ke acara masing-masing. Bubar konferensi pers, saya dicegat Zarman di pintu keluar ruangan. Wajahnya kelihatan suram. “Apes aku dwo, ternyata kosong,” ujarnya.

Saya mengerti maksudnya: Acara konferensi pers yg dia hadiri tidak ada vitaminnya. “Awakmu oleh piro (kamu dapat berapa)?” tanyanya, sambil mengamati map yang saya bawa. Dia sudah hafal, di balik map pasti ada vitamin.

Wah… saya tak bisa menghindar lagi, nih. Amplop yang diselipkan panitia di dalam map, belum sempat saya amankan. Map saya buka, tampaklah amplopnya. Zarman bersemangat, “Sini, gantikan uang saya tadi,” ujarnya.

Supaya tidak dilihat khalayak, kami bersama-sama menuju ke toilet. Disana amplop saya sobek, Zarman tetap lengket di depan saya. Isinya Rp 50 ribu.

“Nah… pas,” kata Zarman dengan girangnya, sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangan. Saya langsung protes, “Lha aku oleh opo?” (Lantas, aku dapat apa?).

Kami saling berpandangan. Akhirnya kami sepakat, itu dibagi dua.

Kami lantas meninggalkan hotel, jalan bersama menuju parkir motor. Saat jalan, saya diganggu perasaan curiga, tidak mungkin acara Zarman tidak ada vitamin.

Tapi… ya sudahlah. Yang penting, saya dan Zarman, dua penipu yang sama-sama suka bergurau ini, rukun. Dua penipu memacu motornya, mencari mangsa lain… (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.