Oalaaa… Wartawan Gombal


Februari 1992, Koran Pelita memuat berita singkat: Wakil Ketua Litbang DPP PDI (saat itu belum pakai P), Berar Fathia, akan mencalonkan diri sebagai Presiden RI.


Zaman itu (Orde Baru) Berar bisa dianggap gila. Pak Harto terlalu kuat. Apalagi PDI ternyata tidak mendukung Berar. Di berita: Ia akan menggelar konferensi pers, esoknya.

Berita itu singkat, nyempil di halaman dalam, tak terbaca kawan-kawan dari pagi sampai sore. Jelang malam, Nani membacanya. Ia lantas berteriak-teriak: “Dwo... ini ada orang gila. Segera buat boks sekarang. Kita dahului sebelum konferensi pers, besok,” perintahnya. Saya lihat jam: pk 20.10. Nyaris mustahil.

Inilah salah satu doktrin hebat JP: Dahului lawan, liputan tuntas. Dahului lawan berarti: Saat konferensi pers besok, semua koran se Indonesia tak perlu menulis itu lagi. Sebab materi sudah dimuat di JP.

Liputan tuntas: Wawancara intensif, ditulis dalam bentuk features (boks) dan ini bagian saya.

Hasilnya pasti bakal dahsyat. Bukan hanya koran yang mati langkah, tapi majalah (versi features) juga bakal klepek-klepek. Semua lawan, habis....

Kantor redaksi Jakarta Jalan Prapanca malam itu sibuk. Nani teriak-teriak, mengerahkan seluruh personil, cari alamat Berar. “Cepat.... cepat.... bantu dwo,” teriaknya.

Saya telpon wartawan Pelita. Rasyid Sulaiman (pos DPR) gunakan telp fax, hubungi anggota PDI. Sukardi (pos Mabes ABRI) gunakan telp bagian iklan. Kabiro Edhi Aruman buka-buka buku telepon. Semua kawan bergerak, seolah mereka pemilik JP.

Pukul 21.00 lewat, Rasyid lapor: Alamat di Bekasi. Tapi tepatnya masih dicari.

Tambah malam, saya tambah gelisah. Saya hitung, andai alamat ketemu sekarang, maka saya dengan motor Suzuki A 100 tiba di lokasi sebelum pk 22.00. Wawancara sejam, minta dokumentasi foto (kalau motret, tak ada cetak foto yang buka 24 jam). Balik kantor sebelum pukul 23.00. Ngetik sejam. Sebelum 00.00 berita sudah sampai Surabaya. Pas.

Tapi, waktu terus bergerak. Nani mondar-mandir, sesekali melihat jam.

Pk 22.00 tetap belum ketemu. Nani akhirnya menyerah. “Sudah. Tidak mungkin lagi dikejar,” ujarnya. Lantas dia marah ke semua, termasuk saya. “Kalian ini wartawan tapi tak baca koran. Kalau kita tahu berita ini pagi tadi, pasti sekarang kita sudah dapat,” ujarnya. “Dasar wartawan gembel semua...


Sambil marah, dia mendekati saya. “Besok kamu ke lokasi sejam sebelum dimulai. Wawancara habis, sebelum ada wartawan datang,” perintahnya.

Saya: “Siap...” Dia lantas mencari Umar Fauzi (saat itu fotografer). Tapi yang dicari sudah pulang. Memang, Umar tak perlu sampai malam, sebab toko pencetak foto rata-rata tutup jam 19.00 WIB.

Nani menugasi Umar lewat pager Motorola (belum ada HP) agar hadir di konferensi pers pukul 08.00.

Tiba di rumah, saya rebahan sebentar, pukul 05.00 berangkat.

Sampai lokasi (kantor LPHAM Jalan Kalipasir, dekat Jalan Cikini) belum pukul 06.00. Bentuknya rumah kuno, besar, pintu pagar besi masih digembok.

Saya sarapan Ketoprak yang kebetulan lewat. Saya tidak boleh jauh-jauh dari rumah ini. Maka, saya makan sambil berdiri bersandar di pagar besi, tempat konferensi pers. Sampai usai makan, belum ada orang. Setelah pagar saya pukul-pukul keluar seorang pemuda. Saya tunjukkan kartu pers, lalu disilakan masuk.

Berar datang kira-kira seperempat jam sebelum acara dimulai. Menyusul datang dua wartawan majalah ‘kecil’ yang saya anggap bukan pesaing. Kami wawancara tuntas, tapi cepat.

Saat acara berlangsung, saya hanya nonton. Tapi saya gelisah, Umar belum muncul. Saya lobby fotografer lain, minta foto, tapi tak digubris. Kami memang bersaing.

Pukul 09.00 saya keluar mencari telpon umum. Saya telepon kantor, kebetulan diterima Nani. Saya lapor kondisi, dia marah-marah dan perintahkan saya : Harus dapat foto, terserah apa pun caranya. “Wartawan gombal semua,” ujarnya. Entah, siapa yg dimaksud gombal, saya atau Umar.

Segera saya lobby fotografer lagi. Tetap sulit. Fotografer Media Indonesia menyarankan, saya ke kantor dia, menemui sekretaris redaksi, beli foto dia. Sedangkan doktrin JP: Terserah apa pun caranya, asal jangan beli.

Waktu saya me-lobby, pager bergetar. Isinya: Umar minta petunjuk arah ke lokasi acara. Saya langsung keluar menuju telepon umum, kirim arah jalan ke pager Umar.

Balik ke konferensi pers, acara sudah bubar. Maka, saya tahan agar Berar tidak pulang. Caranya, saya nggedabrus, harus membuat dia tertarik.

VERSI UMAR FAUZI

Umar kepada saya cerita, semalam ia sama sekali tidak menerima perintah Nani. “Pager-ku meneng nggeletak, koyok iwaklele mati,” ujarnya dengan gaya mirip pelawak Doyok. Ini diceritakan setelah liputan. Pager dicopot dari pinggang, dilempar ke meja. “Lho, lak koyok iwak lele mati, ta,” ujarnya dengan dada membungkuk, tangan menunjuk pager. Saya manggut-2 saja.


Pagi itu dia ke kantor karena mau utang (bon sementara) ke Mbak Endang, bagian keuangan. Dijawab Endang, tunggu hasil tagihan iklan, siang nanti. Karena merasa belum ada tugas, sambil menunggu, dia masuk ruang redaksi.

Pilih komputer, Umar main digger (game zaman itu). “Sekilas, di belakang saya ada cewek tapi cuma kelihatan rambutnya, sebab terhalang sandaran kursi. Saya kira cewek bagian iklan,” katanya. Cewek dan Umar duduk saling membelakangi. Sama-sama main digger.

Ketika telepon kantor berdering (dari saya) cewek itu mengangkatnya.

Umar terkaget-2. “Sebab cewek iku ternyata Mbak Nani,” katanya. Lebih kaget lagi, Nani marah-marah sambil menyebut-nyebut nama Umar. “Dasar, wartawan gombal semua,” teriak Nani sambil membanting gagang telepon.

Pada saat bersamaan, Umar berdiri, beringsut berniat kabur. Tapi telat. Justru ia langsung berhadapan hidung dengan Nani.

Sejenak mereka sama-sama tertegun. Nani berkacak pinggang. Wajahnya memerah, melihat komputer Umar bergambar digger.“Ternyata kamu ngumpet disini, ya. Main digger. Cepat pergi, wartawan gombal....” teriak Nani menggebrak meja.

Umar melompat menuju pintu. Kabur…

Tapi, ia balik lagi. Tas kameranya ketinggalan. Sial banget. Saat mengambil tas itulah dia melirik komputer Nani. Gambarnya sama: Digger.

Nani tambah panas. Berusaha mencopot sepatunya, sepatu hak tinggi. Tapi saat sepatu hendak dilemparkan, Umar sudah lari, melabrak pintu, ngaciiir….

Nani masih mengejar. Dengan langkah dingklang (terseok-seok) karena pakai sepatu tinggi sebelah, Nani merangsek ke pintu. Saat pintu dia buka, Umar sudah menyelinap di halaman parkir. Luar biasa...

Vespa tua Umar distarter gak hidup-hidup. Sebelum Nani nyusul ke halaman, membawa sepatu, Umar mencengkeram kopling. Masuk gigi dua Vespa didorong sambil lari.

Vespa akhirnya melaju setelah terbatuk-batuk. Utangan gak dapat, Umar nyaris dapat sepatu.

MASIH ADA GOMBAL

Umar ketemu saya, ketika saya masih ngobrol dengan Berar. Wajah Umar kelihatan kuyu. Saya menggerutu, “Suwene, Mar... Bu Berar nunggu sejam luwih.”

Eee… dia membalas sengit, “Sampeyan ojo cuma nyalahno wong thok. Aku iki gak ditugasi opo-opo, kok moro-moro diclatu Nani.”

Berar ternyata mengerti bahasa Jawa. Dia: “Sudah, sudah.. jangan berdebat. Ayo foto, saya mau cepat ke kantor,” katanya.Umar beraksi dengan kameranya.

Saya sedih, karena gambarnya pasti jelek, karena tak ada suasana konferensi pers.

Umar ternyata memikirkan itu juga. Setelah beberapa jepretan, ia berhenti lalu celingukan. Ada tiga pembantu wanita yang mengemasi sampah. “Ayo, mbak... kalian duduk disini, menghadap kesana,” kata Umar, jadi sutradara.

Ada lagi dua lelaki, mungkin office boy, digeret Umar supaya ikut duduk berderet di kursi yang tadi untuk wartawan. Sedangkan Berar diatur, duduk di tempatnya bicara tadi, di depan mikrofon.

Dalam perjalanan pulang, sama-sama naik motor, saya usul, foto pembantu dan office boy sebaiknya tak usah dicetak. Bisa bahaya. Tapi pembicaraan tidak efektif, sebab kami sama-sama nyetir motor. Lantas kami berpisah, liputan lagi ke tempat lain.

Jelang sore saya ngetik, Umar datang langsung membuat kopi di dapur. Nani muncul, mendekati saya, “Bagaimana hasilnya, dwo?” Saya jawab tegas, “Pokoknya semua koran lain kalah di edisi besok.”

Tak puas, Nani mendesak, “Mengapa bisa begitu?” Saya : “Analisis saya berdasar back ground Berar, dia memang setengah gila. Dan, wartawan lain tak wawancara sedalam ini.” Wajah Nani pun tampak ceria.

Dia lalu mencari Umar. Bakal seru, nih…

Begitu ketemu, Nani hanya tanya foto Berar. Tidak tanya lain-2. Dari jauh saya melirik Umar mengeluarkan beberapa foto Berar sendirian dari tasnya yang besar. Sudah betul.

Tapi Nani minta lebih. “Mana yang lain? Mana yang konferensi pers?” Umar ogah-ogahan merogoh tasnya, mengeluarkan beberapa foto lagi. Aduh, biyung....

Nani tertegun memandangi foto-foto 'konferensi pers’. Wajahnya merengut sambil geleng-geleng. “Ini bukan konferensi pers, tapi foto babu-babu,” teriaknya sambil membanting foto ke meja.

Umar berusaha menjelaskan, tapi Nani keluar kantor, pergi begitu saja sambil mengumpat-umpat.

Umar tak mau kalah, pergi juga. Entah kemana.

Saya ambil foto-foto Berar yang sendirian, saya serahkan ke Totok (saat itu OB) untuk dibawa ke bandara. Di bandara nanti Totok akan titipkan foto-foto itu ke penumpang pesawat tujuan Surabaya. Di Bandara Juanda, Surabaya, orang JP menjemputnya. Penjemput akan tahu ciri-ciri orang yang dititipi Totok, setelah Totok telepon langsung dari bandara Soekarno-Hatta Jakarta ke kantor JP Surabaya. Begitulah 'teknologi' JP kirim foto Jakarta-Surabaya saat itu.

Saat saya masih ngetik, pager bergetar. Pesan dari Umar: “Ditunggu Tunik di tempat biasa.”

Pekerjaan selesai, saya meluncur ke Biliar Rodeo di Blok M. Salah satu score girl langganan kami bernama Tunik.

Begitu kami ketemu, saya teriak: “Wartawan gombal....” Kami terbahak-2, disaksikan para score girl yang keheranan. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.