NOVEL 728 HARI (21) Inilah Gejolak Asmara di 728 Hari


Cinta asmara di novel 728 Hari, spesifik-kontradiktif. Spesifik artinya khas, karena salah satunya Odapus (Orang dengan Lupus). Kontradiktif, cinta segi tiga dengan karakter para pelaku yang kontras.
--------------------

Tulisan ini tidak menceritakan materi cerita dalam novel. Ini analisis asmara novel setebal 336 halaman itu. Bagi yang sudah baca novelnya, ini sekadar ulasan. Bagi yang belum baca, sebagai persiapan.

Analisis menyangkut karakter para pelaku utama percintaan. Strategi cinta mereka. Gaya asmara mereka.
Okay... Ada dua lelaki istimewa sepanjang hidup Eva Meliana. Ryan dan Nanan. Sama-sama tampan dan tegap.

Ryan berkulit putih bersih, tinggi 168 Cm. Nanan berkulit sedikit lebih gelap, tinggi 175 Cm. Sama-sama cerdas. Berasal dari kelas sosial berbeda. Ryan middle up, Nanan middle low.

Tiga tokoh novel 728 Hari (Eva, Ryan, Nanan) ketemu di satu lokasi: SMAN 71 Jakarta. Bertemu pada acara yang sama pula: MOS (Masa Orientasi Siswa). Waktunya juga sama: Menjelang memasuki tahun ajaran 1990-1991 pada Juni 1990.

Eva dan Ryan sama-sama calon siswa baru, peserta MOS. Sedangkan Nanan senior mereka, siswa kelas dua, pengawas MOS.

Teknis pertemuannya bertolak belakang. Eva-Ryan halus romantis. Pake surat-suratan gaya jadul. Eva-Nanan kasar cenderung bullying. Pake bentak-bentakan segala.

Mereka bertemu head to head (Eva-Ryan, Eva-Nanan) di hari yang sama, tapi jam berbeda.
Ketika itu, Eva sudah tahu dirinya kena Lupus. Mental Eva sebenarnya sudah merosot, nyaris ke titik nol. Eva tidak menyembunyikan penyakitnya kepada semua orang. Tepatnya, tidak bisa disembunyikan. Sebab,

Lupus melarang keras dia kena matahari. Maka, kemana-mana dia selalu pakai payung. Dan, Eva terus terang mengatakan ke semua orang: Dia Lupus.

Tapi, semua orang mengabaikan Lupus. Karena tidak paham. Jangankan siswa, Ryan dan Nanan, guru pun tak mengerti. Bahkan, sebagian dokter (pada 1990) belum tahu Lupus. Penyakit imunitas ini masih baru masuk Indonesia

Cerita mengalir lembut.

Ryan dan Nanan bersaing ketat mencuri perhatian Eva. Gaya dua cowok remaja ini kontradiktif. Ryan agresif. Nanan datar. Ryan atraktif, penuh daya tarik. Nanan afektif, cenderung mengasihani Eva yang sering pingsan.

Agresivitas Ryan bagai menggedor semangat remaja Eva. Pedekate Ryan yang atraktif. Cara Ryan ‘nembak’ yang berani. Eva terkejut-kejut karenanya.

Sedangkan, afektivitas Nanan menimbulkan Eva muak. Eva sangat tidak suka dikasihani. Apalagi, pertemuan awal Eva-Nanan pada situasi sangat jelek. Tidak tampak sinyal ketertarikan antar mereka.

Yang jelas, Eva-Ryan mesra. Cinta mereka pun bersemi. Berbunga-bunga. Slow but sure, Eva bangkit dari keterpurukan mental. Hari-harinya jadi selalu indah.

Sementara, si Nanan selalu muncul. Nggak ngomong, nggak menggoda Eva. Tapi dia selalu ada, nongol masuk dalam cerita. Misalnya, dia menolong Eva pingsan, tanpa Eva tahu. Nanan bagai cowok tanpa kata.
Dalam bahasa orang Jawa Timur, Nanan ini mlipir.... Bergerak mengendap-endap. Mendekati sesuatu tanpa suara.

Kendati, pembaca bisa curiga, bahwa Nanan kayaknya ada sesuatu terhadap Eva. Meskipun, alur cerita juga tidak menggiring pembaca bahwa ada apa-apa dari Nanan terhadap Eva.

Andai, Nanan naksir Eva, maka itulah kesia-siaan.

Sebab, bukankah asmara perlu sinyal? Bukankah panah asmara harus mengarah pada area target yang jelas? Bukankah wanita selalu menunggu, apa maunya pria yang mendekat?

Naluri sebagian pembaca mulai mengarah ke persaingan cinta, ketika Eva pingsan kedua kalinya di sekolah. Nanan berniat mengantarkan Eva ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Tapi batal, karena dilarang guru. Nanan harus kembali ke kelas.

Disitu naluri pembaca sudah kelihatan bentuknya, walau masih samar-samar.

Persaingan cinta segi tiga kian jelas setelah Nanan sendirian membezuk Eva di RSCM. Disini Nanan langsung berhadapan dengan ibunda Eva. Sikap Nanan kini jelas. Sinyalnya kuat.
Ryan-Nanan bersaing. Bentuk persaingan beda gaya.

Saya menganalogikan, Ryan seekor cheetah jantan, Nanan kuda jantan. Mereka beradu lari mengejar burung merak betina.

Mengapa mereka dianalogikan begitu? Apa maksudnya? Maaf... Kita tunda dulu penjabarannya, karena tulisan ini terlalu panjang. (bersambung)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.