Mengecoh Dahlan Iskan


Kawan-kawanku, yang lama maupun yang baru, cerita ini terjadi saat saya belum lama jadi wartawan Jawa Pos (JP) di Surabaya. Kira-kira akhir 1984. Saya mengecoh Pemred JP, Pak Dahlan Iskan (DIS) tapi saya malah kerepotan setengah mati.


Zaman itu, Pak DIS adalah Pemred yang sangat rajin dan galak. Sebelumnya, saya sudah jadi wartawan Radar Kota. Pemrednya Pak Zawawi Lematang, tak serajin dan segalak Pak DIS. Contoh, Pak DIS setiap sore, seperti tak pernah lelah, berjaga-jaga di pintu masuk kantor JP Surabaya, Jl. Kembang Jepun. Tujuannya satu: Tanya ke setiap wartawan yang masuk, "Beritamu apa?”

Selalu begitu. Setiap hari. Tak pernah lelah. Tak pernah bosan.

Kalau ada wartawan menjawab: "Konferensi pers Dharma Wanita, persiapan acara…" Pak DIS langsung memotong: "Itu bukan berita. Apa lagi?" Wartawan cepat jawab: "Ada press release dari Humas Walikota…" Pak DIS memotong lagi: "Juga bukan berita. Apa lagi?" Bila wartawan jawab : "Tak ada lagi, Pak.” Maka, Pak DIS langsung angkat tangan tinggi-tinggi : "Sudah, kamu pulang saja. Hari ini kamu bukan wartawan Jawa Pos".

Suatu hari, sampai pukul 16.00 WIB saya gak punya berita blas. Kabur (pulang) berarti menyerah. Ke kantor berarti siap malu, diusir. Kabur yang ini beda dengan kabur orgasme. Kabur yang ini sama sekali tak bisa terpingkal-pingkal. Malah sedih, kebayang bakal dipecat. Maka, saya pilih ke kantor dan "Siap Malu”.

Jelang jam 16.30 WIB sayapun tiba di kantor. Motor saya parkir di warung kopi, persis seberang kantor. Sambil ngopi, saya awasi pintu masuk kantor. Pak DIS sandar di meja front desk, menyapa setiap wartawan yang masuk. Pak DIS kadang ngumpet, tapi saya tahu dia ada. Buktinya, wartawan yang baru masuk selalu tertahan sejenak di dekat pintu. Satu demi satu kawan-kawan saya masuk. Artinya, mereka punya berita beneran (bukan abal-abal).

Berita beneran menurut DIS adalah berita hasil wawancara dengan narasumber. Ada liputan mengenai situasi tempat acara berlangsung, dan dilengkapi dengan deskripsi singkat peristiwa. Dan - ini yang sulit - harus berbeda dg liputan wartawan lain, terutama kompetitor (saat itu Surabaya Post). Itu baru berita.

Sekitar sejam saya tunggu, pria setengah baya masuk kantor, salaman dengan Pak DIS lantas mereka tertawa-tawa. Mereka ngobrol disitu. Inilah kesempatan. Hari hampir gelap, Bung. Kalau tak maju kapan lagi?

Saya maju. Saat menyeberang jalan, dada saya bergetar kencang. Spekulasi habis. Andai gagal, malunya tambah fatal. Sebab ada tambahan penonton: Tamu Pak DIS.

Tapi kalau tak disapa Pak DIS, semuanya bakal beres. Saya akan cari berita via telepon kantor.

Ternyata lolos. Perhitungan saya tepat. Pak DIS memang melihat saya, tapi tak menyapa. Dia malah senyum, sambil tetap ngobrol dengan sang tamu tadi. Saya langsung menuju mesin ketik, mengetik "Surabaya, JP”. Sudah. Tujuannya supaya mesin ketik itu tak dipakai waratwan lain. Maklum, jumlah mesin terbatas. Lanjut ke meja telepon, ngebel sana-sini.

Saat ngebel dan belum dapat berita, saya lihat Pak DIS naik tangga, menuju ruang redaksi. Dari jauh dia lihat saya. Pasti dia mau menyapa. Segera telpon saya letakkan (cari berita via telpon dilarang keras, kecuali untuk keperluan konfirmasi) dan saya bergerak menuju toilet.

Kini saya benar-benar terdesak. Saya bakal dipermalukan di khalayak ramai. Takut sekaligus menyesal. Kalau tahu begini jadinya, mending tadi pulang saja.

Betapa pun lamanya di toilet, toh saya harus keluar juga. Begitu pintu saya buka, Pak DIS sudah siaga skitar dua meter dari toilet. "Beritamu apa, dwo?" Wajahnya jelas kelihatan marah. Reflek saya jawab : "Profil pembunuh yang tertangkap kemarin, Pak". Ditanya lagi: "Sumbernya siapa?" Saya berusaha tegas: "Keluarganya, Pak.”

Seketika wajah Pak DIS berubah berseri-seri. Dia lantas berteriak keras ke ruang dalam: "Dirman.... Dirman.... Ini boksnya. Berita dwo, profil Pembunuh." Mas Dirman, redaktur kota, berdiri lalu basa-basi menghampiri Pak DIS. "Siap, Pak," ujarnya. Kemudian Mas Dirman mendekati saya, "Cepat diketik, dwo. Deadline kita maju, lho."

Saya segera menuju mesin ketik, mencabut kertas bertuliskan "Surabaya, JP” dan menggantinya dengan kertas baru. Sebab, boks tak perlu tanda "Surabaya, JP”. Baru saya minta izin, "Saya keluar makan dulu, Mas." Diizinkan Mas Dirman, "Cepat, dwo. Deadline maju, ya," katanya mengulang.

Sebenarnya, sejak siang saya sudah memburu berita Pembunuh, tapi gagal. Alamat yang saya minta dari Pak Eddy (wartawan yang ngepos di Polda Jatim) di sebuah gang di Kalimas ternyata rumah kosong. Tanya Ketua RT, RW, dan beberapa pemuda disana, semua menyatakan tak tahu. Yang begini kan tidak mungkin lapor ke Pak DIS.

Motor saya starter, berangkat ke Kalimas lagi. Saya Wartawan Republik Indonesia. Masak cari alamat orang saja tak bisa? Kalau hanya cari berita via telepon, siapa yang tak bisa? (maaf, ini hanya utk ngerem-ngerem hati agar saya semangat).

Tiba di Kalimas, saya gunakan cara begini: Masuk dari rumah ke rumah, tanya alamat Pembunuh. Saat saya datang siang tadi, sebenarnya saya curiga dengan orang-orang yang saya tanya. Gaya mereka cenderung menghindar. Maka, saya yakin alamat itu di sekitar sini. Cuma, tadi saya tidak habis-habisan.

Belum sampai 10 rumah saya masuki, seorang ibu berbisik: "Dulu rumah keluarganya disitu (rumah kosong), sekarang pindah kesana,” bisiknya. Jarak rumah yang ditunjuk dengan rumah kosong sekitar 200 meter, masih kawasan Kalimas juga.

Ibu pemberi info (keberatan namanya disebut) memberitahu saya, karena, katanya, kasihan sekaligus kagum pada profesi wartawan. Dia ingin kelak anaknya jadi wartawan. Dia sebenarnya sudah tahu bahwa siang tadi saya mondar-mandir di kawasan pemukiman kumuh itu untuk mencari alamat pembunuh.  Cuma, karena saat itu dia tak saya tanya, dia juga diam saja.

Jalan masuk ke rumah yang saya tuju, sangat sempit. Lebarnya sekitar 2,5 meter dg got selebar sekitar 30 Cm di sisi kiri dan kanan. Tampak ibu-ibu duduk di pinggir jalan, sambil petan (mencari kutu). Puluhan anak main berlarian di gang. Maka, motor saya tuntun (dorong) khawatir nabrak anak-anak. Tapi, seorang ibu menyarankan, "Dinaiki saja, Mas," ujarnya. Saya hidupkan mesin, jalankan motor sangat pelan.

Tiba di rumah cat hijau, motor saya hentikan. Ini rumahnya. Lebarnya sekitar 3 meter. Pintu masuk terbuka, mepet dengan jalan (jarak dg pinggiran jalan tak sampai semeter). Atapnya seng yg ujungnya mengarah ke jalan. Saat saya berhenti disitu, anak-anak yang semula bermain, beralih perhatian, berbondong-bondong mengikuti saya. Ibu-ibu menghentikan petan, memperhatikan saya.

Saya sadar, kemarin terjadi penggerebekan polisi disini, menangkap pelaku pembunuhan. Sekarang, saya dg jaket hitam, hendak masuk ke rumah ini. Seorang ibu menyarankan: "Masuk saja, Mas. Orangnya ada di dalam," ujarnya. Tak lama keluar seorang lelaki usia sktr 60, menyilakan saya masuk. Dia memperkenalkan diri sebagai ayah A (pembunuh). Pandangan dia penuh curiga.

Ketika saya perkenalkan diri sbg wrtwn, dia kontan membuang muka. "Maaf ya Mas, saya tidak mau ditanya-tanya wartawan," tegasnya. Tanpa menunggu disilakan duduk, saya duduk di kursi tamu. "Begini, Pak. Semua koran hari ini menulis berita jelek tentang anak Bapak. Itu semua versi polisi.... " Dia langsung memotong, "Tidak benar ditulis anak saya residivis, sadis, dan macam-macam."

Itulah jawaban yg saya tunggu. Maka, saya timpali, "Saya percaya bahwa setiap manusia memiliki sisi baik dan buruk. Masa lalu saya juga kelam. Saya kenal X (preman Sby Utara, termasuk Kalimas). Dia sangat setia kawan. Kini saya ingin menulis sisi baik anak Bapak." Dia manggut-2. Tapi, dia tidak langsung bersedia diwawancarai. Dia minta, saya tidak mencatat. Saya, oke saja.

Wawancara berlangsung alot. Saya paham, keluarganya malu. Apalagi, saat wawancara, orang bergerombol di gang sempit, persis dekat pintu masuk rumah.

Data cukup, saya keluarkan kamera poket (kecil) dari tas. Sebab, berita features sepaket dengan foto. Ini aturan di JP.

Mendadak suasana berubah tegang. Bapaknya membentak, menolak dipotret. Bentakan itu membuat tiga pemuda yang semula di luar rumah, masuk mendekati saya.

Sebelum dipukul, saya katakan setengah berteriak: “Awas, saya Wartawan Republik Indonesia. Saya tidak memotret.” Saya masukkan lagi kamera ke tas. Rupanya mereka grogi (mungkin gara-gara tambahan kata Republik Indonesia itu). Toh, saya tidak jadi memotret.

Saya pamit diiringi pandangan mata tidak suka semua orang.

Di atas motor, di ujung gang, saya potret suasana gang. Kilatan lampu membuat orang berteriak-teriak marah. Tapi saya sudah tancap gas, tanda sukses.

Di kantor sekitar  21.00, Mas Dirman marah. "Kamu makan di Sidoarjo, ya?” tanyanya. Gelagatnya benar-benar marah, meskipun perkataannya kedengaran guyon. Pak DIS, apalagi. Menggebrak-gebrak meja. Saya, seperti biasa, klewas-klewes pura-pura repot.

Cerita saya hajar jadi tulisan di mesin ketik, sampai kertas melompat. Sebab spasi sudah habis, handel mesin masih saya kokang. Cak Lan, juru cetak foto nggrundel, katanya foto terlalu gelap. Akhirnya boks dan foto langsung ke layout, tanpa edit lagi. Pak DIS sempat lihat foto: Gelap (suasana malam) yg berarti bukan diambil siang tadi, seperti sudah saya katakan. Belum sempat dia bicara, saya sudah bergerak mengantarkan kertas naskah ke bagian layout.

Pulang nyetir motor, saya menyanyi. Lagunya Rhoma, “Ya, nasib... ya nasib.... mengapa begini....” Maunya mengecoh Pak DIS, ee... malah pontang-panting. (diposting di FB Group M-JP 24 April 2011)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.