Masa Awal Jadi Wartawan (2-Habis)


Hanya boleh dibaca, sebab rahasia pribadi saya.
----------------------------------            
            Surat saya paling berkesan di masa awal saya menjadi wartawan, isinya begini:
Surabaya, 11 Agustus 1986.
            
Ibuku sayang… kesenanganku membaca novel berguna  sekarang. Aku sudah menjadi wartawan Jawa Pos (JP) di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Silakan Ibu membaca berita tulisanku yang setiap hari dipublikasikan di bagian bawah halaman koran JP, sudah mirip novel. Aku akan menafkahi keluargaku dengan menulis.
            
Kuliahku lancar. Gajiku cukup. Temanku semua baik. Ada teman sekerja cewek yang rumahnya dekat kantor. Namanya: Lady. Aku dan teman-teman lain sering diajak ke rumahnya. Aku juga berkenalan dengan bapaknya Lady. Sayang, aku tak dengar namanya saat kenalan. Aku segan  bertanya ulang. Tapi dia dan anaknya, orang baik.
            
Ibu jangan menolak uang kiriman dari aku. Uangku sekarang banyak. Malah aku mau kirim lebih banyak lagi. Tenang aja, Bu. Salam hormat dari anakmu.

Awas... Dicakar Kucing
            
Beberapa hari setelah surat kukirim ke rumah Ibu di Malang (kota terbesar kedua di Jawa Timur), adikku menelepon aku ke kos-kosan. “Jika Mas (panggilan untuk kakak pria) liburan, Ibu ingin Mas berkunjung ke Malang,” katanya. Tidak biasanya Ibu memanggil saya pulang. Biasanya, meskipun saya tak pulang sampai berbulan-bulan, dia tenang saja. Mungkin kali ini ada sesuatu yang penting. Maka, saat saya libur, saya pulang juga.
          
“Apakah Lady itu cantik, nak? Namanya sama dengan bintang film yang cantik itu,” sambut Ibu, begitu saya tiba di rumah. Saya tertegun. Segera saya ingat bahwa nama Lady sudah saya sebut di surat. Wah, Ibuku salah paham. Saya baru sadar, bahwa perihal ini Ibu sering berlebihan. Beberapa kali dia menyarankan saya agar segera menikah.

Suhu udara sejuk Kota Batu (rumah Ibuku, sekitar 16 kilometer dari Malang) jadi pudar kesejukannya. Pagi itu suhu udara sekitar 17’ C. Kelihatan dari termometer yang tergantung di dinding. Tapi badan saya mendadak menghangat oleh pertanyaan Ibu.
            
Memandang keluar jendela,  pohon apel mulai berbunga. Bunganya sebagian masih kuncup, sebagian sudah mekar. Kumbang-kumbang terbang mengitarinya. Bunga yang mekar menawan, dikitari banyak kumbang. Mereka seperti berebut menguasai si cantik.
            
Saat saya mau bicara, Ibu sudah mendahului: “Bapaknya Lady baik sama kamu, ya? Itu pertanda bagus. Kamu kini sudah jadi wartawan, jadi pandai mendekati orang,” ujar Ibu. Segera saya jelaskan bahwa tidak ada asmara antara saya dengan Lady. Menanggapi itu, Ibu tersenyum. Kelihatan Ibu tidak yakin dengan penjelasan saya.
            
Ibu: “Tunggu apa lagi? Usia kamu cukup dewasa, kuliah hampir selesai, sudah kerja, Ibu yakin, Lady orang baik. Ayo segera dibungkus,” katanya.
            
Kemudian saya jelaskan lebih detil. Lady sering mengundang banyak temannya (terutama wartawan JP) ke rumahnya. Ada saya, Choirul Shodiq, Sugeng Irianto, Suro. Kami sering diajak makan bersama di rumah Lady. Jarak antara kantor kami dengan rumah Lady hanya beberapa menit jika naik motor. “Kelihatannya, Suro tertarik pada Lady,” terang saya.
            
“Kamu takut bersaing?” tanya Ibu. Kali ini mata Ibuku lurus ke mataku. Segera saya jawab, “Bukan, Ibu. Aku tidak menyukai Lady, meskipun dia orang baik. Fisik, karakter, dan lain-lain aku gak suka.” Pandangan mata Ibu ke saya perlahan-lahan berubah melunak. Lantas dia meninggalkan pandangannya dari mata saya.
            
Lantas saya pertegas lagi, “Suro selalu berusaha mendekati Lady, sebaliknya Lady juga menyukai Suro. Sedangkan aku, cuma menemani mereka.”
            
Reaksi Ibu datar saja. Dia sudah tidak emosional lagi. Sambil mengelap meja makan, ia berkata, “Kalau begitu, jangan mendekati sepasang kucing yang sedang mabok asmara.” Unik juga filosofi Ibuku, mengaitkan hubungan antar manusia dengan kucing. Penasaran, aku bertanya, mengapa? Dia menjawab enteng, “Kamu bisa dicakar.”

Bukan Sekadar Obat Nyamuk

Sebenarnya ada beberapa hal rawan yang tak saya jelaskan kepada Ibu. Pertama, suatu hari Suro bercerita ke saya, bahwa dia sudah berkeluarga dan punya dua anak. Keluarga Suro untuk sementara waktu masih tinggal di Yogya (Jawa Tengah). Karena Suro merasa karirnya sebagai wartawan JP di Surabaya, belum mapan. “Yen aku wis mantep, mesti keluargaku boyong mrene,” ujarnya dalam bahasa Jawa. (Jika karirku sudah mapan, tentu keluargaku akan aku pindahkan ke Surabaya).

Kedua, beredar bisik-bisik di kalangan karyawan JP bahwa atasan saya, Pak Lanang juga menyukai Lady. Tapi, saya belum jelas, menyukai dalam konteks yang bagaimana. Sebagai pemimpin, Pak Lanang memang harus menyayangi semua bawahan. Saya amati, Pak Lanang pemimpin ideal. Dia sangat menguasai bidang jurnalistik. Tegas. Penuh perhatian terhadap kinerja wartawan.
            
Saya berkesimpulan, Suro tidak serius ke Lady. Dia jelas lebih serius ke keluarganya. Buktinya, dia berencana memindahkan keluarganya dari Yogya ke Surabaya. Jadi, Suro mendekati Nani bukan dalam konteks pacaran. Mereka hanya berteman.
            
Sementara, jika saya diajak Suro  ke rumah Lady, saya ikut saja. Tentu saya bukan ibarat obat nyamuk (istilah bagi pemuda yang mengantarkan temannya berpacaran, lalu menunggu di dekatnya, seperti obat nyamuk yang membakar dirinya untuk kepentingan orang lain). Sebab, setiap kami datang, Lady selalu memanggil teman cewek di sekitar rumahnya untuk diperkenalkan ke saya. “Rini, ini Mas Djono, wartawan Jawa Pos, ayo berkenalan. Silakan ngobrol,” ujar Lady, meninggalkan kami berdua di teras rumahnya. Sedangkan dia ngobrol dengan Suro di ruang tamu. Dua sejoli ini masing-masing hanya ngobrol, tidak lebih.

Saya sering protes ke Lady. Cewek yang dia pilihkan buat saya, kayaknya asal-asalan saja. Kadang si gemuk. Di lain waktu, cewek yang sangat kurus (tinggal tulang dan kulit). Pernah saya diperkenalkan Lady dengan cewek yang seksi, tapi umurnya tua. 
          
Dengan variasi seperti itu, saya senang mengantar Suro ke rumah Lady. Penasaran, cewek model bagaimana lagi yang bakal disodorkan Lady kepada saya. Namun, tak terjadi apa-apa antara saya dengan cewek pilihan Lady. Tidak ada yang berlanjut ke hubungan yang lebih serius.

Aduh... Aku Kepergok
            
Akhirnya hari naas bagi saya dan Suro tiba juga. Dini hari, sekitar 01.00 telepon di ruang tamu rumah Lady berdering. Keluarga Lady sudah tidur sejak sore tadi. Cewek teman Lady yang ngobrol dengan saya, juga sudah pulang. Lady keluar, mencari nasi goreng untuk kami bertiga. Suro kebetulan ke toilet. Tinggal saya sendiri di ruang tamu. Saya biarkan saja telepon berdering.

Sampai Suro kembali ke ruang tamu, telpon masih berdering. “Angkat dwo (inisial nama saya),” ujar Suro. Saya pun ogah. “Nggak. ini pasti kabar darurat. Kita tunggu saja sampai Lady datang,” jawab saya. 
         
Dering suara telepon di malam sepi itu terdengar nyaring, tinggi melengking. Suro malah menghindar, keluar ke teras.
            
Dengan niat menghentikan berisik, gagang telepon saya angkat. “Halo…. Selamat pagi,” kata saya. Sunyi. Tidak ada jawaban. Tapi saluran telepon tetap tersambung, tidak terputus. Saat gagang telepon hendak saya letakkan, mendadak penelepon disana bersuara, “Dwo, mengapa kamu disitu?”
            
Sungguh saya terkejut. Itu suara Pak Lanang. Dia juga hafal suara saya. Segera saya jawab: “Saya bersama Suro baru selesai diskusi, Pak,” Langsung Pak Lanang menutup telepon. Bisa jadi gagang telepon disana dibanting. Beberapa detik kemudian saya sadar bahwa saya tidak adil, melibatkan Suro. 'Menggigit' teman sendiri. Tapi, itu reflek.
           
Saya bergegas ke teras, mengajak Suro segera pergi dari sana. “Ayo, cepat kita pergi. Penelepon tadi Pak Lanang. Cepat... ” Ternyata Suro malah tertawa. “Hualah…. Aku sudah hafal dengan model gurauanmu,” ujarnya. Suro masuk ke ruang tamu, duduk di sofa, mengambil gitar, menyanyi. Ini serius, dia malah menyanyi.
            
Sebenarnya, bisa saja saya pulang sendiri. Tapi itu berarti tidak setia kawan. Saya menunggu sampai Lady datang, supaya saya bisa berpamitan ke dia. Di saat saya menunggu di teras, muncul Pak Lanang berjalan cepat masuk ke halaman rumah. Jarak antara kami kini hanya sekitar 10 meter, dan dia sudah langsung melihat saya.
            
Begitu sudah dekat, saya menyapa, “Selamat pagi, Pak. Saya sudah mau pulang.” Pak Lanang tak menyahut. Wajahnya muram. Jalan cepat masuk ruang tamu. Saya bergerak meninggalkan teras menuju halaman, di tempat saya memarkir motor. Tanpa menoleh lagi, saya injak pedal stater motor, lalu tancap gas, kabur. Entah, bagaimana sikap Suro.

Selamat Jalan...
            
Esoknya saya bekerja seperti biasa. Ada Lady, ada Pak Lanang, tapi saya menghindar pandang dengan mereka. Saya selesaikan pekerjaan secepatnya. Sampai batas waktu akhir pengiriman berita ditutup, Suro tidak juga datang ke kantor.

Esoknya lagi, saat saya baru masuk kantor, saya jumpa Suro. Dia membawa tas besar yang biasa digunakan untuk bepergian. Dia mengulurkan tangan bersalaman dengan saya, “Aku mengundurkan diri, dwo. Suasana kerja disini tidak nyaman,” katanya. Badannya lunglai. Wajahnya kuyu seperti kurang tidur.
            
Saya tanya, “Kamu hendak kemana?” Sambil menyeret tasnya, ia menjawab, “Kembali ke Yogya.” Saya antarkan dia sampai pintu gerbang, lalu dia naik angkot. Saya belum sempat tanya berbagai hal.
            
Saya menjalankan tugas kurang bergairah. Sampai saya tiba  di rumah pun badan rasanya lesu. Kemudian saya ambil pena dan menulis surat untuk Ibuku. Isi surat pendek seperti ini:


Surabaya, 3 Oktober 1986
            
Ibuku sayang…. Ibu jangan khawatir aku gak segera nikah. Tenang saja, Bu. Aku masih memilih calon isteri yang bisa menyayangi Ibu.
             
Lihatlah kumbang-kumbang di sekitar pohon apel di halaman kita. Mereka terus bergerak mencari bunga yang cantik mempesona. Mereka bersaing menghisap madu terbaik. Begitu juga aku.


Semua pelajaran yang kuterima dari Ibu, kini kusadari benar manfaatnya. Kini   aku baru mengerti pelajaran dari ibu, soal kucing. Sebab, sudah ada orang yang dicakar. (tamat)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.